Tampilkan postingan dengan label Metodologi Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metodologi Penelitian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Desember 2010

METODE PENGUMPULAN DATA


Jenis Data
Jenis data penelitian berkaitan dengan sumber data dan pemilihan metode yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data penelitian. Penentuan metode pengumpulan data dipengaruhi oleh jenis dan sumber data penelitian yang dibutuhkan.
Data penelitian pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi menjadi tiga jenis, yaitu:
1.      Data Subyek (Self-Report Data)
Data subyek adalah jenis data penelitian yang berupa opini, sikap, pengalaman atau karakteristik dari seseorang atau sekelompok orang yang menjadi subyek penelitian (responden Data subyek diklasifikasikan berdasarkan bentuk tanggapan (respon) yang diberikan, yaitu : lisan (verbal), tertulis dan ekspresi. Respon verbal diberikan sebagai tanggapan atas pernyataan yang diajukan oleh peneliti. Respon ekspresi diperoleh peneliti dari proses observasi.
2.      Data Fisik (Physical Data)
Data fisik merupakan jenis data penelitian berupa obyek atau benda-benda fisik, antara lain dalam bentuk: bangunan atau bagian dari bangunan, pakaian,buku, dan senjata. Data fisik dalam penelitian bisnis dikumpulkan melalui metode observasi.
3.      Data Dokumenter (Documentary Data)
Data dokumenter adalah jenis data penelitian yang antara lain berupa: faktur, jurnal, surat-surat, notulen hasil rapat, memo, atau dalam bentuk laporan program. Data ini memuat apa dan kapan suatu kejadian atau transaksi, serta siapa yang terlibat dalam suatu kejadian. Data dokumenter dalam penelitian dapat menjadi bahan atau dasar analisis yang kompleks yang dikumpulkan melalui metode observasi dan analisis dokumen yang dikenal dengan content analysis, antara lain berupa: kategori isi, telaah dokumen, pemberian kode berdasarkan karakteristik kejadian atau transaksi.
            Dilihat dari jenisnya, data dapat dibedakan menjadi data kualitatif dan data kuantitatif.
            Data kualitatif adalah data yang sifatnya hanya menggolongkan saja dan tidak dapat diwujudkan dalam bentuk angka. Yang termasuk dalam klasifikasi data kualitatif adalah data yang berskala ukuran nominal dan ordinal, seperti jenis kelamin, jenis pekerjaan, status pekerjaan, motivasi karyawan, dan lain sebagainya.
            Data kuantitatif adalah data yang dapat dinyatakan dalam bentuk angka, yang termasuk dalam data kuantitatif adalah data yang berskala ukur interval dan rasio. Contohnya, jumlah karyawan, jumlah penjualan, jumlah piutang, jumlah hutang, dan lain-lain.

            Data juga dapat dibedakan menurut tahapan waktu dan pada waktu serta tempat tertentu. Dalam hal ini data dibedakan menjadi data time series dan cross section. Data time series atau data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari beberapa tahapan waktu secara kronologis. Data deret waktu pada umumnya merupakan kumpulan data dari suatu fenomena tertentu yang didapat dalam beberapa interval waktu tertentu, misalnya dalam mingguan, bulanan, triwulan, catur wulan, semesteran, dan tahunan.
            Data cross section adalah data yang dikumpulkan pada waktu dan tempat tertentu saja. Data ini umumnya mencerminkan suatu fenomena tertentu dalam suatu kurun waktu tertentu saja, misalnya data tentang perilaku konsumen pengguna ponsel merk tertentu, data tentang tanggapan konsumen untuk menabung di suatu bank.

Sumber Data
Terdapat dua sumber data penelitian terdiri atas: sumber data primer dan sumber data sekunder.
1.      Data Primer (Primary Data)
Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer secara khusus dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan penelitian. Data primer dapat berupa opini subyek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian. Ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data primer, yaitu: (1) metode survei dan (2) metode observasi.
2.      Data Sekunder (Secondary Data)
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat pihak lain). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip yang dipublikasikan dan tidak dipublikasikan.

            Keuntungan menggunakan data sekunder adalah lebih murah, lebih cepat, dan dalam kenyataan sering peneliti tidak terlalu mampu untuk mengumpulkan data primer sendiri, misalnya sensus penduduk.
            Bentuk data sekunder ada dua kategori yaitu berasal dari sumber internal dam sumber eksternal. Data internal tersedia pada tempat penelitian dilakukan misalnya faktur penjualan, laporan penjualan, laporan hasil riset yang lalu, dan lain-lain. Data eksternal dapat diperoleh dari sumber-sumber luar misalnya, data sensus penduduk dan registrasi. Data yang diperoleh dari badan atau perusahaan yang aktivitasnya mengumpulkan keterangan-keterangan yang relevan akan berbagai masalah.
            Adapun manfaat dari data primer adalah dikumpulkan untuk mencapai tujuan penelitian, tidak ada risiko kadaluwarsa karena dikumpulkan setelah proyek penelitian dirumuskan, semua data dipegang oleh peneliti, mengetahui kualitas dari metode-metode yang dipakainya karena dialah yang mengatur sejak awal.

Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data sekunder
            Metode pengumpulan data sekunder sering disebut metode pengumpulan bahan dokumen, karena peneliti tidak secara langsung mengambil data sendiri tetapi memanfaatkan data atau dokumen yang dihasilkan oleh pihak-pihak lain.
            Pada umumnya, data sekunder yang digunakan oleh pihak peneliti untuk memberikan gambaran tambahan, gambaran pelengkap, ataupun untuk diproses lebih lanjut. Dalam metode pengumpulan data sekunder, obsevator tidak meneliti langsung, tetapi data didapatkan misalnya dari media massa, BPS, lembaga pemerintah maupun swasta, lembaga penelitian maupun pusat bank, data hasil penelitian lain, penelitian kepustakaan dalam hal untuk mengetahui berbagai pengetahuan dan karya yang pernah dicapai oleh para peneliti terdahulu. Dengan penelitian kepustakaan, akan melatih peneliti untuk membaca kritis segala bahan yang dijumpainya, kecermatan dan ketelitian peneliti akan sangat teruji dalam memutuskan sumber yang dipercayanya.

Metode pengumpulan data primer
Terdapat dua hal utama yang memepengaruhi kualitas data penelitian yaitu, kualitas instrumen penelitian dan metode pengumpulan data. Ada beberapa cara untuk mengumpulkan data yaitu: interview (wawancara), kuisioner, dan observasi (pengamatan) atau mungkin saja ketiganya.
A. Interview (Wawancara)
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data, apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal yang dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sangat sedikit. Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan interview dan juga kuisioner adalah sebagai beikut:
  1. Bahwa subyek atau responden adalah orang yang paling tahu dirinya sendiri.
  2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.
  3. Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksud peneliti.
 Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.
  1. Wawancara terstruktur
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi yang akan diperoleh. Dengan wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama dan alternatif jawaban yang sama.
  1. Wawancara tidak terstruktur
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Wawancara tidak terstruktur atau terbuka, sering digunakan dalam penelitian pendahuluan atau penelitian yang lebih mendalam terhadap responden.

B. Kuisioner (Angket)
Kuisioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti mengetahui variabel-variabel yang akan diukur.
Uman sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip penulisan angket sebagai metode pengumpulan data yaitu: prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan fisik.
Prinsip penulisan angket
Menyangkut beberapa faktor, yaitu:
  1. Isi dan tujuan pertanyaan
  2. Bahasa mudah
  3. Pertanyaan tertutup, terbuka, positif, negatif
  4. Pertanyaan tidak mendua
  5. Tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa
  6. Pertanyaan tidak mengarahkan
  7. Panjang pertanyaan
  8. Acuan pertanyaan

Penampilan fisik
Dicetak dalam kertas bagus sehingga direspon oleh responden. Bila menggunakan kertas buram akan kurang direspon oleh responden.

 C. Observasi
Sutrisno hadi mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai suatu psikologis dan biologis.  Dari proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi Participant Observation (observasi berperan serta), dan Non participant Observation selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan, maka observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.
           
Metode Survei dan Metode Observasi
A.    Metode Survei
Penelitian survei merupakan upaya pengumpulan informasi dari sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili populasi tertentu. Metode ini bertitik tolak pada konsep, hipotesis, dan teori yang sudah mapan sehingga tidak akan memunculkan teori yang baru. Penelitian survey memiliki sifat verifikasi atau pengecekan terhadap teori yang sudah ada (Mantra, 2001). Penelitian survei merupakan perangkat penelitian yang murah dan cepat sehingga informasi yang dibutuhkan dapat dihasilkan secara akurat dan tepat waktu. Bentuk kuesionernya pun sederhana dan relatif mudah sehingga tidak memerlukan pelatihan secara khusus (Stone, 1993). Selain murah dan cepat, keunggulan lainnya adalah penelitian survei dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi secara sistematis. Tipe-tipe Metode Survei: Wawancara Langsung, Wawancara tidak langsung, Mencari informasi data dari koresponden (surat menyurat), Mencari data dengan mengirim kuesioner (daftar pertanyaan).



B.     Metode Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik dibandingkan dengan metode yang lain.  Metode pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.
Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi dua yakni :
1.      Observasi berperan serta
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Sambil mengamati, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data. Misalnya, mengamati bagaimana perilaku karyawan dalam bekerja, bagaimana semangant kerjanya, bagaimana hubungan karyawan dengan karyawan lain, dan sebagainya.
2.      Observasi Nonpartisipan
Dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Pengumpulan data dengan observasi nonpartisipan ini tidak akan mendapatkan data yang mendalam dan tidak sampai pada tingkat makna. Makna adalah nilai-nilai di balik perilaku yang tampak, yang terucapkan dan yang tertulis. Misalnya, mengamati perilaku pembeli, mengamati barang-barang apa saja yang diminati pembeli.

Dari segi instrumen yang digunakan, maka observasi dibedakan menjadi:
1.      Observasi terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis tentang apa yang akan diamati dimana tempatnya. Peneliti telah tahu dengan pasti tentang variabel apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan, peneliti menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.
2.      Observasi tidak terstruktur
Merupakan observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan.
»»  Baca Lebih Lanjut...

RENCANA ANALISIS DATA


Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih  mudah dibaca dan diinterpretasikan. Menurut Mudjarad Kuncoro (2003), analisis data merupakan tahapan yang kritis dalam proses penelitian bisnis dan ekonomi. Dalam proses ini sering digunakan statistik, fungsinya untuk menyederhanakan data penelitian yang amat besar jumlahnya menjadi informasi yang lebih sederhana dan lebih mudah untuk dipahami. Kegiatan dalam analisis data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitugan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.
1.             Tahapan Pengolahan Data
1.1         Editing
Kegiatan dalam editing adalah kegiatan memeriksa data mentah yang masuk, apakah ada kekeliruan pengiriman, tidak lengkap pengisiannya, palsu, dan lain-lain. Hal-hal yang perlu diperiksa adalah:
1)      Dipenuhi tidaknya instruksi sampling
2)      Dapat dibaca atau tidaknya data mentah
3)      Kelengkapan pengisian
4)      Keserasian (konsistensi)
5)      Apakah isi jawaban yang bisa dipahami
Penyuntingan data (editing) adalah suatu proses agar data yang dikumpulkan memberi kejelasan, dapat dibaca, konsisten dan lengkap. Penyuntingan data membuat data mudah dimengerti. Konsistensi mengandung arti bagaimana pertanyaan-pertanyaan telah dijawab oleh semua responden. Pengecekan konsisten dapat mendeteksi jawaban-jawaban yang keliru. Lengkap berarti seberapa banyak data yang hilang dari kuesioner atau wawancara. Data yang hilang besar kemungkinan karena responden menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu. (Mudrajad Kuncoro, 2003)
1.2         Coding
          Coding adalah pemberian tanda/simbol bagi tiap-tiap data yang termasuk dalam kategori yang sama. Tanda dapat berupa angka atapun huruf. Tujuan dari coding adalah untuk mengklasifikasikan jawaban ke dalam kategori-kategori yang penting.
Dua langkah penting dalam melakukan coding, yaitu:
1.      menentukan kategori-kategori yang akan digunakan
2.      mengalokasikan jawaban individual pada kategori-kategori tersebut.
Kumpulan dari kategori-kategori ini disebut dengan coding frame. Pada pertanyaan tertutup biasanya coding frame sudah dilengkapi namun pada pertanyaan terbuka sukar untuk merencanakan coding frame yang bersangkutan, mengkonstruksikan coding frame yang benar-benar mengetahui tujuan peneliti dan mengetahui bagaimana hasil penelitian akan digunakan.
Mengkode adalah menaruh angka pada tiap jawaban. Untuk dapat memberikan kode pada jawaban tersebut perlu diperhatikan:
a)      Kode dan jenis pertanyaan
       Dalam hal ini perlu diperhatikan jenis pertanyaan, jawaban, atau pertanyaan yang dapat dibedakan.
(1)   Bila jawaban berupa angka maka kode yang digunakan adalah angka itu sendri.
(2)   Bila jawaban untuk pertanyaan tertutup jawabannya sudah disediakan terlebih dahulu dan responden hanya mengecek jawaban tersebut sesuai dengan instruksi. Responden tidak boleh menjawab di luar yang telah ditetapkan.
(3)   Bila jawaban pertanyaan semi terbuka, selain dari jawaban yang telah ditentukan maka jawaban lain yang dianggap cocok oleh responden masih diperkenankan untuk dijawab. Jawaban tambahan tersebut perlu diberi kode tersendiri.
(4)   Bila jawaban pertanyaan terbuka, jawaban yang diberikan sifatnya bebas. Untuk memberi kode, jawaban-jawaban tersebut harus dikategorikan terlebih dahulu atau dikelompokkan sehingga tiap kelompok memiliki jawaban yang sejenis.
(5)   Bila jawaban kombinasi, hampir serupa dan jawaban pertanyaan tertutup. Selain ada jawaban yang jelas, responden masih dapat menjawab kombinasi dari beberapa jawaban.
b)      Tempat kode
       Kode dapat dibuat pada kartu tabulasi ataupun daftar petanyaan itu sendiri. Jika data diolah dengan komputer, kode-kode harus dibuat dalam coding sheet.

1.3         Tabulasi
          Tahap selanjutnya setelah proses editing dan coding, data disusun dalam bentuk tabel. Jawaban yang serupa dikelompokkan kemudian dihitung dan dijumlahkan beberapa banyak peristiwa/gejala/item yang termasuk dalam satu kategori. Kegiatan ini dilakukan sampai terwujud tabel-tabel yang berguna terutama penting pada data kuantitatif. Dalam tabulasi, angka-angka akan dimasukkan dalam satu tabel yang terdiri atas kolom-kolom. Sebaiknya susunan kolom disusun berdasarkan urutan-urutan yang logis dan tiap-tiap kepala kolom diberi keterangan yang menyatakan isi kolom yang bersangkutan.
Tabel dapat dibedakan beberapa jenis yaitu tabel induk, tabel teks, dan tabel frekuensi. Tabel induk adalah tabel yang berisi semua data yang tersedia secara terperinci untuk melihat kategori data secara keseluruhan. Tabel teks adalah tabel yang diringkas sesuai keperluan. Tabel ini biasanya dibuat langsung dalam teks dan digunakan pada saat membuat penafsiran. Tabel frekuensi adalah tabel yang menyajikan berapa kali sesuatu hal terjadi. Tabel ini digunakan untuk mengecek kesesuaian hubungan jawaban antara satu pertanyaan dengan pertanyaan lain dalam daftar pertanyaan.

2.             Penyajian Data
          Data dapat disajikan dalam bentuk tabel baik tabel frekuensi tunggal maupun tabulasi silang. Selain dalam bentuk tabel, data juga dapat disajikan dalam bentuk gambar/grafik. Dalam tabulasi silang, setiap kesatuan data dipecah lebih lanjut menjadi dua atau tiga. Setiap penambahan variabel baru ke dalam tabulasi silang akan memberikan keterangan lebih baik terhadap data yang diolah.

3.             Macam-Macam Metode Analisis
          Secara umum, terdapat dua metode yang digunakan dalam penelitian yaitu analisis data secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kualitatif digunakan pada penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif. Analisis ini tidak menggunakan alat statistik, namun dengan membaca tabel-tabel, grafik-grafik, atau angka-angka kemudian melakukan penafsiran. Sedangkan analisis data kuantitatif digunakan pada penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Analisis ini menggunakan alat statistik.
          Terdapat dua macam alat statistik yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial.  Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Statistik inferensial adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel  dengan maksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.
          Statistik inferensial meliputi statistik parametris dan statistik nonparametris. Statistik parametris digunakan untuk menguji parameter pupulasi melalui statistik atau menguji ukuran populasi melalui data sampel. Statistik nonparametris tidak menguji parameter populasi, tetapi menguji distribusi. Penggunaan statistik parametris dan nonparametris tergantung pada asumsi dan jenis data yang akan dianalisis.

4.             Pemilihan Metode Analisis
          Pemilihan metode analisis menggunakan pendekatan kualitatif atau kuantitaif. Dalam pendekatan kuantitaif, syarat pertama yang harus terpenuhi adalah alat uji statistik yang akan digunakan harus sesuai. Pertimbangan dalam memilih alat uji statistik yaitu:
1)  ditentukan oleh pertanyaan untuk apa penelitian tersebut dilakukan.
2)  ditentukan oleh tingkat/skala, distribusi, dan penyebaran data.
3)  luasnya pengetahuan statistik yang dimiliki.
4)  ketersediaan sumber-sumber dalam hubungannya dengan perhitungan dan  penafsiran data.
Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif memusatkan perhatian pada prinsip umum yang mendasari perwujudan dan satuan gejala yang ada. Analisis yang dilakukan adalah gejala sosial dan budaya dengan menggunakan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan untuk memperoleh pola yang berlaku. Kemudian pola tersebut dianalisis dengan teori yang objektif.

5.             Pemilihan Metode Statistik Menurut Skala Pengukuran
Pemilihan terhadap alat statistika dalam penelitian kuantitatif sangat tergantung pada skala pengukuran dari variabel yang digunakan. Dalam analisis nantinya apakah menggunakan statistik parametrik atau statistik non parametrik. Bila dalam analisis kuantitatif tersebut dimana skala ukuran variabel adalah nominal atau ordinal umumnya menggunakan statistik non parametrik. Apabila skala yang digunakan adalah interval atau rasio maka statistik yang digunakan adalah statistik parametrik. Walaupun demikian untuk skala interval atau rasio dapat juga menggunakan alat statistik non parametrik namun banyak sekali kehilangan informasi yang dimiliki oleh data interval atau rasio tersebut.
   Penggunaan statistik parametrik dan non parametrik untuk menganalisis data khususnya menguji hipotesis. Untuk menggunakan statistik parametrik dan non parametrik dalam suatu analisis sangat tergantung pada macam data dan bentuk hipotesis yang diajukan. Contoh statistik parametrik antara lain: korelasi product moment, korelasi parsial, korelasi ganda, regresi, analisis varian dan sebagainya. Contoh statistik non parametrik adalah: Chi kuadrat, Mann-Whitney, Mc Memar, Cochran, Coefisien Contingency. Korelasi Rank Spearman, Kruskal Wallis dan sebagainya.
Menurut Sugiono (2003:47) hipotesis deskriptif yang akan diuji dengan statistik parametrik menggunakan dugaan terhadap nilai dalam satu sample, dibandingkan dengan standar, sedangkan hipotesis deskriptif yang akan diuji dengan statistik non parametrik merupakan dugaan ada tidaknya perbedaan secara signifikan nilai antar kelompok dalam satu sampel.
            Hipotesis komparatif merupakan dugaan ada tidaknya perbedaan secara signifikan nilai-nilai 2 kelompok atau lebih. Hipotesis asosiatif adalah dugaan terhadap ada tidaknya perbedaan secara signifikan niai-nilai 2 kelompok atau lebih. Hipotesis asosiatif adalah dugaan terhadap ada tidaknya hubungan secara signifikan antara dua variabel atau lebih.
            Di bawah ini diberikan tabel yang berisi tentang penggunaan statistik parametrik dan non parametrik untuk menguji hipotesis.
Macam data
Bentuk Hipotesis
Deskriptif (satu variabel atau satu sample)
Komparatif (2 sampel)
Komparatif (lebih dari dua sampel)
Asosiatif
Relatif
Independen
Relatif
Independen
Nominal
Binomial

X2 satu sampel
Mc Memar
Fisher Exact Probability

X2 dua sampel
Cochran Q
X2 untuk k sampel
Contingency Coefficient
Ordinal
Run Test
Sign Test

Wilcoxon Matched Pairs
Median Test

Mann Whitney Test

Kormogorov Semmirnov

Wald Wolfowitz
Priedman Two Way
Anova
Median Extension

Kruskal Wallis one Way Anova
Spearman Rank Correlation

Kendall Tahu
Interval
Rasio
t-test
t-test of relative
t-test independent
One-Way Anova

Two-Way Anova
One-Way Anova

Two-Way Anova
Korelasi product moment

Korelasi parsial

Korelasi ganda

Regresi sederhana dan ganda


Hipotesis penelitian yang akan diuji dalam penelitian berkaitan erat dengan perumusan masalah yang diajukan.  Walaupun tidak setiap penelitian harus ada hipotesisnya, tetapi setiap penelitian harus merumuskan masalah.
            Untuk mencari pengaruh varian variabel dapat digunakan teknik statistik yaitu dengan menghitung besarnya koefisien determinasi. Koefisien determinasi dihitung dengan menguadratkan koefisien korelasi yang telah sitemukan dan selanjutnya dikalikan dengan seratus persen.

1.             Interpretasi Hasil-Hasil Analisis Data
Untuk interpretasi yang didasarkan atas statistik deskriptif khususnya tabulasi silang, ada ketentuan atau aturan yang perlu diperhatikan. Jika diasumsikan ada satu variabel yang bertindak sebagai variabel pengaruh dan satunya lagi sebagai variabel terpengaruh, maka arah perhitungan untuk tabulasi silang selalu dihitung searah dengan variabel pengaruhnya. Dalam menginterpretasikan tabulasi silang tersebut dengan membandingkan angka persen pada set tabel searah dengan variabel pengaruhnya.
Interpretasi hasil penelitian dilakukan untuk mencari makna dan implikasi yang lebih luas dari hasil-hasil penelitian.
Interpretasi hasil analisis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Interpretasi secara terbatas karena penelitian hanya melakukan interpretasi atas data dari hubungan yang ada dalam penelitiannya. Interpretasi ini dalam pengertian sempit, tetapi paling sering dilakukan. Pada waktu menganalisis data penelitian secara otomatis peneliti membuat interpretasi dimana analisis dan interpretasi yang dilakukan sangat erat hubungannya karena keduanya dilakukan hampir bersamaan.
Cara kedua dapat dilakukan apabila penelitian mencoba mencari pengertian yang lebih luas tentang hasil-hasil yang telah didapatkannya dari analisis. Hal ini dilakukan oleh peneliti dengan cara membandingkan hasil analisis dengan kesimpulan peneliti lain dan dengan menghubungkan kembali interpretasinya dengan teori. Tahap ini sangat penting untuk dilakukan, namun sering tidak dilakukan oleh peneliti sosial.
Pada garis besarnya analisis dalam penelitian sosial dapat dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu analisis untuk katagorikal dan analisis untuk data bersambungan. Metode analisis dengan data katagorikal ini menggunakan metode tabulasi silang. Sedangkan data yang berkesinambungan biasanya menggunakan alat statistik seperti distribusi frekuensi, ukuran kecenderungan sentral, analisis perbedaan, analisis varians, analisis multivarians, dan sebagainya.


»»  Baca Lebih Lanjut...

Posting Kami