Selasa, 29 Juni 2010

Kewirausahaan: PENGAWASAN

PENGAWASAN


A. Pengawasan.
Pengawasan bisa didefinisikan sebagai suatu usaha sistematis oleh
manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja dengan standar, rencana,
atau tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk menentukan
apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan untuk mengambil
tindakan penyembuhan yang diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya
manusia dan sumber daya perusahaan lainnya digunakan dengan seefektif
dan seefisien mungkin di dalam mencapai tujuan perusahaan.

1. Kontrol.
Kontrol adalah membuat sesuatu terjadi seperti yang direncanakan untuk
terjadi. Seperti yang dinyatakan secara tidak langsung dari definisi
ini, perencanaan dan kontrol sesungguhnya tidak dapat dipisahkan.

2. Proses Pengawasan.
Tiga langkah utama bagi proses pengawasan adalah :
a. Pengukuran kinerja. Sebelum wiraswastawan menentukan apa yang harus
dilakukan untuk membuat organisasi lebih efektif dan efisien, mereka
harus mengukur kinerja organisasional yang sedang berjalan. Pengukuran
kinerja tersebut bisa berhubungan dengan pengaruh produksi.
b. Membandingkan kinerja yang diukur dengan standar. Standar yang
dipakai biasanya mengikuti delapan bidang umum :
- Standar profitabilitas.
- Standar posisi pasar
- Standar produktivitas.
- Standar kepemimpinan produk.
- Standar perkembangan personalia.
- Standar
c. Mengambil tindakan koreksi. Tindakan koreksi adalah aktivitas
manajerial yang ditujukan untuk membawa kinerja organisasional pada
tingkat kinerja standar.

B. Jenis-jenis Pengawasan.
Terdapat tga tipe pengawasan manajemen : (1) pra-pengawasan, (2)
pengawasan yang bersamaan (concurrent), dan (3) pengawasan umpan
balik. Tiap-tiap jenis ditentukan oleh periode waktu di mana
pengawasan ditekankan dalam hubungannya dengan kerja yang
dilaksanakan.

1. Pra – pengawasan.
Pengawasan yang terjasi sebelum kerja dilakukan dinamakan pra –
pengawasan atau pengawasan ke depan (feed-forward control). Dengan
ini manajemen menciptakan kebijaksanaan, prosedur, dan aturan yang
ditujukan pada dihilangkannya perilaku yang menyebabkan hasil kerja
yang tidak diinginkan di masa depan.
2. Pengawasan yang Bersamaan dengan Pelaksanaan Kegiatan.
Pengawasan yang terjadi ketika pekerjaan sedang dilaksanakan dinamakan
pengawasan "concurrent". Pengawasan ini tidak hanya berhubungan dengan
kinerja kemanusiaan saja tetapi juga pada bidang-bidang seperti
kinerja peralatan atau penampakan departemen.
3. Pengawasan umpan balik.
Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja organisasional di masa lalu
dinamakan pengawasan umpan balik. Ketika menggunakan tipe ini,
wiraswastawan sesungguhnya berusaha untuk mengambil tindakan koreksi
dalam organisasi dengan melihat pada sejarah organisasional selama
periode waktu tertentu.

C. Pengawas dan Pengawasan.
1. Pekerjaan dari Pengawas.
Wiraswastawan mempunyai tanggung jawab unruk membandingkan kinerja
yang direncanakan dengan yang sesungguhnya dan mengambil tindakan bila
dipandang perlu. Tanggung jawab dasar dari pengawas adalah membantu
manajer lini dengan fungsi pengawasan dengan mengumpulkan informasi
yang sesuai dan menghasilkan laporan yang mncerminkan informasi ini.
2. Berapa Banyak Pengawasan yang Diperlukan?.
Aktivitas pengawasan hendaknya dilakukan jika manfaat yang diharapkan
dari pelaksanaan aktivitas tersebut lebih besar dari biaya
pelaksanaannya. Pada umumnya, wiraswastawan dan pengawas hendaknya
bekerja sama untuk menentukan dengan tepat berapa banyak aktivitas
pengawasan dibenarkan dalam situasi tertentu.


D. Kekuasaan.
Wewenang adalah hak untuk memerintah atau memberi perintah. Sejauh
mana individu mampu mempengaruhi yang lainnya sehingga mereka merespon
perintah yang diberikan kepada mereka dinamakan kekuasaan.
Kekuasaan dan pengawasan saling berhubungan erat. Walaupun perintah
dikeluarhan oleh wiraswastawan dengan menggunakan wewenang
organisasional, perintah mereka mungkin diikuti atau tidak diikuti
sepenuhnya, tergantung berapa banyak kekuasaan yang dimiliki oleh
wiraswastawan terhadap individu di mana mereka memberikan perintah.
1. Kekuasaan Total dari Seorang Wiraswastawan.
Kekuasaan total yang dimiliki oleh seorang wiraswastawan terbentuk
dari dua jenis kekuasaan yang berbeda adalah : "Kekuasaan posisi"
yaitu kekuasaan yang berasal dari posisi organisasional yang dipegang
oleh wiraswastawan, "Kekuasaan pribadi" yaitu kekuasaan yang berasal
dari hubungan kemanusiaan wiraswastawan dengan yang lainnya.
2. Langkah-langkah untuk Meningkatkan Kekuasaan Total.
Langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh wiraswastawan untuk
meningkatkan kekuasaan pribadi, wiraswastawan bisa berusaha untuk
mengembangkan :
a. Rasa berkewajiban pada anggota organisasi lainnya yang diarahkan
pada dirinya sendiri.
b. Kepercayaan pada anggota organisasi lainnya bahwa dia memiliki
tingkat keahlian yang lebih tinggi dalam organisasi.
c. Rasa identifikasi (sense of identification) yang dimiliki oleh
anggota organisasional lainnya dengan wiraswastawan.
d. Persepsi pada anggota organisasi lainnya bahwa mereka bergantung
pada dia sebagai wiraswastawan.

E. Pelaksanaan Fungsi-fungsi Pengawasan.
Pengawasan bisa merupakan proses yang sangat rumit dan mendetail.
Wiraswastawan hendaknya mengambil langkah-langkah untuk menghindari
hambatan potensial bagi pengawasan.
1. Membuat Pengawasan Berhasil.
Wiraswastawan bisa melaksanakan aktivitas tertentu untuk membuat
proses pengawasan mereka menjadi lebih efektif, maka wiraswastawan
harus yakin bahwa :
a. Berbagai fase dari proses pengawasan adalah sesuai dengan aktivitas
organisasional tertentu yang difokuskan.
b. Aktivitas pengawasan digunakan untuk mencapai jenis tujuan yang berbeda.
c. Informasi yang digunakan untuk mengambil tindakan koreksi adalah
tepat pada waktunya.
d. Mekanisme proses pengawasan bisa dimengerti oleh semua individu
yang ikut terlibat dengan implementasi proses.

F. Alat-alat Pengawasan.
Alat pengawasan adalah prosedur atau teknik tertentu yang menyajikan
informasi organisasional yang berhubungan sedemikian rupa sehingga
wiraswastawan akan dibantu di dalam mengembangkan dan
mengimplementasikan strategi pengawasan organisasional yang sesuai.
Alat pengawasan yang paling dikenal dan paling umum digunakan adalah :
1. Manajemen Pengecualian (Management by Exception), adalah teknik
pengawasan memungkinkan hanya penyimpangan kecil saja antara kinerja
aktual yang mendapatkan perhatian dari wiraswastawan. Manajemen dengan
pebgecualian akan menghasilkan manfaat tambahan dengan menjamin
penggunaan waktu wiraswastawan yang paling baik. Wiraswastawan
hendaknya mencoba menghilangkan kelemahan dan memperkokoh kekuatan .
2. Analisa Pulang-Pokok (Break Even Analysis).
3. Analisa Rasio.
4. Penganggaran. Anggaran adalah rencana keuangan sekali pakai yang
meliputi periode waktu tertentu.

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Kami