Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2013

Keterlibatan Mahasiswa S1 dalam seminar internasional

Tanggal 12 hingga 14 Nopember 2013 saya mengikuti konferensi internasional ICTEM 2013 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, pada forum itu saya membentangkan makalah terkait dengan evaluasi pendidikan. Sebelumnya di bulan September-Oktober saya juga mendampingi mahasiswa pascasarjana UIN Maliki Malang ke berbagai institusi pendidikan di Malaysia sekaligus juga melaksanakan diskusi antara Institut Education Universiti Anta Bangsa atau dikenal juga dengan International Islamic University Malaysia (IIUM). Sebulan sebelum itu saya juga meenyajikan makalah terkait dengan pemikiran pendidikan Prof. Imam Suprayogo dan Prof. al Attas pada forum kongres dunia tentang Integrasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Sains) yang diselenggarakan ISTAC IIUM . Baru-baru ini yaitu Ahad lalu tanggal 24 Nopember 2013 dilibatkan panitia menjadi moderator pada acara seminar internasional terkait masalah ekonomi Islam (Sharia) di Universitas Brawijaya.

Tulisan ini tidak akan membahas esensi materi yang diseminarkan pada acara konferensi, kongres dan seminar tersebut diatas karena sedikit banyaknya sudah saya singgung dalam artikel-artikel terdahulu. Kali ini saya ingin menyoroti aktivitas penyelenggaraan forum-forum yang ikuti itu. Saya memerhatikan bahwa penyelenggara forum-forum internasional dimaksud ternyata dimotori oleh para dosen, karyawan dan sebagaian mahasiswa pascasarajana. Hampir setiap forum internasional yang diselenggarakan di luar negeri khususnya Malaysia selalu melibatkan tenaga dosen mulai dari pimpinan acara hingga tataran level pelaksana. Jarang sekali mahasiwswa dilibatkan dan jika pun ada mereka adalah mahasiswa pascasarjana. Sedangkan kegiatan seminar internasional yang diselenggarakan di Indonesia sering dan selalu melibatkan mahasiswa-mahasiswa S1, bahkan di Universitas Brawijaya ketua penyelenggaranya adalah mahasiswa S1.

Fenomena melibatkan mahasiswa S1 menjadi panitia penyelenggara kegiatan semacam seminar internasional meruapaka hal yang baik bagi pematangan ketrampilan softskills mahasiswa. Saya menyaksikan dan mengalami sendiri betapa sulit mengatur dengan baik terselengaranya suatu kegiatan yang menyertakan atau mengundang banyak orang apalagi bila yang hadir adalah para peserta dari berbagai negara. Fungsi-fungsi manajemen yang biasanya didiskusikan di ruang-ruang kuliah pada acara internasional itu tidak lagi perlu didiskusikan tetapi mesti langsung dipratekkan. Nah, disinilah saya lihat banyak sekali kelemahan dosen dalam mengeksekusi kegiatan yang diamanakan kepadanya untuk diselenaggarakan. Disana-sini mereka para penyelenggara disibukkan dengan implementasi di lapangfan yang melenceng darui perencanaan yang telah dibuat. Munculnya ganggauan dan problem yang terlambat diantisipasi serta berbagai kesemrawutan yang ternyata sangat merepotkan ketua dan anggota panitia meski mereka umumnya berpendidikan paling tinggi di unievrsitas (lulusan S3) dan tak sedikit yang bergelar guru besar (professor).

Berulangkali saya menyaksikan betapa memang tidak mudah mengatur dan mengarahkan banyak orang dalam kegiatan yang sebenarnya telah demikian matang, namun acapkali muncul masalah-masalah yang diluar dugaan. Dalam kondisi seperti itu tidak lagi diperlukan debat akademik yang berlama-lama sebagaimana terjadi di bangku kuliah tetapi solusi nyata berupa ide dan implementasi ide tersebut sebagai solusi terhadap masalah yang muncul tersebut. Saya bisa merasakan bahwa orang tinggi ilmunya secara akademik belum tentu mampu mengatasi problem di lapangan yang menuntut kecepatan dan ketepatan mengabil keputusan. Alur teoretis dan praktis kerap tidak menyabung menjadi satu kesatuan dalam diri orang tersebut. Tampaknya, hal ini menarik untuk diteliti lebih jauh mengapa pada umumnya orang yang berkutat dalam hal-hal yang bersifat teoretis tidak serta merta mampu dipratekkan dengan baik di lapangan pada saat yang bersangkutan dihadapan kondisi tersebut.  

Kembali tentang penyelenggaraan seminar internasional, seorang pimpinan seminar di Malaysia yang bergelar doktor itu merasa "iri" atas fenomena di Indonesia dalam suatu kegiatan seminar dimana banyak melibatkan mahasiswa S1 dalam kepanitiaan. Hal ini berbeda dengan di Malaysia. Mahasiswa S1 tidak ikut terlibat dalam kegiatan praktis semacam ini. Mereka (mahasiswa S1) di Malaysia mungkin dianggap tidak perlu menajamkan praktek manajerialnya melalui kegiatan itu, sehingga mereka hanya cukup belajar teori di bangku kuliah sekalipun mereka adalah mahasiswa manajemen atau ilmu-ilmu terapan lain yang terkait.

Dalam konteks ini saya kira kebiasaan di Indonesia yang melibatkan mahasiswa S1 dalam suatu kegiatan seminar internasional sudah merupakan langka tepat agar mereka bisa mengasah jiwa kepemimpinan dan kecakapan manajerialnya dilapangan. Teori-teori saja tidak cukup dia mesti dilengkapi dengan praktek terukur. Oleh karena itu kegiatan-kegiatan yang melibatkan mahasiswa S1 dalam forum-forum resmi seperti diatas mutlak dan harus dilakukan oleg pihak perguruan tinggi.

»»  Baca Lebih Lanjut...

Rabu, 27 Maret 2013

Albert Einstein



Albert Einstein (lahir di Ulm, Kerajaan Württemberg, Kerajaan Jerman, 14 Maret 1879 – meninggal di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, 18 April 1955 pada umur 76 tahun) adalah seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistika, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotolistrik dan "pengabdiannya bagi Fisika Teoretis".

Setelah teori relativitas umum dirumuskan, Einstein menjadi terkenal ke seluruh dunia, pencapaian yang tidak biasa bagi seorang ilmuwan. Di masa tuanya, keterkenalannya melampaui ketenaran semua ilmuwan dalam sejarah, dan dalam budaya populer, kata Einstein dianggap bersinonim dengan kecerdasan atau bahkan genius. Wajahnya merupakan salah satu yang paling dikenal di seluruh dunia.
Albert Einstein, Tokoh Abad Ini (Person of the Century)

Pada tahun 1999, Einstein dinamakan "Tokoh Abad Ini" oleh majalah Time.
Untuk menghargainya, sebuah satuan dalam fotokimia dinamai einstein, sebuah unsur kimia dinamai einsteinium, dan sebuah asteroid dinamai 2001 Einstein.

Rumus Einstein yang paling terkenal adalah E=mc²

Biografi

Masa muda dan universitas

Einstein dilahirkan di Ulm di Württemberg, Jerman; sekitar 100 km sebelah timur Stuttgart. Bapaknya bernama Hermann Einstein, seorang penjual ranjang bulu yang kemudian menjalani pekerjaan elektrokimia, dan ibunya bernama Pauline. Mereka menikah di Stuttgart-Bad Cannstatt. Keluarga mereka keturunan Yahudi; Albert disekolahkan di sekolah Katholik dan atas keinginan ibunya dia diberi pelajaran biola.

Pada umur lima tahun, ayahnya menunjukkan kompas kantung, dan Einstein menyadari bahwa sesuatu di ruang yang "kosong" ini beraksi terhadap jarum di kompas tersebut; dia kemudian menjelaskan pengalamannya ini sebagai salah satu saat yang paling menggugah dalam hidupnya. Meskipun dia membuat model dan alat mekanik sebagai hobi, dia dianggap sebagai pelajar yang lambat, kemungkinan disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya (diteliti setelah kematiannya). Dia kemudian diberikan penghargaan untuk teori relativitasnya karena kelambatannya ini, dan berkata dengan berpikir dalam tentang ruang dan waktu dari anak-anak lainnya, dia mampu mengembangkan kepandaian yang lebih berkembang. Pendapat lainnya, berkembang belakangan ini, tentang perkembangan mentalnya adalah dia menderita Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme.

Einstein mulai belajar matematika pada umur dua belas tahun. Ada gosip bahwa dia gagal dalam matematika dalam jenjang pendidikannya, tetapi ini tidak benar; penggantian dalam penilaian membuat bingung pada tahun berikutnya. Dua pamannya membantu mengembangkan ketertarikannya terhadap dunia intelek pada masa akhir kanak-kanaknya dan awal remaja dengan memberikan usulan dan buku tentang sains dan matematika.

Pada tahun 1894, dikarenakan kegagalan bisnis elektrokimia ayahnya, Einstein pindah dari München ke Pavia, Italia (dekat kota Milan). Albert tetap tinggal untuk menyelesaikan sekolah, menyelesaikan satu semester sebelum bergabung kembali dengan keluarganya di Pavia.

Kegagalannya dalam seni liberal dalam tes masuk Eidgenössische Technische Hochschule (Institut Teknologi Swiss Federal, di Zurich) pada tahun berikutnya adalah sebuah langkah mundur dia oleh keluarganya dikirim ke Aarau, Swiss, untuk menyelesaikan sekolah menengahnya, di mana dia menerima diploma pada tahun 1896, Einstein beberapa kali mendaftar di Eidgenössische Technische Hochschule. Pada tahun berikutnya dia melepas kewarganegaraan Württemberg, dan menjadi tak bekewarganegaraan.

Pada 1898, Einstein menemui dan jatuh cinta kepada Mileva Marić, seorang Serbia yang merupakan teman kelasnya (juga teman Nikola Tesla). Pada tahun 1900, dia diberikan gelar untuk mengajar oleh Eidgenössische Technische Hochschule dan diterima sebagai warga negara Swiss pada 1901. Selama masa ini Einstein mendiskusikan ketertarikannya terhadap sains kepada teman-teman dekatnya, termasuk Mileva. Dia dan Mileva memiliki seorang putri bernama Lieserl, lahir dalam bulan Januari tahun 1902. Lieserl Einstein, pada waktu itu, dianggap tidak legal karena orang tuanya tidak menikah.

Kerja dan Gelar Doktor

Pada saat kelulusannya Einstein tidak dapat menemukan pekerjaan mengajar, keterburuannya sebagai orang muda yang mudah membuat marah professornya. Ayah seorang teman kelas menolongnya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten teknik pemeriksa di Kantor Paten Swiss pada tahun 1902. Di sana, Einstein menilai aplikasi paten penemu untuk alat yang memerlukan pengetahuan fisika. Dia juga belajar menyadari pentingnya aplikasi dibanding dengan penjelasan yang buruk, dan belajar dari direktur bagaimana "menjelaskan dirinya secara benar". Dia kadang-kadang membetulkan desain mereka dan juga mengevaluasi kepraktisan hasil kerja mereka.

Einstein menikahi Mileva pada 6 Januari 1903. Pernikahan Einstein dengan Mileva, seorang matematikawan. Pada 14 Mei 1904, anak pertama dari pasangan ini, Hans Albert Einstein, lahir. Pada 1904, posisi Einstein di Kantor Paten Swiss menjadi tetap. Dia mendapatkan gelar doktor setelah menyerahkan thesis "Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen" ("On a new determination of molecular dimensions") pada tahun 1905 dari Universitas Zürich.

Pada tahun yang sama dia menulis empat artikel yang memberikan dasar fisika modern, tanpa banyak sastra sains yang dapat ia tunjuk atau banyak kolega dalam sains yang dapat ia diskusikan tentang teorinya. Banyak fisikawan setuju bahwa ketiga thesis itu (tentang gerak Brownian), efek fotolistrik, dan relativitas khusus) pantas mendapat Penghargaan Nobel. Tetapi hanya thesis tentang efek fotoelektrik yang mendapatkan penghargaan tersebut. Ini adalah sebuah ironi, bukan hanya karena Einstein lebih tahu banyak tentang relativitas, tetapi juga karena efek fotoelektrik adalah sebuah fenomena kuantum, dan Einstein menjadi terbebas dari jalan dalam teori kuantum. Yang membuat thesisnya luar biasa adalah, dalam setiap kasus, Einstein dengan yakin mengambil ide dari teori fisika ke konsekuensi logis dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade.

Dia menyerahkan thesis-thesisnya ke "Annalen der Physik". Mereka biasanya ditujukan kepada "Annus Mirabilis Papers" (dari Latin: Tahun luar biasa). Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi (IUPAP) merencanakan untuk merayakan 100 tahun publikasi pekerjaan Einstein pada tahun 1905 sebagai Tahun Fisika 2005.

Gerakan Brownian

Di artikel pertamanya pada tahun 1905 bernama "On the Motion—Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat—of Small Particles Suspended in a Stationary Liquid", mencakup penelitian tentang gerakan Brownian. Menggunakan teori kinetik cairan yang pada saat itu kontroversial, dia menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang penjelasan yang memuaskan setelah beberapa dekade setelah ia pertama kali diamati, memberikan bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom. Dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika, yang pada saat itu juga kontroversial.

Sebelum thesis ini, atom dikenal sebagai konsep yang berguna, tetapi fisikawan dan kimiawan berdebat dengan sengit apakah atom itu benar-benar suatu benda yang nyata. Diskusi statistik Einstein tentang kelakuan atom memberikan pelaku eksperimen sebuah cara untuk menghitung atom hanya dengan melihat melalui mikroskop biasa. Wilhelm Ostwald, seorang pemimpin sekolah anti-atom, kemudian memberitahu Arnold Sommerfeld bahwa ia telah berkonversi kepada penjelasan komplit Einstein tentang gerakan Brown.
»»  Baca Lebih Lanjut...

Posting Kami