Selasa, 01 Mei 2012

Is Beta Dead?


Beta merupakan konsep yang penting dalam akuntansi keuangan karena beta menunjukkan risiko suatu perusahaan. Beta menggambarkan besarnya perubahan harga suatu saham tertentu dibandingkan dengan perubahan harga pasar. Memahami beta perusahaan sama dengan memahami risiko perusahaan tersebut yang merupakan basis pengetahuan penting bagi akuntan. Selain itu, beta telah banyak digunakan dalam studi empiris tentang manfaat informasi akuntansi keuangan.
CAPM mengasumsikan bahwa terdapat hubungan yang linear antara premi expected risk dalam suatu aset dengan risiko sistematiknya atau beta pasar. Berdasarkan CAPM, variansi ekspektasi tingkat pengembalian hanya dapat dijelaskan oleh beta pasar. CAPM juga memprediksi perbedaan dalam expected-return beragam saham yang secara keseluruhan dijelaskan oleh perbedaan dalam beta pasar.
Fama dan French kemudian melakukan pengujian terhadap validitas CAPM dengan menganggap bahwa beta pasar tidak cukup memadai untuk menjelaskan tingkat pengembalian saham yang diharapkan. Mereka meneliti pasar modal USA untuk periode 1963-1990, dan menemukan bahwa beta memiliki sedikit kemampuan untuk menjelaskan keuntungan sekuritas.
Dengan menggunakan pendekatan regresi cross-section, Fama dan French mengkonfirmasi bahwa size, rasio E/P, DER, dan rasio B/M memiliki daya penjelas terhadap rata-rata tingkat pengembalian. Mereka juga menyatakan bahwa beta pasar itu sendiri tidak memiliki daya penjelas yang signifikan terhadap rata-rata tingkat pengembalian. Mereka kembali mengkaji penelitian mereka dengan menggunakan pendekatan time-series dan menghasilkan kesimpulan yang sama. Fama dan French berpendapat bahwa meski size dan rasio B/M bukan merupakan state-variabel, nilai rata-rata tingkat pengembalian yang lebih tinggi pada portofolio saham dengan size yang rendah dan rasio B/M yang tinggi merefleksikan state variabel lain yang tidak teridentifikasi oleh beta pasar dan menunjukkan harga dari risiko yang tidak terdiversifikasi dalam tingkat pengembalian saham. Mereka menemukan bahwa book-to-market ratio dan ukuran perusahaan (firm size) lebih signifikan menjelaskan keuntungan sekuritas. Mereka menyarankan, daripada melihat beta sebagai ukuran risiko, lebih baik melihat book-to-market ratio dan ukuran perusahaan sebagai ukuran risiko. Risiko akan meningkat dengan meningkatkanya book-to-marke ratio dan menurun dengan semakin besarnya ukuran perusahaan. Hasil penelitian Fama dan French ini menjadikan beta “mati”.
Alasan lain yang menunjukkan beta “mati” adalah penelitian Schiller (1981) yang menyatakan bahwa variabilitas harga sekuritas sama dengan variabilitas dividen. Determinan yang menentukan nilai perusahaan adalah dividen masa depan. Selain itu, asumsi bahwa beta konstan (stationary) juga kurang tepat. Apabila beta konstan, satu-satunya yang tidak pasti adalah Rmyang bersifat random.
Walaupun banyak kelemahan, CAPM tetap merupakan benchmark tentang informasi harga saham karena:
  • Beta merupakan formula untuk membuat keputusan investasi yang maksimal.
  • Sedikit teori yang menjelaskan mengapa book-to-market ratio dan ukuran perusahaan merupakan konstruk risiko yang penting.
  • CAPM dapat dikembangkan untuk mengakomodasi beta yang tidak konstan.
  • CAPM telah banyak digunakan dalam penelitian empiris untuk mengetahui respon harga sekuritas terhadap informasi akuntansi

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Kami