Tampilkan postingan dengan label Knowledge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Knowledge. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Oktober 2013

Download Kumpulan Artikel Ekonomi

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN
Gambaran umum analisis laporan keuangan download
Auditing dan analisis laporan keuangan download
Kualitas laba download
Analisis aktivitas pendanaan download
Analisis aktivitas investasi download
Analisis aktivitas investasi (topik khusus) download
Analisis aktivitas operasi download
Analisis arus kas download
Return on invested capital (ROIC) dan analisis profitabilitas download
Return on invested capital (ROIC) dan Analisis Profitabilitas: Diversifived Company download
Analisis prospek masa depan download
Analisis Kredit, likuiditas download
Analisis ekuitas dan penilaian lainnya download

PELAPORAN KEUANGAN
Kerangka konseptual dan pelaporan keuangan download
Pengaplikasian PSAK sehubungan berbagai jenis aset download
Pengaplikasian PSAK sehubungan kewajiban dan ekuitas download
Imbalan kerja dan akuntansi dana pensiun download
Pendapatan dan beban download
Penggabungan usaha download
Financial instrumen dan traksaksi mata uang asing download
Derivatif dan lindung nilai download
Transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa download
Laporan keuangan interim dan IPO download
SAK Etap (1-14) download
SAK Etap (15-30) download
Akuntansi perhotelan download
Pedoman akuntansi BPR download

AUDITING
Standar pekerjaan lapangan download
Proses bisnis dan pertimbangan lainnya download
Bukti Audit serta prosedur dan dokumentasi audit download
Penerapan Prosedur Audit dan Penyelesaian Audit download
Penyelesaian audit download
Prosedur kompilasi dan reviu, serta atestasi kepatuhan download
Audit aktiva tetap download

ETIKA BISNIS
Teori etika dan prinsip etika dalam bisnis download
Lingkungan etika dan akuntansi download
Tata kelola etis dan akuntabilitas download
Pendekatan dalam pengambilan keputusan etis download
Etika profesi akuntansi download
Mengelola risiko etika dan manajemen krisis download
Etika dalam praktik auditing dan konsultasi manajemen download
Etika dalam praktik akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan download
Etika dalam praktik investasi dan pasar modal download
Etika dalam praktik ASP download
Etika dalam praktik perpajakan download
Etika dalam praktik bisnis download

PERPAJAKAN
Sistem perpajakan di indonesia download
Ketentuan umum dan tata cara perpajakan download
Pajak penghasilan download
Rekonsiliasi fiskal download
Penyelesaian pajak akhir tahun download
Pajak dipotong atau dipungut pihak lain download
Konsep dasar PPN dan PPnBM download
Ketentuan khusus PPN dan PPnBM download
Pajak daerah dan pajak lainnya download
Konsep dasar pajak internasional download
Penghindaran pajak berganda download
Strategi perencanaan dan manajemen pajak perusahaan download

SISTEM INFORMASI
Konsep Sistem, informasi, dan STI download
Teknologi komputer dan peningkatan SIA dengan sistem jaringan download
Aplikasi di level-level organisasi download
Sistem informasi strategik dan e-commerce download
Metode konvensional dan alternatif download
Pengelolaan etika dan politik download
Manajemen data download
Risk ekposure, Sistem Pengendalian Intern, pengendalian umum dan aplikasi download
Keamanan dan auditing Sistem Informasi download
Siklus pendapatan dan siklus pengeluaran kas download

password: zetzu.blogspot.com
»»  Baca Lebih Lanjut...

Sabtu, 02 Januari 2010

Etika Bisnis

PENGERTIAN ETIKA BISNIS
Etika bisnis, selanjutnya disingkat EB, merupakan etika khusus (terapan) yang pada awalnya berkembang di Amerika Serikat. Sebagai cabang filsafat terapan, etika bisnis menyoroti segi-segi moral perilaku manusia yang mempunyai profesi di bidang bisnis dan manajemen. Oleh karena itu, etika bisnis dapat dilihat sebagai usaha untuk merumuskan dan menerapkan prinsip-prinsip etika dibidang hubungan ekonomi antar manusia. Secara terperinci, Richard T.de George menyebut bahwa etika bisnis menyangkut empat kegiatan sebagai berikut:
1. penerapan prinsip-prinsip umum dalam praktik bisnis. Berdasarkan prinsi-prinsip etuka bisnis itu kita dapat menyoroti dan menilai apakah suatu keputusan atau tindakan yang diambil dalam dunia bisnis secara moral dapat dibenarkan atau tidak. Dengan demikian etik bisnis membantu pra pelaku bisnis untuk mencari cara guna mencegah tindakan yang dinilai tidak etis.
2. etika bisnis tidak hanya menyangkut penerapan prinsip-prinsip etika pada dunia bisnis, tetapi juga metaetika. Dalam hubungan ini, etika bisnis mengkaji apakah perilaku yang dinilai etis pada individu juga dapat berlaku pada organisais atau perusahaan bisnis. Selanjutnya etika bisnis menyoroti apakah perusahaan mempunyai tanggung jawab sosial atau tidak.
3. bidang telaah etika bisnis menyangkut pandangan – pandangan mengenai bisnis. Dalam hal ini, etika bisnis mengkaji moralitas sistem ekonomi pada umumnya dan sistem ekonomi publik pada khususnya, misalnya masalah keadilan sosial, hak milik, dan persaingan.
4. etika bisnis juga menyentuh bidang yang sangat makro, seperti operasi perusahaan multinasional, jaringan konglomerat internasional, dan lain- lain.
Tujuan etika bisnis adalah menggugah kesadaran moral para pelaku bisnis untuk menjalankan good business dan tidak melakukan monkey business atau dirty business. Etika bisnis mengajak para pelaku bisnis mewujudkan citra dan manajemen bisnis yang baik (etis) agar bisnis itu pantas dimasuki oleh semua orang yang mempercayai adanya dimensi etis dalam dunia bisnis. Hal ini sekaligus menghalau citra buruk dunia bisnis sebagai kegiatan yang kotor, licik, dan tipu muslihat. Kegiatan bisnis mempunyai implikasi etis, dan oleh karenanya membawa serta tanggungjawab etis bagi pelakunya
Etika Bisnis adalah seni dan disiplin dalam menerapkan prinsip-prinsip etika untuk mengkaji dan memecahkan masalah-masalah moral yang kompleks. (Weis) .
Etika Bisnis merupakan studi mengenai bagaimana norma moral personal diaplikasikan ke dalam aktivitas dan tujuan perusahaan (Laura Nash).

SASARAN DAN RUANG LINGKUP ETIKA BISNIS
Setelah melihat penting dan relevansi etika bisnis ada baiknya jika kita tinjau lebih lanjut apa saja sasaran dan lingkup etika bisnis itu. Ada tiga sasaran dan ruang lingkup pokok etika bisnis di sini, yaitu:
1. Etika bisnis sebagai etika profesi membahas berbagai prinsip, kondisi, dan masalah yang terkait dengan praktek bisnis yang baik dan etis. Dengan kata lain, etika bisnis pertama-tama bertujuan untuk menghimbau para pelaku bisnis untuk menjalankan bisnis secara baik dan etis.
2. Menyadarkan masyarakat, khususnya konsumen, buruh, atau karyawan dan masyarakatluas pemilik aset umum semacam lingkungan hidup, akan hak dan kepentingan mereka yang tidak boleh dilanggar oleh praktek bisnis siapa pun juga. Pada tingkat ini, etika bisnis berfungsi untuk menggugah masyarakat untuk bertindak menuntut para pelaku bisnis untuk berbisnis secara baik demi terjaminnya hak dan kepentingan masyarakat tersebut. Etik bisnis mengajak masyarakat luas, entah sebagai kartawan, konsumen, atau pemakai aset umum lainnya yan gberkaitan dengan kegiatan bisnis, untuk sadar dan berjuang menuntut haknya atau paling kurang agar hak dan kepentingannya tidak dirugikan oleh kegiatan bisnis pihak mana pun.
3. Etika bisnis juga berbicara mengenai sistem ekonomi yang sangat menentukan etis tidaknya suatu praktek bisnis. Dalam hal ini, etika bisnis lebih bersifat makro, yang karena itu barang kali lebih tepat disebut etika ekonomi. Dalam lingkup makro semacam ini, etika bisnis berbicara mengenai monopoli, oligopoli, kolusi, dan praktek-praktek semacamnya yang akan sangatmempengaruhi tidak saja sehat tidaknya suatu ekonomi melainkan juga baik tidaknya praktek bisnis dalam sebuah negara.

TINGKATAN ETIKA BISNIS
Weiss(1995:9) mengutip pendapat Carroll( 1989) membahas lima tingkatan etika bisnis, yaitu individual, organisasional, asosiasi, masyarakat, dan internasional.
1. Tingkat individual, menyangkut apakah seseorang akan berbohong mengenai rekening pengeluaran, mengatakan rekan sejawat sedang sakit karena tidak ada di tempat kerja, menerima suap, mengikuti saran teman sekerja sekalipun melampaui perintah atasan. Jika masalah etis hanya terbatas pada tanggung jawab individual, maka seseorang harus memeriksa motif dan standar etikanya sebelum mengambil keputusan.
2. Tingkat organisasional, masalah etis muncul apabila seseorang atau kelompok orang ditekan untuk mengabaikan atau memaafkan kesalahan yang dilakukan oleh sejawat demi kepentingan keharmonisan perusahaan atau jika seorang karyawan disuruh melakukan perbuatan yang tidak sah demi keuntungan unit kerjanya.
3. Tingkat asosiasi, seorang akuntan, penasihat,dokter, dan konsultan manajer harus melihat anggaran dasar atau kode etik organisasi profresinya sebagai pedoman sebelum ia memberikan saran pada kliennya.
4. Tingkat masyarakat, hukum, norma, kebiasaan dan tradisi menentukan perbuatan yang dapat diterima secara sah. Ketentuan ini tidak mesti berlaku sama di semua negara. Oleh karena itu, kita perlu berkonsultasi dengan orang atu badan yang dapat dipercaya sebelum melakukan kegiatan bisnis di negara lain.
5. Tingkat internasional, masalah-msalah etis menjadi lebih rumit untuk dipecahkan karena faktor nilai-nilai dan budaya, politik dan agama ikut berperan. Oleh karena itu, konstitusi, hukum, dan kebiasaan perlu dipahami dengan baik sebelum seesorang mengambil keputusan.

Prinsip-prinsip Etika Bisnis
Keraf (1994:71-75) menyebutkan terdapat lima prinsip etika bisnis yaitu:
1. Prinsip Otonomi. Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri. Bertindak secara otonom mengandaikan adanya kebebasan mengambil keputusan dan bertindak menurut keputusan itu. Otonomi juga mengandaikan adanya tanggung jawab. Dalam dunia bisnis, tanggung jawab seseorang meliputi tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, pemilik perusahaan, konsumen, pemerintah, dan masyarakat.
2. Prinsip Kejujuran. Prinsip kejujuran meliputi pemenuhan syarat-syarat perjanjian atau kontrak, mutu barang atau jasa yang ditawarkan, dan hubungan kerja dalam perusahaan. Prinsip ini paling problematik karena masih banyak pelaku bisnis melakukan penipuan.
3. Prinsip Tidak Berbuat Jahat dan Berbuat Baik. Prinsip ini mengarahkan agar kita secara aktif dan maksimal berbuat baik atau menguntungkan orang lain, dan apabila hal itu tidak bisa dilakukan, kita minimal tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau mitra bisnis.
4. Prinsip Keadilan. Prinsip ini menuntut agar kita memberikan apa yang menjadi hak seseorang di mana prestasi dibalas dengan kontra prestasi yang sama nilainya.
5. Prinsip Hormat Pada Diri Sendiri. Prinsip ini mengarahkan agar kita memperlakukan seseorang sebagaimana kita ingin diperlakukan dan tidak akan memperlakukan orang lain sebagaimana kita tidak ingin diperlakukan.

Relativitas Moral Dalam Bisnis
Menurut De George, ada tiga pandangan umum yang dianut. Pandangan pertama adalah norma etis berbeda antara 1 tempat dengan tempat lainnya. Artinya perusahaan harus mengikuti norma dan aturan moral yang berlaku di negara tempat perusahaan tersebut beroperasi. Yang menjadi persoalan adalah anggapan bahwa tidak ada nilai dan norma moral yang bersifat universal yang berlaku di semua negara dan masyarakat, bahwa nilai dan norma moral yang berlaku di suatu negara berbeda dengan yang berlaku di negara lain. Oleh karena itu, menurut pandangan ini norma dan nilai moral bersifat relatif. Ini tidak benar, karena bagaimanapun mencuri, merampas, dan menipu dimanapun juga akan dikecam dan dianggap tidak etis.
Pandangan kedua adalah bahwa nilai dan norma moral sendiri paling benar dalam arti tertentu mewakili kubu moralisme universal, yaitu bahwa pada dasarnya norma dan nilai moral berlaku universal, dan karena itu apa yang dianggap benar di negara sendiri harus diberlakukan juga di negara lain (karena anggapan bahwa di negara lain prinsip itu pun pasti berlaku dengan sendirinya). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa moralitas menyangkut baik buruknya perilaku manusia sebagai manusia, oleh karena itu sejauh manusia adalah manusia, dimanapun dia berada prinsip, nilai, dan norma moral itu akan tetap berlaku.
Pandangan ketiga adalah immoralis naif. Pandangan ini menyebutkan bahwa tidak ada norma moral yang perlu diikuti sama sekali.

Kendala-kendala Pelaksanaan Etika Bisnis
Pelaksanaan prinsip-prinsip etika bisnis di Indonesia masih berhadapan dengan beberapa masalah dan kendala. Keraf(1993:81-83) menyebut beberapa kendala tersebut yaitu:
1. Standar moral para pelaku bisnis pada umumnya masih lemah. Banyak di antara pelaku bisnis yang lebih suka menempuh jalan pintas, bahkan menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan dengan mengabaikan etika bisnis, seperti memalsukan campuran, timbangan, ukuran, menjual barang yang kadaluwarsa, dan memanipulasi laporan keuangan.
2. Banyak perusahaan yang mengalami konflik kepentingan. Konflik kepentingan ini muncul karena adanya ketidaksesuaian antara nilai pribadi yang dianutnya atau antara peraturan yang berlaku dengan tujuan yang hendak dicapainya, atau konflik antara nilai pribadi yang dianutnya dengan praktik bisnis yang dilakukan oleh sebagian besar perusahaan lainnya, atau antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan masyarakat. Orang-orang yang kurang teguh standar moralnya bisa jadi akan gagal karena mereka mengejar tujuan dengan mengabaikan peraturan.
3. Situasi politik dan ekonomi yang belum stabil. Hal ini diperkeruh oleh banyaknya sandiwara politik yang dimainkan oleh para elit politik, yang di satu sisi membingungkan masyarakat luas dan di sisi lainnya memberi kesempatan bagi pihak yang mencari dukungan elit politik guna keberhasilan usaha bisnisnya. Situasi ekonomi yang buruk tidak jarang menimbulkan spekulasi untuk memanfaatkan peluang guna memperoleh keuntungan tanpa menghiraukan akibatnya.
4. Lemahnya penegakan hukum. Banyak orang yang sudah divonis bersalah di pengadilan bisa bebas berkeliaran dan tetap memangku jabatannya di pemerintahan. Kondisi ini mempersulit upaya untuk memotivasi pelaku bisnis menegakkan norma-norma etika.
5. Belum ada organisasi profesi bisnis dan manajemen untuk menegakkan kode etik bisnis dan manajemen. Organisasi seperti KADIN beserta asosiasi perusahaan di bawahnya belum secara khusus menangani penyusunan dan penegakkan kode etik bisnis dan manajemen. Di Amerika Serikat terdapat sebuah badan independen yang berfungsi sebagai badan register akreditasi perusahaan, yaitu American Society for Quality Control (ASQC)

Antara Keuntungan dan Etika
Tujuan utama bisnis adalah mengejar keuntungan. Keuntungan adalah hal yang pokok bagi kelangsungan bisnis, walaupun bukan merupakan tujuan satu-satunya, sebagaimana dianut pandangan bisnis yang ideal. Dari sudut pandang etika, keuntungan bukanlah hal yang buruk. Bahkan secara moral keuntungan merupakan hal yang baik dan diterima. Karena :
Keuntungan memungkinkan perusahaan bertahan dalam usaha bisnisnya.
Tanpa memeperoleh keuntungan tidak ada pemilik modal yang bersedia menanamkan modalnya, dan karena itu berarti tidak akan terjadi aktivitas ekonomi yang produktif demi memacu pertumbuhan ekonomi yang menjamin kemakmuran nasional.
Keuntungan memungkinkan perusahaan tidak hanya bertahan melainkan juga dapat menghidupi karyawan-karyawannya bahkan pada tingkat dan taraf hidup yang lebih baik.
Ada beberapa argumen yang dapat diajukan disini untuk menunjukkan bahwa justru demi memperoleh keuntungan etika sangat dibutuhkan , sangat relevan, dan mempunyai tempat yang sangat strategis dalam bisnis`dewasa ini.
Pertama, dalam bisnis modern dewasa ini, para pelaku bisnis dituntut menjadi orang-orang profesional di bidangnya.
Kedua dalam persaingan bisnis yang ketat para pelaku bisnis modern sangat sadar bahwa konsumen adalah benar-benar raja. Karena itu hal yang paling pokok untuk bisa untung dan bertahan dalam pasar penuh persaingan adalah sejauh mana suatu perusahaan bisa merebut dan mempertahankan kepercayaan konsumen.
Ketiga, dalam sistem pasar terbuka dengan peran pemerintah yang bersifat netral tak berpihak tetapi efektif menjaga agar kepentingan dan hak semua pemerintah dijamin, para pelaku bisnis berusaha sebisa mungkin untuk menghindari campur tangan pemerintah, yang baginya akan sangat merugikan kelangsungan bisnisnya. Slaah satu cara yang paling efektif adalah dengan menjalankan bisnisnya bisnisnya secara secara baik dan etis yaitu dengan menjalankan bisnis sedemikian rupa tanpa secara sengaja merugikan hak dan kepentinga semua pihak yang terkait dengan bisnisnya.
Keempat, perusahaan-perusahaan modern juga semakin menyadari bahwa karyawan bukanlah tenaga yang siap untuk eksploitasi demi mengeruk keuntunga yang sebesar-besarnya. Justru sebaliknya, karyawan semakin dianggap sebagai subjek utama dari bisnis suatu perusahaan yang sangat menentukan berhasil tidaknya, bertahan tidaknya perusahaan tersebut.
Bismis sangat berkaitan dengan etika bahkan sangat mengandalkan etika. Dengan kata lain, bisnis memang punya etika dan karena itu etika bisnis memang relevan untuk dibicarakan. Argumen mengenai keterkaitan antara tujuan bisnis dan mencari keuntungan dan etika memperlihatkan bahwa dalam iklim bisnis yang terbuka dan bebas, perusahaan yang menjalankan bisnisnya secara baik dan etis, yaitu perusahaan yang memperhatikan hak dan kepentingan semua pihak yang terkait dengan bisnisnya, akan berhasil dan bertahan dalam kegiatan bisnisnya.

Pro dan Kontra Etika dalam Bisnis
Mitos bisnis amoral
Bisnis adalah bisnis. Bisnis jangan dicampuradukkan dengan etika. Para pelaku bisnis adalah orang-orang yang bermoral, tetapi moralitas tersebut hanya berlaku dalam dunia pribadi mereka, begitu mereka terjun dalam dunia bisnis mereka akan masuk dalam permainan yang mempunyai kode etik tersendiri. Jika suatu permainan judi mempunyai aturan yang sah yang diterima, maka aturan itu juga diterima secara etis. Jika suatu praktik bisnis berlaku begitu umum di mana-mana, lama-lama praktik itu dianggap semacam norma dan banyak orang yang akan merasa harus menyesuaikan diri dengan norma itu. Dengan demikian, norma bisnis berbeda dari norma moral masyarakat pada umumnya, sehingga pertimbangan moral tidak tepat diberlakukan untuk bisnis dimana “sikap rakus adalah baik”(Ketut Rindjin, 2004:65).
Belakangan pandangan diatas mendapat kritik yang tajam, terutama dari tokoh etika Amerika Serikat, Richard T.de George. Ia mengemukakan alasan alasan tentang keniscayaan etika bisnis sebagai berikut.
Pertama, bisnis tidak dapat disamakan dengan permainan judi. Dalam bisnis memang dituntut keberanian mengambil risiko dan spekulasi, namun yang dipertaruhkan bukan hanya uang, melainkan juga dimensi kemanusiaan seperti nama bai kpengusaha, nasib karyawan, termasuk nasib-nasib orang lain pada umumnya.
Kedua, bisnis adalah bagian yang sangat penting dari masyarakat dan menyangkut kepentingan semua orang. Oleh karena itu, praktik bisnis mensyaratkan etika, disamping hukum positif sebagai acuan standar dlaam pengambilan keputusan dan kegiatan bisnis.
Ketiga, dilihat dari sudut pandang bisnis itu sendiri, praktik bisnis yang berhasil adalah memperhatikan norma-norma moral masyarakat, sehingga ia memperoleh kepercayaan dari masyarakat atas produ atau jasa yang dibuatnya.

Alasan Meningkatnya Perhatian Dunia Usaha Terhadap Etika Bisnis
  • Krisis publik tentang kepercayaan
  • Kepedulian terhadap kualitas kehidupan kerja
  • Hukuman terhadap tindakan yang tidak etis
  • Kekuatan kelompok pemerhati khusus
  • Peran media dan publisitas
  • Perubahan format organisasi dan etika perusahaan
Perubahan nilai-nilai masyarakat dan tuntutan terhadap dunia bisnis mengakibatkan adanya kebutuhan yang makin meningkat terhadap standar etika sebagai bagian dari kebijakan bisnis.
»»  Baca Lebih Lanjut...

Inflasi

Dalam ilmu ekonomi, inflasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis dalam pengelompokan tertentu, dan pengelompokan yang akan dipakai akan sangat bergantung pada tujuan yang hendak dicapai.
Jenis inflasi :
Berdasarkan persentasi atau nominal digit inflasinya
  1. Low Inflation (inflasi 1 digit) misalnya 1% s.d 9%, biasanya orang masih percaya dan memiliki daya beli dan juga nilai mata uang masih berharga.
  2. Inflation (inflasi dua digit) misalnya 10% s.d 99%, dimana orang mulai ragu, daya beli menurun, nilai mata uang menjadi semakin menurun.
  3. Inflation (inflasi tinggi diatas 100%) adalah proses kenaikan harga-harga yang sangat cepat, yang menyebabkan tingkat harga menjadi dua atau beberapa kali lipat dalam jangka waktu yang singkat,
    keadaan seperti ini orang-orang sudah tidak percaya pada mata uang. Dimana nilai nominal uang jadi tidak berharga jika situasi ini terjadi maka pemerintah melakukan Senering yaitu pemotongan nilai uang.
Berdasarkan kepada sumber atau penyebab kenaikan harga-harga yang berlaku
1. Inflasi tarikan Permintaan (Demand pull inflation), yaitu inflasi yang disebabkan oleh terlalu kuatnya peningkatan aggregate demand masyarakat terhadap komoditi-komoditi hasil produksi di pasar barang. Akibatnya, akan menarik (pull) kurva permintaan agregat ke arah kanan atas, sehingga terjadi excess demand , yang merupakan inflationary gap. Dan dalam kasus inflasi jenis ini, kenaikan harga-harga barang biasanya akan selalu diikuti dengan peningkatan output (GNP riil) dengan asumsi bila perekonomian masih belum mencapai kondisi full-employment.
Pengertian kenaikkan aggregate demand seringkali ditafsirkan berbeda oleh para ahli ekonomi. Golongan moneterist menganggap aggregate demand mengalami kenaikkan akibat dari ekspansi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Sedangkan, menurut golongan Keynesian kenaikkan aggregate demand dapat disebabkan oleh meningkatnya pengeluaran konsumsi, investasi, government expenditures, atau net export, walaupun tidak terjadi ekspansi jumlah uang beredar.
Inflasi ini biasanya terjadi pada masa perekonomian berkembang dengan pesat. Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan selanjutnya menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi mengeluarkan barang dan jasa.
2. Desakan Biaya (Demand pull inflation), yaitu inflasi yang disebabkan oleh terlalu kuatnya peningkatan aggregate demand masyarakat terhadap komoditi-komoditi hasil produksi di pasar barang. Akibatnya, akan menarik (pull) kurva permintaan agregat ke arah kanan atas, sehingga terjadi excess demand , yang merupakan inflationary gap. Dan dalam kasus inflasi jenis ini, kenaikan harga-harga barang biasanya akan selalu diikuti dengan peningkatan output (GNP riil) dengan asumsi bila perekonomian masih belum mencapai kondisi full-employment.
Pengertian kenaikkan aggregate demand seringkali ditafsirkan berbeda oleh para ahli ekonomi. Golongan moneterist menganggap aggregate demand mengalami kenaikkan akibat dari ekspansi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Sedangkan, menurut golongan Keynesian kenaikkan aggregate demand dapat disebabkan oleh meningkatnya pengeluaran konsumsi, investasi, governmentexpenditures, atau net export, walaupun tidak terjadi ekspansi jumlah uang beredar.
Inflasi ini berlaku dalam masa perekonomian berkembang dengan pesat ketika tingkat pengangguran sangat rendah. Apabila perusahaan menghadapi permintaan yang bertambah, mereka akan berusaha menaikan produksi dengan cara memberikan gaji dan upah yang lebih tinggi kepada pekerjanya dan mencari pekerja baru dengan tawaran yang lebih tinggi ini. Langkah ini mengakibatkan biaya produksi yang meningkat, yang akhirnya akan menyebabkan kenaikan harga-harga berbagai barang (inflasi).
3. Inflasi Diimpor (Cost push inflation), yaitu inflasi yang dikarenakan bergesernya aggregate supply curve ke arah kiri atas. Faktor-faktor yang menyebabkan aggregate supply curve bergeser tersebut adalah meningkatnya harga faktor-faktor produksi (baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri) di pasar faktor produksi, sehingga menyebabkan kenaikkan harga komoditi di pasar komoditi. Dalam kasus cost push inflation kenaikan harga seringkali diikuti oleh kelesuan usaha.
Inflasi dapat juga bersumber dari kenaikan harga barang-barang yang diimpor. Inflasi ini akan wujud apabila barang-barang impor mengalami kenaikan harga yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan pengeluran perusahaan-peruasahaan.

Berdasarkan kepada Asalnya
  • Domestic inflation, yaitu inflasi yang sepenuhnya disebabkan oleh kesalahan pengelolaan perekonomian baik di sektor riil ataupun di sektor moneter di dalam negeri oleh para pelaku ekonomi dan masyarakat.
  • Imported inflation, yaitu inflasi yang disebabkan oleh adanya kenaikan harga-harga komoditi di luar negeri (di negara asing yang memiliki hubungan perdagangan dengan negara yang bersangkutan). Inflasi ini hanya dapat terjadi pada negara yang menganut sistem perekonomian terbuka (open economy system). Dan, inflasi ini dapat ‘menular’ baik melalui harga barang-barang impor maupun harga barang-barang ekspor.
»»  Baca Lebih Lanjut...

Pengaruh Lingkungan Dalam Akuntansi

Kita telah menganalisa asal dari akuntansi dan bisnis internasional. Mari kita fokus lebih dalam lagi ke dalam faktor lingkungan lokal dan internasional yang mempengaruhi akuntansi. Dalam tingkat yang lebih luas, akuntansi perusahaan dan pengungkapan informasi praktis dipengaruhi oleh berbagai macam variasi dari segi ekonomi, sosial maupun politik. Hal ini termasuk sifat dari kepemilikan perusahaan, aktivitas bisnis, sumber keuangan, eksistensi dari profesi akuntansi itu sendiri, kondisi dari penelitian dan pendidikan akuntansi, sifat dari iklim politik, iklim sosial, tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, sifat dari hukum itu sendiri dan yang terakhir adalah sifat peraturan akuntansi itu sendiri.
Sifat asli dari sistem akuntansi dalam skala negara bervariasi relatif tergantung dari pengaruh lingkungan. Dalam tambahan pengaruh dari tradisi (sosial dan nasional) dalam tradisi akuntansi dan praktik perlu dimasukan ke dalam akun. Faktor internasional juga membawa perubahan dalam lingkungan yang menciptakan harmoni dalam akuntansi internasional. Salah satu faktor internasional penting adalah pengaruh dari koloni/ negara serikat. Negara yang bekas jajahan Inggris biasanya menggunakan pendekatan akuntansi Inggris, begitu pula dengan negara bekas jajahan Prancis. Sebagai tambahan, keanggotaan dalam perdagangan antar blok regional seperti Uni Eropa. Sering memberikan hasil dalam pemusatan standar akuntansi dalam negara yang tergabung dalam blok. Akhirnya UU akuntansi internasional dan organisasi intern yang berdedikasi untuk bergabung dalam standar akuntansi dunia bekerja keras untuk membereskan masalah ini. Sehingga investor bisa mengambil keputusan berdasarkan standar akuntansi beraku umum dan praktis yang berlaku diseluruh dunia.
 Dalam hal bentuk kepemilikan perusahaan, kebutuhan akan akuntabilitas dan pengungkapan terhadap publik akan lebih besar pada perusahaan terbatas daripada perusahaan perseorangan.
 Sumber pendanaan perusahaan yang diperoleh dari pemegang saham eksternal akan mengakibatkan keperluan yang lebih besar untuk akuntabilitas dan pengungkapan informasi ketimbang pada perusahaan yang pendanaannya berasal dari modal sendiri atau pinjaman bank.
 Perpajakan adalah faktor yang sangat penting ketika sebuah sistem akuntansi berada pada negara-negara yang ketat sistem dan hukum perpajakannya.
 Dimana suatu negara memiliki profesi akuntan yang sangat berkembang, maka disana akan cenderung terdapat penilaian sistem akuntansi publik yang lebih berkembang.
 Perkembangan profesi akuntansi juga sangat tergantung pada adanya infrastruktur yang baik untuk pendidikan dan riset akuntansi.
 Sistem politik mempengaruhi sistem akuntansi dalam halnya akuntansi akan merefleksikan filosofi dan objektifitas sistem politik negara masing-masing.
 Iklim sosial akan berpengaruh pada bagaimana cara penyampaian dan konsultasi terhadap para karyawan tentang permasalahan lingkungan.
 Bentuk perkembangan ekonomi negara sangat berpengaruh, seperti terdapat perbedaan yang signifikan antara negara agraris dan negara industrial.
 Inflasi biasanya dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi dan akan mempengaruhi sistem akuntansi dalam hal penilaian biaya.
 Peraturan perundang-undangan dan hukum juga akan berpengaruh pada sistem akuntansi.
 Faktor internasional mempengaruhi sistem akuntansi dalam hal bagaimana perubahan lingkungan dapat menciptakan keharmonisan dalam akuntansi internasional.
Pada dasarnya, pengaruh dari berbagai faktor ini adalah dinamis dan bervariasi antar negara dalam kurun waktu yang bervariasi juga. Selain itu, proses evaluasi dari berbagai kompleksitas tampaknya muncul dari hasil kerja yang tercermin dalam bertambahnya pengaruh aktivitas perdagangan internasional dan regional. Hal ini termasuk aktivitas MNEs dan organisasi internasional lainnya seperti UN (United Nation), Organization of Economic Corporation and Development (OECD) dan Uni Eropa. Dalam konteks Eropa, Uni Eropa khususnya berpengaruh secara signifikan dalam berbagai keputusan dalam penyelarasan akuntansi dan pengungkapan informasi menjadi legal dan tidak dipaksakan melalui proses pengimplementasian dalam hukum nasional dari negara anggota.
Sistem akuntansi dalam kecendrungan ekonomi sosialis sedikit berbeda dari mereka yang mengembangkan pasar ekonomi seperti negara-negara Amerika Serikat, Jepang dan Uni Eropa. Di negara mantan penganut sistem ekonomi sosialis seperti Rusia dan Eropa Timur. Sebagai contoh akuntansi; adalah proses pembuatan transisi ke arah pendekatan pasar. Sejauh akun umum dan membuat laporan dalam pasar ekonomi jika diperdulikan. Hal ini berbeda dengan yang diterapkan di negara yang tidak menganut paham sosialis.
»»  Baca Lebih Lanjut...

Profesi Akuntansi

Seseorang itu berhak menyandang gelar Akuntan bila telah memenuhi syarat antara lain: Pendidikan Sarjana jurusan Akuntansi dari Fakultas Ekonomi Perguruan Tinggi yang telah diakui, perguruan tinggi swasta yang berafiliasi ke salah satu perguruan tinggi yang telah berhak memberikan gelar Akuntan. Selain itu juga bisa mengikuti Ujian Nasional Akuntansi (UNA) yang diselenggarakan oleh konsorsium Pendidikan Tinggi Ilmu Ekonomi yang didirikan dengan SK Mendikbud RI tahun 1976.
Perkembangan profesi akuntansi sejalan dengan jenis jasa akuntansi yang diperlukan oleh masyarakat yang makin lama semakin bertambah kompleks. Gelar akuntan adalah gelar profesi seseorang dengan bobot yang dapat disamakan dengan bidang pekerjaan yang lain. Misalnya bidang hukum atau bidang teknik. Secara garis besar Akuntan dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Akuntan Publik (Public Accountant)
Akuntan publik adalah akuntan independen yang memberikan jasa-jasanya atas dasar pembayaran tertentu. Mereka ini bekerja bebas dan umumnya mendirikan suatu kantor akuntan. Seorang akuntan publik dapat melakukan pemeriksaan (audit), misalnya terhadap jasa perpajakan, jasa konsultasi manajemen, dan jasa penyusunan sistem manajemen.
b. Akuntan Intern (Internal Accountant)
Akuntan intern adalah akuntan yang bekerja dalam suatu perusahaan atau organisasi. Akuntan intern ini disebut juga akuntan perusahaan. Jabatan tersebut yang dapat diduduki mulai dari Staf biasa sampai dengan Kepala Bagian Akuntansi atau Direktur Keuangan. Tugas mereka adalah menyusun sistem akuntansi, menyusun laporan keuangan kepada pihak-pihak eksternal, menyusun laporan keuangan kepada pemimpin perusahaan, menyusun anggaran, penanganan masalah perpajakan dan pemeriksaan intern.
c. Akuntan Pemerintah
Akuntan pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada lembaga-lembaga pemerintah, misalnya di kantor Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pengawas Keuangan (BPK).
d. Akuntan Pendidik
Akuntan pendidik adalah akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi, melakukan penelitian dan pengembangan akuntansi, mengajar, menyusun kurikulum pendidikan akuntansi di perguruan tinggi.
Dari uraian di atas, dapat diambil pengertian bahwa gelar Akuntan itu pengakuannya adalah sama dengan gelar profesi lainnya seperti: Pengacara, Dokter, Notaris, dan lain-lain. Siapa saja bisa memperoleh gelar akuntan tersebut, termasuk Anda sendiri tentunya mulai sekarang harus giat belajar khususnya pelajaran dasar-dasar akuntansi ini.
»»  Baca Lebih Lanjut...

Akuntansi lebih dari sekadar Debit dan Kredit

Debit dan kredit merupakan jargon utama yang terpikirkan apabila mahasiswa baru memulai pembahasan tentang akuntansi. Akuntansi seringkali dikaitkan dengan seseorang yang “cupu”, berkacamata tebal, yang selalu asik berkutat dengan angka di depan komputer serta dilengkapi dengan kalkulator dagang yang besar. Akuntansi juga dipandang sebagai jurusan yang paling aman karena paradigma masyarakat yang beranggapan bahwa lulusan akuntansi pasti akan mudah diserap dalam pasar tenaga kerja. Sesungguhnya, akuntansi lebih dari semua pandangan awam tersebut.
Akuntansi adalah seni yang mendasarkan pada logika matematik yang sekarang dikenal sebagai “pembukuan berpasangan” (double-entry bookkeeping) dan sudah dipahami di Italia sejak tahun 1495. Akuntansi modern dikenal sebagai proses yang mengidentifikasi data keuangan, pencatatan, dan sebagai hasil akhirnya, pelaporan. Akuntansi, seringkali dirujuk sebagai “Bahasa Bisnis”. Mengapa demikian? Istilah ini merupakan ungkapan bahwa akuntansi digunakan sebagai alat komunikasi dalam bisnis. Yang dikomunikasikan adalah berbagai macam laporan keuangan yang kemudian disalurkan ke berbagai pihak yang membutuhkan (stakeholder) agar dapat digunakan untuk mengambil sebuah keputusan.
Tanpa adanya akuntansi, berbagai entitas bisnis, organisasi dan lembaga-lembaga yang menggeluti dunia perekonomian akan sulit mengawasi dan mengevaluasi sistem keuangannya. Apakah perusahaan sedang mengalami keuntungan? Atau sedang merugi? Apakah stok barang bertambah? Apakah secara ekonomis, nilai gedung pabrik berkurang? Berapakah total asset pemilik? Semua pertanyaan tersebut akan terjawab apabila entitas yang bersangkutan sudah menerapkan sistem akuntansi. Maka dari itu, seberapa pentingkah akuntansi? Jawabannya……amat sangat penting.
Praktisi akuntansi dikenal sebagai akuntan. Untuk meraih peredikat tersebut seseorang harus menempuh pendidikan Strata 1 Jurusan Akuntansi untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) dilanjutkan dengan menempuh Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk). Akuntan bersertifikat resmi memiliki gelar tertentu yang berbeda di tiap negara. Contohnya adalah Chartered Accountant (FCA, CA or ACA), Chartered Certified Accountant (ACCA atau FCCA), Management Accountant (ACMA, FCMA atau AICWA), Certified Public Accountant (CPA) dan Certified General Accountant (CGA). Di Indonesia, akuntan publik yang bersertifikat disebut CPA Indonesia (sebelumnya: BAP atau Bersertifikat Akuntan Publik).
Memang benar, keahlian akuntansi sifatnya esensial di segala bidang karena setiap bidang pekerjaan akan bermuara pada sektor perekonomian. Tetapi hal ini bukanlah sebuah pembenaran untuk berasumsi bahwa hanya dengan gelar Sarjana Ekonomi (S.E) atau Certified Public Accountant (CPA) seseorang akan secara mudah mendapatkan tempat dalam pasar tenaga kerja. Banyak kompetensi yang harus dikuasai, daya saing yang kuat serta kemampuan organisasi merupakan nilai tambah untuk para lulusan jurusan akuntansi agar dapat berkontribusi, secara signifikan, dalam dunia perekonomian.
Jadi, akuntansi tidak pantas diidentikkan dengan ke”cupu”an. Akuntansi lebih dari sekadar Debit dan Kredit karena akuntasi adalah ilmu, bahasa dan seni.
»»  Baca Lebih Lanjut...

Akuntansi Organisasi Nirlaba

STANDAR AKUNTANSI YANG BERLAKU UNTUK ORGANISASI NIRLABA
Organisasi nirlaba bisa berbentuk organisasi kesejahteraan dan kesehatan, lembaga, dan universitas. Dan setiap jenis organisasi tersebut memiliki kesamaan dalam tujuan organisasi, yaitu memberikan jasa (layanan) dan tidak mencari laba. Tapi tiap jenis organisasi tersebut bisa berbeda dalam hal sasaran, sumber pendanaan dan tingkat otonomi.
Organisasi nirlaba dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
• instansi pemerintah, dalam penerapan akuntansinya tunduk pada Standar Akuntansi Pemerintahan.
• bukan instansi pemerintah, dalam penerapan akuntansinya tunduk pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 45, tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba.
Organisasi nirlaba menggunakan basis akuntansi akrual untuk mengakui pendapatan dan bebannya.
Klasifikasi Aktiva Bersih
Penyajian aktiva bersih untuk organisasi nirlaba, dikelompokkan dalam 3 katagori yang dibedakan atas ada tidaknya pembatasan, yaitu:
a. aktiva bersih terikat permanen
Bagian dari aktiva bersih yang penggunaannya dibatasi oleh donatur (donor-imposed stipulation) yang tidak memiliki pembatasan waktu dan tidak dapat dipindahkan oleh organisasi.
b. aktiva bersih terikat temporer
Bagian dari aktiva bersih yang penggunaannya dibatasi oleh donator (donor-imposed stipulation) yang memiliki pembatasan waktu atau dapat dipindahkan oleh organisasi dengan melakukan pembatasan penggunaan (stipulation).
c. aktiva bersih tidak terikat
Bagian dari aktiva bersih yang tidak dibatasi penggunaannya oleh donatur (donor-imposed stipulation).
Kontribusi
Pada sebagian besar organisasi nirlaba, kontribusi (sumbangan) merupakan sumber utama pendapatan. Kontribusi adalah transfer kas atau aktiva lain tanpa syarat kepada organisasi atau suatu penyelesaian atau suatu pembatalan hutang-hutangnya, tidak secara timbal balik oleh organisasi lain yang tidak bertindak sebagai pemilik. Dari pengertian tersebut, kontribusi memiliki karakteristik sebagai berikut:
• transfer dilakukan tanpa syarat
• transfer ke atau dari suatu entitas yang bertindak bukan sebagai pemilik
• transfer dilakukan sukarela
• transfer tidak timbal balik
Janji adalah suatu kesepakatan lisan atau tertulis untuk menymbangkan kas atau aktiva lain kepada entitas lain. Janji harus dapat diverifikasi dengan bukti, seperti kartu jaminan, pita rekaman janji lisan. Janji dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. janji dengan syarat untuk memberi (conditional promises), tergantung pada terjadinya peristiwa masa depan dan peristiwa tertentu yang tidak pasti untuk mengikat si pemberi janji. Janji ini diakui sebagai pendapatan dan piutang sumbangan, jika syaratnya secara substansial terpenuhi.
b. janji tanpa syarat untuk memberi (unconditional promises), tergantung hanya pada saat berlalunya waktu atau pada permintaan si penerima janji atas kinerja yang dijanjikan. Janji tanpa syarat diakui sebagai pendapatan dan piutang pada saat janji diterima.
Sumbangan yang Terikat dan yang Tidak Terikat
Pembatasan oleh donatur menentukan lebih spesifik penggunaan aktiva yang disumbangkan, dibanding dengan suatu pembatasan pada penggunaan aktiva untuk tujuan umum organisasi. Informasi tentang pembatasan oleh donatur atas sumber daya sangat relevan bagi pemakai laporan keuangan, karena suatu pembatasan membatasi jasa yang dapat diberikan oleh organisasi nirlaba.
Sumbangan pada umumnya dihitung pada nilai wajarnya dan diakui sebagai pendapatan atau keuntungan pada periode diterimanya, atau beban, dan aktiva. Aktiva bersih dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
• meningkatkan aktiva bersih tidak terikat
• meningkatkan aktiva bersih terikat temporer
• meningkatkan aktiva bersih terikat permanen
Sedangkan sumbangan dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. Sumbangan yang tidak terikat penggunaannya, dilaporkan sebagai sumbangan yang tidak terikat yang meningkatkan aktiva bersih tidak terikat.
b. Sumbangan yang terikat penggunaannya, dilaporkan sebagai sumbangan yang terikat yang meningkatkan aktiva bersih terikat permanen maupun aktiva bersih terikat temporer.
Janji tanpa syarat untuk memberi dengan pembayaran yang jatuh tempo dalam periode yang akan datang, dilaporkan sebagai sumbangan yang terikat penggunaannya dalam periode janji tersebut diterima, atau sebagai pendapatan sumbangan dalam aktiva bersih yang terikat temporer dengan dasar pembatasan waktu.
Pembatasan yang ditetapkan oleh donatur dibedakan dengan syarat yang ditetapkan oleh donatur. Syarat yang ditetapkan oleh donatur (donor-imposed condition) menyebabkan donatur memperoleh kembali uangnya atau membebaskannya dari janji untuk memberi jika syarat tidak terpenuhi, seperti membatasi penggunaan aktiva.
Hibah berupa aktiva yang memiliki masa manfaat jangka panjang. Jika aktiva yang disumbangkan memiliki masa manfaat jangka panjang dibatasi oleh donatur untuk digunakan dalam periode tertentu, aktiva tersebut dilaporkan sebagai sumbangan yang dibatasi penggunaannya (restricted support) dalam aktiva bersih terikat permanen. Penyusutan dicatat sebagai beban dalam aktiva bersih tidak terikat, dan terdapat reklasifikasi untuk jumlah penyusutan dari terikat temporer menjadi aktiva bersih tidak terikat.
Jika donatur menyumbangkan aktiva yang memiliki masa manfaat jangka panjang tanpa pembatasan atau jika aktiva dibeli dengan sumbangan yang dibatasi penggunaannya untuk perolehan aktiva yang memiliki masa manfaat jangka panjang, maka organisasi bisa memilih metode akuntansi dibawah ini, yang mana harus diterapkan secara konsisten dan diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:
a. aktiva sumbangan yang memiliki masa manfaat jangka panjang dengan suatu pembatasan waktu oleh donatur secara eksplisit atau aktiva yang dibeli dari sumbangan yang dibatasi penggunaannya, maka hibah dilaporkan sebagai sumbangan yang dibatasi penggunaannya dalam aktiva bersih terikat temporer. Penyusutan dicatat sebagai beban dalam aktiva bersih tidak terikat dengan reklasifikasi untuk jumlah penyusutan dari terikat temporer berubah menjadi aktiva bersih tidak terikat.
b. Jika tidak ada pembatasan waktu dan tidak ada pembatasan oleh donatur, maka hibah merupakan sumbangan yang tidak dibatasi penggunaannya. Dan kebijakan akuntansi harus diungkapkan.
Berakhirnya pembatasan yang ditetapkan oleh donatur. Berakhirnya suatu pembatasan yang ditetapkan oleh donatur diakui dalam periode dimana pembatasan berakhir. Beban yang timbul karena berakhirnya pembatasan dilaporkan dalam laporan keuangan sebagai penurunan dari aktiva bersih yang tidak terikat. Dan aktiva tersebut dipindahkan dalam akun “aktiva bersih yang dibebaskan dari pembatasan” yang termasuk dalam kelompok aktiva bersih tidak terikat, dan dilaporkan dalam laporan aktivitas.
Jika pembatasan oleh donatur terpenuhi dalam periode yang sama dengan saat diterimanya kontribusi, maka kontribusi dilaporkan sebagai tidak terikat dengan catatan kebijakan harus diungkapkan dalam catatan dan diterapkan secara konsisten organisasi harus memiliki kebijakan yang sama untuk pendapatan investasi terikat temporer diminta pembatasan terpenuhi dalam periode diakuinya pendapatan.
Investasi dan pendapatan investasi
Investasi pada organisasi nirlaba pada awalnya dicatat pada biaya perolehan, sedangkan investasi yang diterima sebagai sumbangan atau kontribusi dicatat pada nilai wajarnya, dalam kelompok aktiva bersih yang sesuai.
Pendapatan investasi harus diakui sebagai pendapatan yang masih harus diterima (earned), dan dilaporkan sebagai peningkatan dalam aktiva bersih tidak terikat temporer atau permanen. Keuntungan dan kerugian yang direalisasi (realized) diakui pada saat investasi dijual, dan dilaporkan sebagai perubahan dalam aktiva bersih tidak terikat, terikat temporer atau permanen.
Transfer yang bukan merupakan kontribusi
Biasanya mencakup transfer yang berupa transaksi pertukaran; transfer dimana entitas nirlaba bertindak sebagai agen, trustee, perantara sumbangan; hibah berupa kebendaan tanpa keleluasaan dalam pemakaian sumber daya.
Transaksi pertukaran
Transaksi pertukaran merupakan transfer secara timbal balik dimana kedua belah pihak memberi dan menerima jumlah yang sama. Misalnya jika donatur menerima hibah yang bernilai sama dengan sumbangan. Sumber daya yang diterima dalam transaksi pertukaran merupakan pendapatan dan aktiva bersih tidak terikat, meskipun jika penyedia sumber daya membatasi penggunaan sumber daya tersebut.
Transaksi keagenan
Transaksi keagenan adalah sesuatu aktiva yang ditransfer kepada organisasi nirlaba namun organisasi tersebut hanya memiliki sedikit atau tidak ada sama sekali keleluasaan untuk menggunakan aktiva tersebut, dan aktiva diteruskan kembali pada pihak ketiga. Penyedia sumber daya menggunakan entitas nirlaba sebagai agen atau perantara untuk mentransfer aktiva kepada pihak ketiga yang menerima. Penerimaan aktiva dalam transaksi keagenan meningkatkan aktiva dan kewajiban entitas nirlaba, dan pengeluaran aktiva akan menurunkan aktiva dan kewajiban.
Hibah berupa kebendaan
Hibah berupa kebendaan atau barang merupakan kontribusi jika entitas nirlaba memiliki keleluasaan dalam pemakaian sumber daya. Jika keleluasaan memakai yang dimiliki hanya sedikit atau tidak ada sama sekali, maka hibah dipertanggungjawabkan sebagai transaksi keagenan.
Jasa yang disumbangkan
Jasa yang disumbangkan diakui hanya jika jasa yang diterima:
1. menciptakan atau meningkatkan aktiva non keuangan dari organisasi, atau
2. memerlukan ketrampilan khusus, yang disediakan oleh seseorang yang memiliki ketrampilan tersebut, umumnya jasa ini harus dibeli jika tidak tersedia melalui sumbangan
Prinsip-prinsip Pengukuran
Dalam Statement of Financial Accounting Standards (SFAS) No. 116 dikatakan bahwa harga pasar merupakan taksiran paling baik atas nilai wajar suatu aktiva moneter dan non moneter. Metode penilaian lain yang mungkin digunakan adalah harga pasar dari aktiva atau penilaian independen yang sejenis.
Janji memberi tanpa syarat (unconditional promises to give). Pendapatan kontribusi dan piutang terkait diukur pada nilai wajar dari aktiva yang diterima atau kewajiban yang dinikmati. Perubahan pada nilai wajar aktiva yang disumbangkan dalam periode antara tanggal dicatat sebagai pendapatan, dengan tanggal diterimanya, dipertanggungjawabkan sebagai:
• tidak ada tambahan pendapatan yang diakui, jika nilai wajar meningkat
• jika nilai wajar turun, perbedaannya diakui dalam periode terjadinya penurunan, dan dilaporkan sebagai perubahan dalam kelompok aktiva bersih, dimana pendapatan mula-mula dilaporkan atau dalam kelompok dimana aktiva bersih disajikan
Janji memberi tanpa syarat yang diharapkan diterima dalam satu tahun dari tanggal laporan keuangan dapat diukur pada nilai yang dapat direalisasi. Sedangkan janji memberi tanpa syarat yang tidak diharapkan diterima dalam satu tahun diukur pada nilai sekarang (present value) dari jumlah yang diharapkan akan diterima (taksiran arus kas masa depan).
Janji memberi dengan syarat. Janji memberi dengan syarat diukur pada nilai wajar pada saat diterima. Janji memberi dengan syarat tidak dicatat sebagai pendapatan kontribusi sampai janji tersebut diterima, atau menjadi tanpa syarat.
Kolekte
SFAS No. 116 menganjurkan dilakukannya kapitalisasi kolekte karya seni, harta karun sejarah, dan pos-pos lain secara retroaktif. Kolekte dapat dikapitalisasi secara retroaktif menggunakan biaya perolehan atau nilai wajar, biaya sekarang, atau nilai pasar sekarang.
Pos-pos kolekte yang disumbangkan harus diakui sebagai pendapatan atau keuntungan, jika kolektenya dikapitalisasi. Dan tidak boleh diakui, jika kolekte tidak dikapitalisasi. Untuk pos-pos kolekte yang diakui, maka biaya pos-pos kolekte dan hasil penerimaan dari penjualan serta hasil penerimaan dari pengembalian asuransi, disajikan sebagai kenaikan atau penurunan dari kelompok aktiva yang sesuai dalam laporan aktivitas, terpisah dari pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian.
Laporan Keuangan
PSAK No. 45 mensyaratkan bagi organisasi nirlaba untuk menyediakan seperangkat laporan keuangan lengkap yang meliputi, laporan posisi keuangan, laporan aktivitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Karakteristik laporan ini adalah:
• menyajikan aktiva, kewajiban dan aktiva bersih
• aktiva bersih dilaporkan secara total, dan dibagi menurut ketiga kelompok aktiva bersih, yaitu tidak terikat, terikat temporer, dan terikat permanen
Aktiva dan kewajiban yang sejenis harus disatukan dalam kelompok homogen. Aktiva dan kewajiban disajikan sesuai tingkat likuiditasnya, dan dikelompokkan dalam lancar dan tidak lancar, pengungkapan tentang likuiditas dan pembatasan bisa disediakan dalam catatan.
Pembatasan permanen dipisahkan menurut:
• aktiva yang dikuasai atau holdings, yang digunakan untuk tujuan khusus, untuk dirawat, atau tidak untuk dijual
• dana endowment permanen, yang merupakan aktiva yang disumbangkan untuk investasi, sehingga menjadi sumber pendapatan secara permanen
Pembatasan temporer dibedakan berdasarkan:
a. sumbangan untuk aktivitas operasi tertentu (purpose restriction)
b. investasi untuk jangka waktu tertentu (time restriction)
c. digunakan untuk periode tertentu di masa datang
d. perolehan aktiva yang memiliki masa manfaat jangka panjang
Laporan Aktivitas
Laporan aktivitas menyediakan informasi tentang perubahan jumlah dan sifat aktiva bersih dan cara bagaimana sumber daya digunakan untuk melaksanakan berbagai program atau jasa. Fokus dari laporan ini adalah menyajikan jumlah perubahan dalam aktiva bersih (atau perubahan dalam ekuitas) untuk suatu periode. Pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian harus disajikan menurut kelompok aktiva bersih. Perubahan dalam aktiva bersih terikat permanen, aktiva bersih terikat temporer dan aktiva bersih tidak terikat harus disajikan dalam laporan ini.
Klasifikasi pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian dalam laporan aktivitas bisa didasarkan pada kegunaannya untuk operasi dan non operasi, dan atas kejadiannya berulang (recurring) atau tidak berulang (nonrecurring), tapi sifat klasifikasi ini adalah opsional.
Beban harus dilaporkan menurut klasifikasi fungsional yang bermanfaat untuk membantu para donatur, kreditur dan pihak lain dalam menilai usaha layanan organisasi, seperti beban layanan dan cara organisasi menggunakan sumber dayanya. Klasifikasi beban secara fungsional dilakukan berdasarkan kelompok. Kelompok utama program layanan, yang merupakan aktivitas untuk menyediakan barang atau layanan kepada para penerima manfaat (beneficiaries), pelanggan, atau anggota dalam rangka mencapai tujuan atau misi organisasi. Aktivitas pendukung (layanan pendukung), adalah seluruh aktivitas selain program layanan, yang meliputi:
a. manajemen atau umum, seperti pengawasan, manajemen usaha pencatatan umum, penganggaran, pendanaan, dan aktivitas administratif terkait
b. pencarian dana (fund-raising), seperti kampanye dan pelaksanaan pencarian dana, penyimpanan daftar alamat para donatur, pelaksanaan acara khusus pencarian dana, pembuatan dan penyebaran manual, petunjuk dan bahan lainnya, dan aktivitas lain untuk menggalang dana
c. aktivitas pengembangan keanggotaan, seperti pencarian anggota baru, pengumpulan iuran keanggotaan, hubungan keanggotaan, dan aktivitas sejenis
Laporan Arus Kas
Tujuan utama laporan arus kas suatu organisasi adalah menyajikan informasi yang relevan mengenai penerimaan dan pengeluaran kas suatu organisasi dalam suatu periode. Kas yang dibatasi penggunaannya untuk tujuan jangka panjang tidak dapat disatukan dalam neraca dengan kas yang tersedia untuk tujuan jangka pendek.
Penggunaan metode langsung dianjurkan untuk organisasi nirlaba, tapi penggunaan metode tidal langsung juga diperbolehkan. Rekonsiliasi atas perubahan dalam aktiva bersih dalam laporan aktivitas menjadi arus kas bersih dari aktivitas operasi, diperlukan jika metode langsung digunakan.

Pengungkapan Laporan Keuangan untuk Kontribusi
Pengungkapan atas janji memberi tanpa syarat untuk organisasi nirlaba, meliputi:
• jumlah piutang berjangka kurang dari satu tahun, dalam satu sampai lima tahun, dan lebih dari lima tahun
• penyisihan untuk jumlah piutang janji tak tertagih
Sedangkan pengungkapan untuk janji memberi dengan syarat mencakup jumlah total janji dan suatu penjelasan dan jumlah masing-masing kelompok janji yang memiliki karakteristik yang sama
AKUNTANSI ORGANISASI NIRLABA
Akuntansi Dana (Fund Accounting)
Dalam FASB Statement No. 117 tidak mewajibkan penggunaan akuntansi dana dan audit untuk organisasi nirlaba. Tapi banyak organisasi nirlaba yang menggunakan prinsip akuntansi dana untuk tujuan internal dan untuk informasi yang disajikan dalam laporan keuangan, dengan informasi yang disajikan telah mengeliminasi saldo antar dana dan pengungkapan yang berfokus pada organisasi secara keseluruhan.
Sumber daya organisasi nirlaba berasal dari kontribusi, bantuan, dan sumber daya lain, dimana penggunaan sebagian sumber daya ini dibatasi untuk kegiatan atau tujuan khusus. Sumber daya yang tidak terikat diperlakukan sebagai dana tidak terikat lancar (unrestricted current fund). Dana yang ditetapkan dewan pengurus (fund balance reserve account) untuk membatasi suatu bagian dari saldo dana untuk tujuan khusus, juga diperlakukan sebagai dana tidak terikat lancar. Dana pendapatan endowment dicatat sebagai pendapatan dari dana tidak terikat lancar. Dana kustodi (custodian fund) merupakan dana keagenan (agency fund), yang meliputi akuntansi aktiva dan kewajiban.
Pendapatan dan Beban
Pendapatan dan beban dicatat pada saat diperoleh dan diakui dengan cara accrual basis. Pendapatan dilaporkan dalam pengelompokan dana yang berhubungan, seperti:
• pendapatan yang tidak dibatasi penggunaannya oleh donatur meningkatkan aktiva bersih tidak terikat.
• pendapatan yang penggunaannya dibatasi oleh donatur meningkatkan aktiva bersih terikat temporer atau permanen.
Beban menurunkan aktiva bersih tidak terikat dan dilaporkan sebagai dana yang berhubungan. Beban diklasifikasikan dan secara fungsional, sebagai:
• layanan program, berkaitan dengan beban yang terjadi dalam penyediaan aktivitas layanan sosial organisasi, seperti penelitian, pendidikan masyarakat, pendidikan profesional, layanan lingkungan, layanan pasien.
• layanan pendukung, berkaitan dengan beban administrasi dan beban pencarian dana. Dalam pelaporan beban dalam laporan aktivitas, klasifikasi fungsional dapat muncul sebagai berikut :
Beban
Layanan program
 Penelitian
 Pendidikan masyarakat
 Pendidikan profesional
 Layanan lingkungan
 Layanan pasien
Layanan pendukung
 Manajemen dan umum
 Pencarian dana

Basis fungsional pelaporan beban menghasilkan sesuatu bentuk penyajian laporan yang informatif namun sangat agregatif. Untuk mengatasinya, organisasi menyiapkan suatu laporan beban fungsional secara terpisah. Laporan ini merekonsiliasi klasifikasi fungsional dengan basis klasifikasi pengeluaran menurut objek misalnya, biaya gaji, peralatan, perangko, dan hadiah atau bantuan. Laporan beban fungsional merupakan suatu laporan yang diwajibkan bagi organisasi semacam ini. FSAB menganjurkan organisasi nirlaba lain untuk menyiapkan laporan seperti ini, namun bukan suatu keharusan.
Pelaporan keuangan
Laporan keuangan pokok organisasi kesehatan dan kesejahteraan suka rela mencakup laporan yang sama seperti diharuskan bagi organisasi nirlaba lain ditambah satu laporan tambahan, yakni laporan beban fungsional.
Suatu organisasi dan kesejahteraan suka rela nasional dapat memiliki hubungan antar pihak-pihak terafilisasi. Kecuali jika organisasi lokal tidak independen terhadap organisasi nasional, dengan tujuan terpisah dan dewan pengatur, maka laporan keuangan nasional dan lokal digabungkan untuk pelaporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
»»  Baca Lebih Lanjut...

Posting Kami