Selasa, 27 Juli 2010

AKTIVITAS LEISURE DAN PROSPEKNYA DI INDONESIA

AKTIVITAS LEISURE DAN PROSPEKNYA DI INDONESIA

Oleh: I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MA. *)

 

 

 

1.                  Pendahuluan

 

1.1.             Leisure dan Industri Jasa

 

Kajian yang berhubungan dengan leisure semakin berkembang pesat dan diantara bagian-bagian daripada leisure semakin menunjukan bahwa kajian leisure semakin menarik untuk didalami. Tourism misalnya, merupakan bagian dari leisure telah membawa beberapa negara di dunia menjadikan sector ini sebagai pembangkit ekonomi yang cukup berarti. Sarana-sarana dan fasilitas pendukung leisure semakin banyak disediakan baik untuk orang asing maupun masyarakat lokal.  Kegiatan kegiatan leisure juga didorong lebih pesat lagi dengan semakin meningkatnya rasa konsumerisme terhadap jasa dalam usaha manusia mencapai gaya hidup modern.

 

 

Namun beberapa kajian dari kalangan sosiolog beranggapan bahwa kegiatan leisure lebih didominasi oleh kalangan menengah dan atas. Namun secara realitas pula bahwa leisure juga merupakan kebutuhan semua orang tanpa dibatasi kelas sosial seseorang, hanya mungkin saja bentuk dari leisure tersebut yang berbeda antara orang berkelas dan tak berkelas. Jika diperhatikan gambar di atas, akan nampak jelas bahwa leisure bisa dipilah-pilah kedalam beberapa aktivitas, seperti: Tourism atau pencarian kesenangan keluar negeri, rekreasi atau relaksasi, sport atau olahraga, penikmatan karya seni dan budaya "art and culture", penikmatan media dan pelatihan, funshopping atau jalan-jalan ke mol, pertemuan-pertemuan dan even, peningmatan akan jasa jasa kesenangan.

 

Dilihat dari perspektif pencari kesenangan, maka jika dicari terlalu banyak aktivitas-aktivitas yang dapat dikaitkan dengan pencarian dan pemenuhan akan kebutuhan leisure. Dan apabila dilihat dari perspektif penyedia jasa layanan akan kebutuhan aktivitas leisure, maka semakin banyak pula aktivitas akan dapat diciptakan dan ini akan sangat tergantung seberapa banyak orang mau dan mampu berkreasi untuk mengembangkannya.

 

 

 

1.2 Leisure Perspektif Barat

1)       Free time: Leisure adalah waktu yang terbebas, terbebas dari beban kerja, terbebas dari kewajiban, dan terbebas dari segala kegiatan yang tidak menyenangkan.

2)       Unobligatory: Leisure juga dikaitkan bahwa aktivitas yang dilakukan bukan karma keharusan yang harus dikerjakan. Jika dikerjakan akan mendapatkan kesenangan dan jika tidak dikerjakan juga tidak apa-apa.

3)       Celebration: Leisure bukanlah sebuah perayaan, atau kegiatan yang dipenuhi ketegangan, tidak ada liturgi yang mengaturnya, tidak ada MC yang memandunya atau sejenis kegiatan protokoler lainnya.

4)       No monetary gain: leisure juga kegiatan yang tidak berhubungan dengan mencari namkah atau bekerja untuk mendapat uang atau imbalan jasa.

5)       Ideal state of mind: Leisure adalah pencarian sebuah ketenangan pikiran dan kedamaian.

6)       Activity: Leisure juga merupakan sebuah aktivitas atau sebuah kegiatan baik fisik ataupun mental.

7)       Experience: Leisure juga merupakan sebuah aktivitas untuk pencarian atau ekspedisi tempat-tempat yang menyenangkan.

8)       Perceived freedom: leisure adalah sebuah kebebasan.

9)       Enjoyable: Leisure adalah segala kegiatan untuk pemenuhan kesenangan

10)   Timeless: Leisure adalah waktu yang tersisa, waktu luang diluar jam kerja, tidak ada istilah terlambat atau terlalu awal seperti pada orang-orang yang sedang masuk kerja.

 

 

1.3               Hambatan Leisure

 Di Indonesia

1)       Time: Sebagian besar tidak dapat melakukan aktivitas leisure-nya diakibatkan oleh tidak ada waktu untuk melakukannya.

2)       Priorities: Kebanyakan orang juga tidak dapat melakukannya karena leisure bukan menjadi hal yang penting dalam kegiatan-kegiatannya.

3)       Money: Sebagian besar pula, mereka tidak dapat melakukan aktivitas leisure Karen tidak memiliki dana atau anggaran untuk aktivitas leisure.

4)       Skills: dibeberapa aktivitas leisure diperlukan skills khusus, seperti misalnya berenang, menyelam, paralayang, memanjat tebing. Jika seseorang ingin melakukan aktivitas tersebut namun tidak memiliki skills yang baik tentang hal tersebut, maka keinginannya juga akan tertunda.

5)       Perceived lack of control: Banyak anggapan bahwa kegiatan leisure khususnya aktif leisure seperti mendaki gunung,menyelam, dan sejenisnya adalah kegiatan pencarian kesenangan yang berbahaya dan cenderung tidak dapat dikontrol.

6)       Learned helplessness: Lebih extreme lagi, kegiatan leisure sering dikaitkan dengan hal hal yang tabu seperti kegiatan sex, prostitusi, dsb.

7)       Knowledge of resources: Banyaknya kendala adalah tentang minimnya pengetahuan masyarakat tentang leisure, bahkan leisure sering dikaitkan dengan sosiologi atau bagian dari aktivitas dan problema masyarakat.

8)       Inertia and energy: terdapat dua titik extreme tentang leisure: sebagian masyarakat berpendapat bahwa leisure adalah bermalas-malasan, sebagian lagi berpendapat bahwa leisure adalah kegiatan membuang energi yang berlebihan.

9)       Pressure: Pada kegiatan tertentu, leisure sering dikaitkan dengan kegiatan yang menantang, pemaksaan fisik, sehingga pemaknaan (Meaning) terhadap leisure cukup membingungkan

 

1.4               Perbedaan ekstrim antara waktu leisure dan bekerja

1)       Obligatory: Wajib atau keharusan, jika tidak kerja dapur tidak menyala.

2)       Usually involves some monetary gain: biasanya menyertakan modal, hasil sebuah kerja linier dengan seberapa besar modal yang ditanamkan.

3)       Active: berhubungan dengan kegiatan atau aktivitas atau proyek tertentu.

4)       Satisfying: Pencapaian kepuasan atau bertujuan memuaskan (employee satisfaction atau consumers satisfaction)

5)       Enjoyable: Berusaha menyenangkan atau disenangkan (experience marketing)

6)       Meaningful: Berusaha memaknai, kadang kadang makna hidup muncul dalam sebuah pekerjaan sehingga banyak motto yang lahir darinya: hidup adalah  bekerja, bekerja untuk hidup atau hidup untuk bekerja, dan sebagainya.

 

 

 

7)       Meet our material needs: Kenapa anda bekerja? Banyak alasan kenapa kita bekerja, kebutuhan hidup, tuntutan keluarga akan makanan dan minuman, rumah dan pakaian.

8)       Meet the needs of other who can't work: mungkin juga di rumah banyak orang yang harus dihidupi, mertua yang tidak bekerja, anak-anak yang masih sekolah, istri yang tidak bekerja, adik yang masih menganggur, itu semua menjadi alasan kenapa kita harus bekerja.

9)       Bring fulfillment, satisfaction and meaning in life: Banyak juga orang sudah kaya, mempunyai banyak property, banyak deposito namun mereka mau bekerja, banyak yang beranggapan bahwa bekerja untuk sebuah status dimasyarakat, menjabat posisi tertentu adalah kepuasan hidup, hidup ini akan bermakna jika mereka bekerja.

 

1.5 Pentingkah Aktivitas Leisure itu?

 

1) Rujukan pertama adalah Alkitab: Kejadian 2:2

Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu" sedangkan dari perspektif non-theology, bolehlah diinterpretasikan bahwa hari ketujuh dalam seminggu adalah harinya leisure: refress of mind atau hari pemulihan kekuatan. Tentu saja Alkitab tidak menuliskan secara secara rinci apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia pada hari ketujuh tersebut. Aktivitas pada hari ketujuh tentu saja akan disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan budaya setempat.

Hari ketujuh adalah hari kembalinya siklus hidup dalam seminggu yang dijalani seorang manusia, untuk inilah leisure menjadi obat yang mujarab untuk memulihkan kesegaran tubuh fisik dan mental seorang manusia yang telah bekerja selama enam hari, dan pada hari Senin keesokan hari, diharapkan kesegaran tubuh fisik dan mental dapat kembali pulih.

 

2) Rujukan kedua adalah teori kebutuhan Maslow, dimana kebutuhan menusia bukanlah hanya sekedar kebutuhan dasar saja namun lebih daripada itu, manusia juga membutuhkan rasa aman, pengakuan sosial, merindukan sebuah penghargaan, menginginkan sebuah prestasi dan akhirnya ingin melakukan aktualisasi diri.  

 

Jika sebagian besar manusia tidak dapat mewujudkan pemenuhan kebutuhan psikologisnya, itu semua karena keterpaksaan semata, bukan dari hati nurani seorang manusia, artinya kebutuhan manusia itu memang diperlukan oleh semua manusia di dunia ini. Pada segmen kebutuhan psikologis ini leisure memegang peranan pentingnya.

 

 

3) Rujukan ketiga diambil dari teori Cohen tentang tipologi pelaku leisure (dalam Pitana:2005) dimana pelaku leisure dapat dibedakan menjadi empat kelompok utama, yakni:

  • Existensial: Mereka adalah pelarian dari rutinitas kehidupan sehari hari, mereka bergabung pada kelompok pencari aktivitas leisure yang bersifat spiritual.
  • Experimental: Mereka mencari gaya hidup yang berbeda, sangat extreme dari kehidupannya sehari-hari.
  • Experiental: Mereka mencari makna hidupnya pada komunitas yang berbeda dan membandingkannya, pencarian sebuah pengalaman dari budaya yang berbeda.
  • Diversionary: Mereka yang berlari dari kehidupan rutin, mencari penyegaran tubuh maupun mental "refress".
  • Recreational: Mereka yang melakukan kegiatan leisure sebagai bagian untuk menghibur diri atau relaksasi.

 

4) Sementara rujukan keempat mengacu pada teori motivasi seseorang melakukan kegiatan leisure. Jika dilihat dari motivasi seseorang untuk melakukan kegiatan leisure, McIntosh dan Murphy (dalam Pitana:2005), mengelompokkannya kedalam empat kelompok, yang terdiri dari:

  1. Physical Motivation: Orang-orang "mereka" yang terdorong ber-leisure oleh karena alasan fisik; relaksasi, kesehatan, kenyamanan, olahraga, santai dan sebagainya.
  2. Cultural Motivation: Mereka Ingin mengenang dan mengenal budaya lain, mereka seolah-olah akan berada di dunia lain dalam kontek waktu atau zaman.
  3. Social Motivation: Mereka termotivasi oleh kegiatan social seperti mengunjungi keluarga di kampung "pulang kampung" mengunjungi teman, atau bahkan menjengung orang sakit.
  4.  Fantasy Motivation: Mereka yang berusaha mewujudkan sesuatu yang telah atau sedang mereka hayalkan, berusaha lepas dari rutinitas kesehariannya.

 

1.5               Jenis Leisure

  • Active leisure adalah aktivitas yang memerlukan energi fisik atau energi mental. Jalan santai dan yoga adalah sebuah dari aktivitas aktif leisure yang memerlukan sedikit eneergi. Sedangkan aktif leisure yang memerlukan banyak energi seperti misalnya sepakbola, kick-boxing. Kadang-kadang aktif leisure juga sering dikaitkan dengan kegiatan rekreasi; indoor maupun outdoor.
  • Passive Leisure adalah aktivitas yang tidak memerlukan energi fisik atau energi mental yang berarti. Menonton film di sebuah bioskop, menonton televisi, main game computer adalah sebuah contoh dari passive leisure.

 

2               Metode Penelitian

 

1)       Penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yakni pendekatan desk research dengan teknik pencarian informasi melalui media publikaksi, baik melalui publikasi online maupun offline dan pendekatan kedua adalah pendekatan field research dengan melakukan survey.

2)       Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kualitatif, analogy, dan komparatif beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu.

3)       Hasil Penelitian dipaparkan secara deskriptif argumentatif dalam bentuk tabel, bagan, gambar, dan grafik agar permasalahan dan temuan penelitian dapat dipahami oleh publik dengan mudah.

 

 

 

 

 

3               Hasil Penelitian tentang Leisure

 

3.1 Hasil Penelitian di Amerika

Krippendorf (1997) menemukan beberapa alasan orang-orang Amerika melakukan leisure, diantara tersaji dal table berikut:

 


Tabel. 3.1. Alasan Melakukan Aktivitas Leisure

Alasan

%

To relax (relaksasi)

66%

To get away from everyday life (keluar dari rutinitas)

59%

To recover strength

49%

To experience nature

47%

To have time for one other

42%

To get sunshine, to escape from bad weather

39%

To be with other people, to have company

37%

To eat well

36%

To have fun and entertainment

35%

………………………..

……

Sumber: Krippendorf (1997)

Catatan: Responden boleh menjawab lebih dari satu alasan, Krippendorf (1997)

 

Dari sekian banyak alasan orang Amerika dalam melakukan leisure, alasan relaksasi nampak sangat dominan, sementara keluar dari rutinitas juga menjadi alasan yang sangat kuat untuk melakukan leisure.

 

3.2 Hasil Penelitian di Bristol

 

Sementara Studi dilakukan di Bristol, Karen (2005) telah melakukan penelitian tentang "Different kinds of leisure activities at the weekends in Bristol" kegiatan kegiatan leisure yang dilakukan pada akhir pekan di Bristol. Dengan menanyakan kepada 20 orang respoinden, dia mendapatkan deskripsi penelitian sebagai berikut:

 

Tabel. 3.2 Aktivitas Leisure yang biasanya dilakukan pada akhir pekan

 

Go away

Stay at home

Young men

60%

40%

Middle-aged men

33%

67%

Old men

7%

93%

Young women

54%

46%

Middle-aged women

25%

75%

Old women

21%

79%

 

Sumber: Krippendorf (1997)

 

Pada tabel 3.2, tergambar bahwa "young men" pemuda lebih banyak memilih keluar daripada tinggal di rumah pada setiap akhir pekan. Sementara bapak bapak tengah baya lebih banyak memilih tinggal di rumah dari pada keluar rumah pada saat akhir pekan.

 

Bapak bapak lanjut usia mayoritas memilih tinggal dirumah daripada keluar rumah pada saat akhir pekan. Hampir sama dengan kaum laki-laki, kaum perempuan pada kondisi yang sama juga memilih pilihan yang sama pada saat akhir pekan.

 

Namun ada sebuah perbedaan yang cukup extrem antara kaum bapak manula dan kaum ibu manula, ternyata kaum ibu manula lebih suka keluar rumah daripada kaum bapak manula saat akhir pekan (21%:7%)

 

Tabel 3.3. Frekwensi Seseorang Melakukan Leisure dalam sebulan.

 

Once a month

Twice a month

More than twice

Men

35%

55%

10%

women

15%

60%

25%

Sumber: Krippendorf (1997)

 

Dilihat dari frekwensi keluar rumah, kaum perempuan lebih sering daripada kaum laki laki.

Tabel 3.4. Akativitas Pilihan

a) to meet some family

40%

b) to meet some friends

40%

c) to the seaside

10%

d) abroad

4%

e) other

6%

Sumber: Krippendorf (1997)

Kegiatan kegiatan yang sering dilakukan pada akhir pekan, adalah kegiatan bermain ke rumah keluarga, atau ke rumah teman, sebagian kecil suka pergi ke pantai, sebagian kecil ada yang jalan-jalan keluar negeri.


Tabel 3.6 Kegiatan yang dilakukan di Bristol pada saat akhir pekan

a) stay at home

30%

b) go shopping

20%

c) go to the cinema

10%

d) go for a meal

10%

e) go to the pub

20%

f) other

10%

Sumber: Krippendorf (1997)

Ketika responden yang memilih tidak keluar kota pada saat akhir pekan, maka kegiatan yang paling mungkin dipilihnya adalah tinggal di rumah, berbelanja atau shopping, nonton film di bioskop, makan-makan, ada juga pergi ke pub.

Ketika responden ditanya tentang hobi, sebagian besar respon mengaku memiliki hobi yang jelas. Dan pengakuan responden melakukan atau menyalurkan hobinya pada saat akhir pekan.

Selain hasil deskripsi di atas, Karen juga menemukan beberapa perbedaan antara perilaku ber-leisure antara warga Bristol dan warga Taiwan.

(1) Warga Eropa lebih santai dalam menjalani hidup, sementara warga asia "Taiwan" sangat sibuk dalam hidupnya untuk mengejar harta benda, dan kadang-kadang akhir pekan juga masih banyak pabrik yang beroperasi. Orang eropa lebih memilih menikmati waktu senggangnya untuk leisure daripada bekerja menghabiskan semua hari-harinya.

(2) Dikaitkan dengan musim, dimana orang-orang Eropa lebih memilih keluar rumah pada saat musim panas untuk menikmati hangatnya mentari, sangat berbeda dengan orang Asia, lebih suka memilih tinggal di rumah dengan pendingin "AC".

(3) Orang eropa lebih bervariatif dalam memilih kegiatan leisure antara indoor dan outdoor, sementara orang asia pada umumnya lebih memilih outdoor daripada indoor

 

3.3. Hasil Penelitian Leisure di Indonesia

 

Tidak banyak penelitian tentang leisure yang telah dilakukan di Indonesia, studi tentang leisure di Indonesia lebih cenderung dikaitkan dengan studi sosiologi, terfokus pada kelas menengah dan atas. Padahal secara logika, aktivitas waktu luang merupakan bagian dari sisi kehidupan seseorang selain bekerja. Fenomena waktu luang bahkan dapat dikatakan sebagai salah satu kebutuhan hidup setiap orang.

 

Aktivitas waktu luang menjadi sesuatu yang dinamis untuk dikupas karena keberadaannya sangat dipengaruhi oleh dominasi faktor ekonomi; pandangan yang melihat kemampuan memiliki aktivitas waktu luang yang erat kaitannya dengan kemampuan ekonomi seseorang.

 

 

Dalam studi sosiologi, terdapat faktor-faktor  pendorong untuk melakukan kegiatan leisure (Pitana, 2005). Dengan adanya faktor pendorong, maka seseorang ingin melakukan kegiatan leisure dapat memilih suatu aktivitas sesuai dengan maksud dan tempatnya, faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

1)       Escape. Ingin melepaskan diri dari lingkungan yang dirasakan menjemukan, atau kejenuhan dari pekerjaan sehari-hari.

2)       Relaxation. Keinginan untuk penyegaran, yang juga berhubungan dengan motivasi untuk escape di atas.

3)       Play. Ingin menikmati kegembiraan, melalui berbagai permainan, yang merupakan kemunculan kembali sifat kekanak-kanakan, dan melepaskan diri sejenak dari berbagai urusan yang serius.

4)       Strengthening family bond. Ingin mempererat hubungan kekerabatan, khususnya dalam konteks (visiting, friends and relatives). Biasanya wisata ini dilakukan bersama-sama (group tour)

5)       Prestige. Ingin menunjukkan gengsi, dengan mengunjungi destinasi yang menunjukkan kelas dan gaya hidup, yang juga merupakan dorongan untuk meningkatkan status atau social standing.

6)       Social interaction. Untuk melakukan interaksi sosial dengan teman sejawat, atau dengan masyarakat lokal yang dikunjungi.

7)       Romance. Keinginan bertemu dengan orang-orang yang bisa memberikan suasana romantis atau untuk memenuhi kebutuhan seksual.

8)       Educational opportunity. Keinginan melihat suatu yang baru, memperlajari orang lain dan/atau daerah lain atau mengetahui kebudayaan etnis lain.

9)       Self-fulfilment. Keinginan menemukan diri sendiri, karena diri sendiri biasanya bisa ditemukan pada saat kita menemukan daerah atau orang yang baru.

10)   Wish-fulfilment. Keinginan merealisasikan mimpi-mimpi, yang lama dicita-citakan, sampai mengorbankan diri dalam bentuk penghematan, agar bisa melakukan perjalanan. Hal ini juga sangat jelas dalam perjalanan wisata religius, sebagai bagian dari keinginan atau dorongan yang kuat dari dalam diri.

 

Hasil Penelitian tentang leisure Studi kasus Taman Rekreasi Kebun Raya Eka Karya Bedugul (Utama, 2005)

 

3.7. Frekwensi dan kategori  Faktor-faktor Pendorong Responden Berkunjung ke Kebun Raya Eka Karya Bali

 

Frekwensi

(orang)

Frekwensi (%)

 

Faktor Pendorong

Skor (1--2)

Skor (3--4)

Skor

(1--2)

Skor

(3--4)

Kategori

§         Relaxation

12

76

14%

86%

Sangat kuat

§         Escape

13

75

15%

85%

Sangat kuat

§         Strengthening family bond

17

71

19%

81%

Sangat kuat

§         Play

19

69

22%

78%

Sangat kuat

§         Social interaction

30

58

34%

66%

Kuat

§         Prestice

33

55

38%

63%

Kuat

§         Educational opportunity

38

50

43%

57%

Kuat

§         Wish- fulfilment

41

47

47%

53%

Kuat

§         Romance

47

41

53%

47%

Lemah

§         Selft-fulfilment

51

37

58%

42%

Lemah

Jumlah Responden= 88 orang

 

 

            Hasil penelitian tabel di atas menunjukkan bahwa dari 88 responden, terbagi menjadi tiga kelompok pengunjung berdasarkan faktor pendorong. Ketiga kelompok tersebut adalah sebagai berikut:

1.       Kategori sangat kuat (76%-100%) atau paling dominan, yakni kelompok pengunjung yang berkunjung ke Kebun Raya Eka Karya terdorong oleh faktor relaxation, escape, strengthening family bond, dan play. Dapat dikatakan bahwa pengunjung yang berkunjung ke Kebun Raya Eka Karya Bali memang bermaksud untuk memenuhi tujuan relaxation (penyegaran tubuh), escape (menghilangkan kejenuhan), strengthening family bond (mengikuti ajakan teman atau keluarga), dan play (mencari hiburan).

 

2.       Kategori kuat (51%-75%) atau kelompok besar, yakni kelompok pengunjung yang berkunjung ke Kebun Raya Eka Karya terdorong oleh faktor social interaction, prestice, educational opportunity, dan  wish-fulfilment. Dapat dikatakan bahwa pengunjung yang berkunjung ke Kebun Raya Eka Karya Bali memang bermaksud untuk memenuhi tujuan social interaction (mengikuti acara perusahaan), prestice (kebiasaan dan kegemaran berkunjung), educational opportunity (kepentingan penelitian), dan  wish-fulfilment (melakukan ibadah, sembahyang).

 

 

3.       Kategori lemah (<50%) atau kelompok kecil, yakni sekelompok pengunjung yang berkunjung ke Kebun Raya Eka Karya terdorong oleh faktor romance, dan selft-fulfilment. Dapat dikatakan bahwa pengunjung yang berkunjung ke Kebun Raya Eka Karya Bali bermaksud untuk memenuhi tujuan romance (janjian bersama orang dekat atau pacaran), dan selft-fulfilment (melakukan perenungan atau menyendiri)

 

 

4. Kesimpulan dan Argumentasi

Dari hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa banyak peluang pengembangan bisnis leisure yang berkaitan dengan tujuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan relaxation, escape, strengthening family bond, dan play. Artinya, fasilitas inilah yang sangat mungkin untuk dikembangkan karena keempat faktor inilah yang menjadi pertimbangan utama seseorang melakukan kegiatan leisure.

 


4.1. Implikasi Leisure dan Peluang Penciptaan Bisnis di Indonesia

 

Ada dua logika berpikir yang dapat  digunakan untuk mendiskripsikan implikasi leisure terhadap pencipataan peluang bisnis

 

1.                   Leisure sebagai Central

 

 

Memandang kenyataan bahwa jumlah penduduk Indonesia sangat besar, bisnis yang berkaitan dengan leisure tentunya sangat mungkin untuk diciptakan baik yang berhubungan dengan indoor atau outdoor, baik aktif maupun pasif leisure.

a)       Bisnis yang berhubungan dengan Tourism (Pariwisata): bisnis penyediaan tempat-tempat wisata mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita, namun jika kita lihat lebih seksama, ternyata tempat-tempat wisata tersebut masih condong diperuntukkan untuk orang asing, melihat kenyataan ini, ternyata masih banyak peluang terhadap penciptaan obyek wisata/leisure baru yang diperuntukkan untuk masyarakat lokal atau domestik dalam rangka pemenuhan hasrat leisurenya.

b)       Bisnis yang berhubungan dengan Rekreasi

c)       Bisnis yang berhubungan dengan Sport atau olahraga: membuat gelanggang olah raga (indoor maupun outdoor)

d)       Bisnis yang berhubungan dengan Seni dan Budaya: Pagelaran karya seni, pementasan group band, pameran lukisan dan sebagainya.

e)       Bisnis yang berhubungan dengan Media dan Edukasi: Membuka bisnis video game, warnet game, PC game, latihan renang, dan sebagainya.

f)         Bisnis Mall "Funshopping: bisnis yang berhubungan dengan tempat tempat berbelanja.

g)       Bisnis Event & Convention: penyediaan dan penyelenggaraan Event dan Convention, binis event organizer, penyewaan alat-alat, penyewaan gedung tempat pertemuan, dan sebagainya.

h)       Bisnis Hospitality: membuka dan penyediaan bisnis hospitality seperti restoran, hotel untuk akhir pekan, villa untuk berlibur dan sebagainya.

i)         Bisnis yang berhubungan dengan hobi: penyediaan kolam pancing, penyediaan  arena lomba burung, dan sebagainya

 

 

2.                   Leisure sebagai Optional

 

 "Good or Service providers who create experiences behind of the central core of their good or service" Jika kita memandang unsur leisure sebagai optional berarti dalam kontek ini, kita menentukan terlebih dahulu core bisnisnya kemudian menambahkan unsur leisure kedalamnya mungkin saja untuk melakukan differensiasi produk dalam kepentingan untuk memenangkan persaingan.



Berikut beberapa contoh di lapangan yang dapat diamati:

a)       Ada rumah sakit swasta di Denpasar telah, menambahkan unsur experience, hal ini dapat dilihat ada unsur leisure ditambahkan seperti menyediakan fasilitas bermain untuk anak-anak khususnya pada area sal perawatan anak-anak. Hal ini dapat mengurangi kesan bahwa rumah sakit bukan tempat yang menakutkan namun akan menjadi tempat yang menyenangkan dan pada akhirnya dapat mempercepat proses penyembuhan pasien.

b)       Ada juga sebuah bengkel mobil, nampaknya manajer perusahaan sudah jeli dan berani menyediakan ruang khusus untuk para penunggu memenuhi hasrat leisurenya, dengan menyediakan ruang tunggu yang lengkap dengan TV, Video, bahkan Spa terapi.

c)       Produk Mobil versi terbaru, akan nampak jelas unsure leisure ditambahkan didalamnya, ketika mengendaranya, penumpang dapat menonton siaran TV, musik, dan unsur lainnya.

d)       Sebuah Universitas di London menambahkan unsur leisure pada program utamanya, nampak jelas dari fasilitas kampus yang disediakan beranekaragam seperti: Café, Bar, Spa, Sport, dan sebagainya.

 

Sekilas memang istilah leisure belum begitu membudaya dikalangan masyarakat Indonesia termasuk juga dikalangan praktisi pariwisata, namun seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi, transportasi, dan perdagangan bebas, lambat laun istilah leisure diyakini akan menjadi populer di masa yang akan datang.


Daftar Pustaka

*) Dosen Tetap Yayasan Dhyana Pura, Alumnus MA International Leisure and Tourism Studies of Stenden University Netherlands.

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Kami