Selasa, 01 Mei 2012

Diversifikasi

Diversifikasi adalah suatu strategi investasi dengan menempatkan dana dalam berbagai instrumen investasi dengan tingkat risiko dan potensi keuntungan yang berbeda, bertujuan untuk mengurangi tingkat risiko dan tetap memberikan potensi tingkat keuntungan yang cukup.  Pada dasarnya, setiap orang memiliki latar belakang dan tujuan investasi yang berbeda-beda. Dalam melakukan diversifikasi, karakter instrumen investasi yang harus dipertimbangkan, yaitu: (1) potensi tingkat pengembalian (return), (2) risiko, (3) likuiditas.  Dapat kita ambil contoh antara investasi pada saham dengan deposito. Umumnya, saham memberikan tingkat pengembalian atau return yang lebih tinggi daripada deposito. Namun, risiko untuk berinvestasi pada saham cenderung lebih besar karena fluktuasi atau perubahan harga saham lebih tinggi sehingga dapat menyebabkan peluang untuk mengalami kerugian menjadi lebih tinggi daripada berinvestasi di deposito. Aspek ketiga adalah likuiditas. Maksud likuiditas disini adalah kemudahan untuk membeli dan menjual sebuah instrumen investasi. Tentunya jika berinvestasi di deposito, kita tidak dapat menguangkan investasi tersebut sewaktu-waktu karena deposito memiliki masa jatuh tempo. Sedangkan jika berinvestasi di saham, kita dapat dengan mudah menjualnya sesuai dengan keinginan kita.

Setiap orang yang melakukan investasi, pasti menginginkan investasi yang mereka tanam akan terus tumbuh dan menghasilkan tingkat keuntungan yang tinggi. Namun, tidak selamanya keinginan tersebut dapat terpenuhi akibat munculnya kondisi yang buruk, seperti harga saham tiba-tiba jatuh. Saat kita menaruh seluruh investasi kita di saham saat bursa saham sedang bearish (trend menurun), maka nilai investasi kita tentu akan turun. Berbeda halnya jika kita menaruh sebagian investasi kita pada instrumen lain, seperti obligasi, deposito, atau emas. Tentunya kerugian yang kita tanggung akan lebih sedikit dibandingkan dengan hanya berinvestasi di saham.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan diversifikasi. (1) Diversifikasi saham. Strategi diversifikasi ini akan efektif bila kita membeli saham dari sektor yang berbeda-beda. Jika kita membeli saham berbeda hanya di satu sektor, akan sangat berisiko bila sektor tersebut sedang mengalami masa bearish. Saat itu semua saham pda sektor tersebut akan cenderung turun. Strategi yang lebih baik misalnya kita membeli saham di sektor perbankan, konsumsi, dan industri. Kita tidak tahu sektor mana yang akan naik berikutnya. Dengan memiliki saham di beberapa sektor tersebut, akan membuat kita memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan saat sektor tersebut sedang naik. (2) Diversifikasi instrumen investasi. Saat kita membeli berbagai jenis saham, bukan berarti uang kita sepenuhnya aman dan bukan berarti kita bebas risiko. Pada saat bursa saham sedang bearish, hampir semua saham dipastikan akan turun. Jadi, sebaiknya kita melakukan strategi diversifikasi ke berbagai instrumen investasi, seperti melakukan investasi ke obligasi, emas, atau deposito untuk meminimalisir risiko kerugian yang mungkin akan dialami.
Kita juga tidak boleh melakukan diversifikasi yang berlebihan karena cenderung akan lebih memunculkan dampak negatif daripada dampak positifnya. Jika terlalu banyak melakukan diversifikasi, tentunya kita akan kesulitan dalam mengelola dan mengontrol perkembangan investasi kita. Disamping itu, diversifikasi berlebih tentunya akan mengecilkan potensi untuk mendapatkan tingkat keuntungan yang tinggi dari investasi yang dilakukan karena kita tidak dapat memperoleh tingkat pengembalian atau returnmaksimum bila salah satu instrumen seperti saham saat mengalami kenaikan harga.

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Kami