Selasa, 29 Juni 2010

Kewirausahaan: PENGENALAN DAN PENGEMBANGAN PRIBADI

PENGENALAN DAN PENGEMBANGAN PRIBADI
A. Karakteristik Wiraswastawan.
Sejarah kewiraswastaan menunjukkan bahwa wiraswastawan mempunyai
karakteristik umum serta berasal dari kelas yang sama. Para pemula
revolusi industri Inggris berasal dari kelas menengah dan menengah
bawah. Dalam sejarah Amerika pada akhir abad ke sembilan belas,
Heillbroner mengemukakan bahwa rata-rata wiraswastawan adalah anak
dari orang tua yang mempunyai kondisi keuangan yang memadai, tidak
miskin dan tidak kaya. Schumpeter menulis bahwa wiraswastawan tidak
membentuk suatu kelas sosial tetapi berada dari semua kelas.
Menurut Mc Clelland, karakteristik wiraswastawan adalah sebagai berikut :
1. Keinginan untuk berprestasi. Penggerak psikologis utama yang
memotivasi wiraswastawan adalah kebutuhan untuk berprestasi, yang
biasanya diidentifikasikan sebagai n Ach. Kebutuhan ini didefinisikan
sebagai keinginan atau dorongan dalam diri orang yang memotivasi
perilaku ke arah pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan merupakan
tantangan bagi kompetisi individu.
2. Keinginan untuk bertanggung jawab. Wiraswastawan menginginkan
tanggung jawab pribadi bagi pencapaian tujuan. Mereka memilih
menggunakan sumber daya sendiri dengan cara bekerja sendiri untuk
mencapai tujuan dan bertanggung jawab sendiri terhadap hasil yang
dicapai. Akan tetapi mereka akan melakukannya secara berkelompok
sepanjang mereka bisa secara pribadi mempengaruhi hasil-hasil.
3. Preferensi kepada resiko-resiko menengah. Wiraswastawan bukanlah
penjudi. Mereka memilih menetapkan tujuan-tujuan yang membutuhkan
tingkat kinerja yang tinggi, suatu tingkatan yang mereka percaya akan
menuntut usaha keras tetapi yang dipercaya bisa mereka penuhi.
4. Persepsi pada kemungkinan berhasil. Keyakinan pada kemampuan untuk
mencapai keberhasilan adalah kwalitas kepribadian wiraswastawan yang
penting. Mereka mempelajari fakta-fakta yang dikumpulkan dan
menilainya. Ketika semua fakta tidak sepenuhnya tersedia, mereka
berpaling pada sikap percaya diri mereka yang tinggi dan melanjutkan
tugas-tugas tersebut.
5. Rangsangan oleh umpan balik. Wiraswastawan ingin mengetahui
bagaimana hal yang mereka kerjakan, apakah umpan baliknya baik atau
buruk. Mereka dirangsang untuk mencapai hasil kerja yang lebih tinggi
dengan mempelajari seberapa efektif usaha mereka.
6. Aktifitas enerjik. Wiraswastawan menunjukan enerji yang jauh lebih
tinggi dibandingkan rata-rata orang. Mereka bersifat aktif dan mobil
dan mempunyai proporsi waktu yang besar dalam mengerjakan tugas dengan
cara baru. Mereka sangat menyadari perjalanan waktu. Kesadaran ini
merangsang mereka untuk terlibat secara mendalam pada kerja yang
mereka lakukan.
7. Orientasi ke masa depan. Wiraswastawan melakukan perencanaan dan
berpikir ke depan. Mereka mencari dan mengantisipasi kemungkinan yang
terjadi jauh di masa depan.
8. Ketrampilan dalam pengorganisasian. Wiraswastawan menunjukkan
ketrampilan dalam organisasi kerja dan orang-orang dalam mencapai
tujuan. Mereka sangat obyektif dalam memilih individu-individu untuk
tugas tertentu. Mereka akan memilih yang ahli bukan teman agar
pekerjaan bisa dilakukan dengan efisien.
9. Sikap terhadap uang. Keuntungan finansial adalah nomor dua
dibandingkan arti penting dari prestasi kerja mereka. Mereka hanya
memandang uang sebagai lambang kongkret dari tercapainya tujuan dan
sebagai pembuktian dari kompetensi mereka.

B. Penentuan Potensi Kewiraswastaan.
Karakteristik wiraswastawan sukses dengan n Ach tinggi akan memberikan
pedoman bagi analisa diri sendiri.
1. Kemampuan inovatif. Inovasi memerlukan pencarian kesempatan baru.
Hal tersebut berarti perbaikan barang dan jasa yang ada, menciptakan
barang dan jasa baru, atau mengkombinasikan unsur-unsur produksi yang
ada dengan cara baru dan lebih baik.
2. Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity). Ini berarti kemampuan
untuk berhubungan dengan hal yang tidak terstruktur dan tidak bisa
diprediksi. Karakteristik ini berkaitan erat dengan proses inovatif.
3. Keinginan untuk berprestasi. N Ach adalah tanda-tanda penting dari
dorongan kewiraswastaan. Hal ini menandai para pemiliknya sebagai
orang yang tidak mengenal menyerah di dalam mencapai tujuan yang telah
mereka tetapkan sendiri.
4. Kemampuan perencanaan realistis. Menetapkan tujuan yang menantang
dan bisa diterapkan adalah tanda dari perencanaan realistis. Tujuan
ditetapkan sesuai dengan n Ach dari wiraswastawan.
5. Kepemimpinan terorientasi pada tujuan. Wiraswastawan membutuhkan
aktivitas yang mempunyai tujuan. N Ach yang tinggi memotivasi mereka
untuk mengarahkan tenaga mereka dan rekan kerja serta bawahan mereka
ke arah tujuan yang ditetapkan.
6. Obyektivitas. Wiraswastawan obyektif di dalam mengarahkan pemikiran
dan aktivitas kewiraswastaannya dengan cara pragmatis. Wiraswastawan
mengumpulkan fakta-fakta yang ada, mempelajarinya dan menentukan arah
tindakan dengan cara-cara praktis.
7. Tanggung jawab pribadi. Wiraswastawan memikul tanggung jawab
pribadi, mereka menetapkan tujuan sendiri dan memutuskan bagaimana
cara mencapai tujuan tersebut dengan kemampuan mereka sendiri.
8. Kemampuan beradaptasi. Para wiraswastawan mampu menyesuaikan diri
dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Ketika wiraswastawan
terhambat oleh kondisi yang berbeda dari apa yang mereka harapkan,
mereka tidak menyerah, namun melihat situasi secara obyektif.
9. Kemampuan sebagai pengorganisasi dan administrator. Wiraswastawan
mempunyai kemampuan mengorganisasi dan administasi di dalam
mengidentifikasi dan mengelompokkan orang-orang berbakat untuk
mencapai tujuan. Mereka menghargai kompetensi dan akan memilih para
spesialis untuk mengerjakan tugas dengan efisien.

Landasan Motivasi Berprestasi.
Sebagai wirausaha sangat penting untuk mengenal kekuatan dan kelemahan
dirinya. Karena dalam diri pengusaha, mengenal potensi dirinya
tersebut maka timbul suatu dorongan bahwa mengenal berbagai hal yang
telah dicapai sebenarnya akibat dari perilaku dirinya memanfaatkan
kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya. Baik kekuatan maupun
kelemahan, sebenarnya diyakini sebagai faktor-faktor yang dapat
mendorong pencapaian cita-cita dan tujuannya. Semakin meyakini makna
prestasi dirinya, semakin meyakini bahwa prestasi harus dapat
mendorong untuk terwujudnya prestasi yang lebih baik lagi. Prestasi
yang sudah baik pada dirinya akan tertantang untuk mewujudkan prestasi
yang sempurna. Tujuan dan tekad diri sendiri perlu diwujudkan secara
jelas, hal ini akan membangkitkan semangat berprestasi.

Pengenalan Diri Dan Motif Berprestasi.
Mengembangkan pribadi wirausaha adalah juga mengembangkan perilaku
wirausaha, dengan langkah awal mengenali diri sendiri serta kendala
yang dihadapi.
Cara-cara mengenali diri sendiri dapat dilakukan dengan psikotest dan
kemauan sendiri untuk :
1. Menemukan kebenaran tentang dirinya yang diperoleh melalui
penyadaran pengalaman-pengalaman dan kejujuran terhadap dirinya.
2. Dengan berbekal kebenaran merupakan awal untuk mengembangkan diri
secara tepat.
3. Pengenalan diri sebagai modal awal untuk dapat mengidentifikasi dan
mengenali lingkungan, mengindera peluang-peluang bisnis dan
mendayagunakan sumber-sumber daya lingkungan perusahaan dalam batas
resiko yang tertanggungkan, untuk memperoleh nilai tambah.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman diri sendiri atau mau belajar dari
sebuah pelajaran tentang keberhasilan maupun kegagalan prestasi dan
karier, maka wirausaha yang berhasil mempunyai ciri sebagai berikut :
a. Pemikiran luwes dan kreatif.
b. Mampu merencanakan, mengambil resiko, mengambil keputusan dan
mengambil tindakan.
c. Bersedia bekerja dalam keadaan konflik, perubahan dan keragu-raguan.
d. Melakukan analisis diri sendiri dengan lingkungan.
e. Mampu menyusun prioritas dalam sasaran-sasaran prestasi.
f. Bersedia menawarkan sesuatu yang berguna bagi orang lain.
g. Bersedia menciptakan kebutuhan lingkungan terhadap produk dan jasa.
Perilaku wirausaha yang diwujudkan dalam sikap dan motivasi terhadap
karier dan prestasi yang berhasil, adalah dicerminkan dalam
tindakan-tindakan sebagai berikut :
a. Mencontoh orang yang berhasil dalam bidang pekerjaan yang sama,
mengadaptasi teknik-teknik untuk mencapai sukses.
b. Menggunakan perubahan untuk memotivasi diri.
c. Berorientasi pada tindakan.
d. Tanggung jawab yang tinggi dalam menyukseskan suatu kegiatan.
e. Keberhasilan ditentukan oleh prestasi sumber daya manusia dalam perusahaan.
f. Mengawasi agar keputusan dilaksanakan dengan baik dan jangan
menyesali kegagalan masa lampau.

Kendala Dan Teknik Dalam Pengenalan Dan Pengungkapan Diri.
Dalam upaya untuk mewujudkan jati diri mereka, pengusaha sangat merasa
perlu mengenali kepribadian dan kompetensi diri mereka sendiri, yang
dapat dilakukan dengan cara :
1. Upaya mengembangkan diri dengan melihat kekuatan dan kelemahan sendiri.
2. Melalui orang lain, melalui kelompok, melalui organisasi dan
melalui lingkungan.
3. Membuka isolasi diri melalui komunikasi dan berinteraksi.

Cara-cara mengenali diri sendiri :
1. Dengan menemukan kebenaran pada diri.
2. Dengan berbekal kebenaran merupakan awal untuk mengembangkan diri
secara tepat.
3. Khusus bagi pengusaha, pengenalan diri adalah modal awal untuk
dapat mengenali lingkungan, mengindera peluang bisnis dan mengarahkan
sumber-sumber daya, dalam batas resiko yang tertanggungkan, untuk
menikmati nilai tambah.
Kendala dalam pengenalan diri adalah dalam perilaku :
1. Pelaku cendrung bias, cendrung menganggap dirinya baik .
2. Orang lain inginnya mengenal yang baik-baik saja tentang dirinya.
3. Tak mau menerima kenyataan buruk atau pahit.
Kendala seperti itu untuk mengeleminir diperlukan alat bantu yang
lebih obyektif. Cara yang tepat untuk mendeteksikan sikap dan sistem
nilai seseorang antara lain melalui psikotest. Kalau psikotest tidak
dapat dilakukan maka petunjuk-petunjuk yang tepat melalui pengenalan
diri melalui :
1. Introspeksi diri.
2. Umpan balik pihak kedua.
3. Reaksi kelompoknya.

Pengembangan Motivasi Berprestasi.
Ada dua persyaratan pokok yang harus dipenuhi oleh seseorang apabila
ingin berprestasi sebaik mungkin yang dimilikinya :
1. "Kemampuan" untuk berprestasi
Kemampuan dalam suatu bidang hanya bisa dimiliki oleh seseorang
apabila ia menguasai cara, prosedur dan teknik pengerjaan bidang yang
ia tekuni. Seorang pengusaha dianggap berkemampuan apabila ia
menguasai bagaimana cara merencanakan, mengkoordinasi, melaksanakan,
mengarahkan dan mengendalikan bidang usaha yang dijalaninya. Untuk
bisa menguasai cara kerja ini, seorang pengusaha harus memiliki bakat
dalam bentuk kecerdasan yang mencukupi dan penambahan pengetahuan dan
ketrampilan yang didapat dari pendidikan, latihan atau pengalaman
kerja.
2. "Kemauan" untuk berprestasi.
Kemauan untuk berprestasi sering juga disebut sebagai motivasi untuk
berprestasi. Kata dasarnya adalah "motive" yang dapat dikatakan
sebagai dorongan yang ada pada diri seseorang untuk bertingkah laku
untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Motivasi kerja seseorang
dipengaruhi oleh beberapa faktor: pengaruh lingkungan fisik, pengaruh
lingkungan sosial dan motif (kebutuhan) pribadi.

Ciri-ciri Dari Perbuatan dan Pemikiran Orang-orang Dengan Motif
Berprestasi, Afiliasi Dan Kekuasaan.
1. Motivasi Prestasi (N. Ach = need for Achievement)
Adanya motivasi yang kuat untuk prestasi ini dapat dilihat dari :
a. Pola Perbuatan
1). Mengambil tanggung jawab secara pribadi atas perbuatan menentukan
sendiri standar prestasinya dan berpatokan pada standar tersebut.
2). Mengambil resiko-resiko yang wajar, artinya tidak akan melakukan
hal-hal yang dianggap terlalu mudah atau terlalu sulit.
3). Mencoba mendapatkan umpan balik atas perbuatan-perbuatannya.
4). Berusaha melakukan segala sesuatu secara kreatif dan innovatif.
b. Pola Pemikiran
Memikirkan bagaimana cara :
1). Mengungguli/melebihi orang lain.
2). Memenuhi atau melebihi standar prestasi yang telah ditentukan sendiri.
3). Melakukan sesuatu yang khas.
4). Mencapai karier diri.
2. Motivasi Afiliasi (Need for Affiliation)
Motivasi afiliasi ditujukan bila seseorang ingin berada bersama orang
lain dan ingin menikmati persahabatan. Saling bersahabat dapat
ditunjukan oleh :
a. Pola Perbuatan :
Lebih suka berada bersama orang lain daripada sendirian :
1). Sering bergaul dengan orang lain, sering berbicara di telepon.
2). Lebih mementingkan aspek-aspek interpersonal dari pekerjaannya
dari pada aspek-aspek yang menyangkut tugas-tugas dalam pekerjaannya.
3). Berusaha mendapat persetujuan orang lain.
4). Melakukan tugas-tugas secara lebih efektif bila bekerja dengan
orang lain dalam suasana kerja sama.
b. Pola Pemikiran :
Memikirkan tentang :
1). Keinginan untuk mengadakan, memperbaiki atau memelihara hubungan
yang erat, hangat dan bersahabat dengan orang lain.
2). Perasaan risau bila menghadapi perpisahan dengan orang lain.
3). Keinginan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang
bersahabat dan bersukaria.
3. Motivasi Kekuasaan (Need for Power).
Motivasi kekuasaan ditunjukkan bila seseorang ingin mempunyai
pengaruh atas orang lain, yang dapat ditandai oleh :
a. Pola perbuatan :
1). Aktif menjalankan kebijakan suatu organisasi dimana ia menjadi anggota.
2). Peka terhadap struktur pengaruh interpersonal dari suatu kelompok
atau organisasi.
3). Mempunyai koleksi benda-benda atau memasuki organisasi-organisasi
yang mempunyai prestise.
4). Mencoba membantu orang lain sedangkan bantuan itu tidak diminta
atau diinginkan oleh orang.
b. Pola pemikiran :
Memikirkan tentang :
1). Perbuatan-perbuatan yang kuat dan keras yang mempengaruhi orang lain.
2). Pemberian pertolongan, bantuan, advis atau dukungan, bila hal
tersebut tidak diminta atau diinginkan oleh orang.
3). Usaha menguasai orang lain dengan mengatur tingkah laku atau
keadaan kehidupan orang lain, dengan jalan mencari informasi yang
penting yang akan mempengaruhi kehidupan atau perbuatan-perbuatan
orang lain.
4). Perasaan-perasaan positif atau negatif yang kuat pada orang
lain, sebagai akibat perbuatan-perbuatan yang dilakukan.
5). Kerisauan tentang reputasi atau kedudukan seseorang.

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Kami