Tampilkan postingan dengan label Manajemen SDM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen SDM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Mei 2013

TEORI FUNGSI MOTIVASI

 

clip_image002


Pendahuluan

Kemampuan manajer untuk memotivasi, mempengaruhi, mengarahkan dsan berkomunikasi dengan para bawahannya akan menentukan efektivias manajer. Penyusunan makalah ini berkenaan dengan cara bagaimana manajer dapat memotivasi para bawahannyaagar pelaksanaan kegiatan dan kepuasaan kerja mereka meningkat. Bagian pengarahan dan pengembangangan organisasi dimulai dengan motivasi, karena manajer tidak dapat mengarahkan nkecuali bawahan dimotivasi untuk bersedia mengikutinya.

Motivasi merupakan bagian yang mengakibatkan, menyalurkan dan memelihara perilaku manusia. Motivasi ini merupakan suatu objek yang penting bagi manajer, karena menurutdefinisi manajer harus bekerja dan melalui orang lain. Manajer perlu memahami orang brperilaku tertentu agar dapat mempengaruhinya untuk bekerja sesuai dengan yang diinginkan organisasi. Motivasi adalah suatu subjek yang membingungkan, karena motiv tidak dapat diamati atau diukur secara langsung, tetapi harus disimpulkan dari perilaku orang yang tampak.

Motivasi bukan hanya satu-satunya faktor yang mempengaruhi tingkat prestasi seseorang. Dua faktor lainnya terlibat adalah kemampuan individu dan pemahaman tentang perilaku yang diperlakukan untuk mencapai prestasi yang tinggi atau disebut persepsi peranan. Motivasi, kemampuan, dan pesepsi peranan adalah saling berhubungan. Jadi bila salah satu faktor rendah, maka tingkat prestasi akan rendah, walupun faktor-faktor lainnya tinggi.

Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut motivasi atau motif, antara lain kebutuhaan (need), desakan (urge), keinginan (wish), dan dorongan (driver). Dalam hal ini akan digunakan istilah motivasi, yang diartikan sebagai keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi yang ada pada seseorang merupakan kekuatan pendorong yang kan mewujudkan suatu perilaku guna untuk mencpai kepuasaan dirinya.dan gagasan utama dari atasan yakni adalah menciptakan lingkungan dan kondisi yang tepat untuk menghasilkan karyawan yang terbaik. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, sehingga banyak ahli telah mencoba untuk mengembangkan berbagai teori dan konsep yang dibahas pada makalah ini.

Berbagai pandangan tentang motivasi dalam organisasi.

Perkembangan teori manajemen juga mencakup model-model atau teori-teori motivasi yang berbeda. Berikut ini akan dibahas tiga diantara model-model motivasi dengan urutan atas dasar kemunculannya. Pandangan para manajer yang berbeda tentang masing-massing model adalah penentuan penting keberhasilan mereka dalam mengelola karyawan.

Model Internasional

Model tradisional dari motivasi berhubungan deangan Frederick Taylor dan aliran manajemen ilmiah. Model ini mengisyaratkan bahwa manajer menetukan bagaimana pekerjaan-pekerjaan harus dilakukan dan digunakannya sistem pengupahan insentif untuk memotivasi karyawan lebih berproduksi, lebih banyak menerima penghasilan.

Pandangan tradisional menganggap bahwa para pekerja pada dasarnyamalas, dan hanya dapat dimotivasi dengan paenghargaan berwujud uang. Dalam banyak situasi pendekatan ini cukup efektif. Sejalan dengan meningkatkan efisiensi, karyawan yang dibuhkan untuk tugas tertentu dapat dikurangi. Lebih lanjut, manajer mengubah besarnya upah insentif. Pemutusan hubungan kerja menjadi biasa dan pekerja akan mencari keamanan/ jaminan kerja daripada hanya kenaikan upah kecil dan sementara.

Model Hubungan Manusiawi

Banyak praktek manajemen merasakan bahwa pendekatan tradisional tidak memadai. Elton mayo dan para peneliti hubungan manusiawi lainnya menemukan bahwa kontak-kontak sosial karyawan pada pekerjaannya adalah juga penting dan bahwa kebosanan dan tugas-tugas yang bersifat pengulangan adalah daktor-faktor pengurangan motivasi. Mayo dan lain-lainya juga percaya bahwa manjer dapat memotivasi bawahan melalui pemenuhan kebuthan-kebutuhan sosial mereka dan membuat mereka merasa berguna dan penting.

Sebagai hasilnya, para karyawan diberi kebebasan untik membuat keputusan sendiri dalam pekerjaannya. Perhatian yang lebih besar diarahkan pada kelompok- kelompok kerja organisai informal. Lebih banyak informasi yang disediakan untuk karyawan tentang perhatian manajer dan operasi oraganisai.

Model Sumber Daya Manusia

Kemudian para teoritis McGregor danMaslow, dan para peneliti seperti Agrys dan Likert, melontarkan kritikan kepada modael hubungan manusia, dan mengemukakan pendekatan yang lebih “sophisticated” untuk memanfaatkan karyawan. Model ini menyatakan bahwa para karyawan dimotivasi oleh banyak faktor tidak hanya uang atau untuk mencapai kepuasaan, tetapi juga kebutuhan untuk berprestasi dan memperoleh pekerjaan yang berarti. Mereka beralasan bahwa kebayakan orang telah dimotivasi untuk melakukan secara baik dan bahwa mereka tidak secara otomatis melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang tidak dapat menyenangkan. Mereka mengemikakan bahwa para karyawan yang lebih menyukai pemenuhan kepuasaan dari suatu prestasi kerja yang baik. Jadi, para karyawan dapat diberi tanggung jawab yang lebih beasar untuk pembuatan-pembuatan keputusan dan pelaksanaan tugas.

Para manajer dapat menggunakan model motivasi hubungan manusiawi dan sumber daya manusia secara bersama. Dengan bawahannya, manajer cenderung menerapkan model hubungan manusiawi : mencoba mengurangi penolakan bawahan dengan perbaikan moraldan kepuasaan. Bagi dirinya sendiri, manajer akan lebih menyukai modelsumber daya manusia: mereka merasa kemampuannya tidak tidak digunakan secara penuh oleh sebab itu mereka mencari tanggung jawab yang lebih besar dari atasan-atasan mereka.

Tabel. Pola umum pendekatan-pendekatan manajerial terhadap Motivasi

Model Tradisional

Model Hubungan Manusiawi

Model Sumber Daya Manusia

Anggapan (Asumsi)

1. Bekerja pada dasarnya Tidak disenangi banyak orang

2. Apa yang mereka kerjakan adalah kuarang penting dibanding apa yang mereka peroleh dari kegiatan tersebut

3. Jarang yang ingin atau dapat menangani pek-erjaan yang memerlukan kreatifitas, disiplin di-ri atau pengendalian diri

1. Orang Ingin merasa berguna dan penting

2. Orang yang ingin memiliki diakuii sebagai individu

3. Kebutuhan tersebut lebih penting dari uang dlm memotivasi orang untuk bekerja.

1. bekerja pada dasarnya

bukan tidak menyenangkan. Orang ingin menyumbang pada tujuan yang bermanfaat

2. sebagian besar orang dapat menegrjakan lebih kreatif, disiplin diri dan pengendalian, diri dibanding dg permintaan jabatan sekarang

Kebijaksanaan

1. Manajer harus mengawasi & menge-ndalikan bawahan

2. Dia harus memerinci tugas-tugas menjadi sederhana bersiafat pengulangan, & operasi mudah jari

3. Dia harus menetapkan prosedur & rutinisasi pekerjaan secara terperinci, serta menja-lankannya dg adil & ketat

1. Manajer harus membuat setiap karyawan mearsa berguan & penting

2. Dia harus senantiasa memberiakan informasi pd bawahan & mendengar rencana-rencanaya

3. Manajer harus memper-bolehkan bawahan untuk melakukan disiplin diri & penge-ndalian diri atas kegiatan rutin

1. Manajer harus memanfaatkan potensi SDM

2. Dia harus mencipta-kan lingkungan dimana seluruh anggota dapat menyumbangkan kemampuan mereka

3. Dia harus mendorong partisipasi penuh, peningkatan disiplin diri & pengendalian diri

Harapan

1. Orang bersedia bekerja bila balasa jasanya memadai & atasannya adil

2. Bila tugas-tugas cukup sederhana & orang-orang dikendaliakn dg ketat, mereka akan berproduksi memenuhi standart.

1. Pembagian informasi kpd bawahan & keter-libatan keputusan rutin akan memuas-kan kebutuhan untuk memiliki & merasa penting

2. Pemuasaan kebutuhan tsb akan mening-katkan semangat ker-ja & mengurangi penolakan thd wewe-nag formal, shg bawahan akan bersedia bekerja keras

1. Perluasan pengaruh, disiplin diri & penge-ndalian diri akan mengarahkan pencapaian peningka-tan efisiensi operasi

2. Kepuasan kerja kan meningkatkan sejalan dg pemanfaatan sumber daya mereka secara penuh

Sumber : Diambil dari Richard M, Steers & Lyman W. Porter, eds, Motivasion and Work Behavior, edisi kedua, Mc Graw-Hill, New york, 1979.

TEORI MOTIVASI

Motivasi karyawan dipengaruhi oleh kepuasaan kerja (job statisfacion), tau tingkat sejumlah mana karyawan puas dengan pekerjaan mereka, perusahaan menyadari kebutuhan untuk memuaskan karyawanya, sebagaimana diilustrasikan dalam pernyataan ini dlam laporan terbaru :

Anda akan melihat fokus yang lebih besar pada kepuasaan karyawan... yang akan membawa kami pada kualitas yang lebih tinggi, pertumbuhan ynag lebih baik, dan profitabilitas yang meningkat.”

- Kodak

Keberhasilan BethLehem pada akhirnya bergantung pada keterampilan, dedikasi, dan dukungan dari karyawan kami. “

-Bethlehem Steel

Oleh karena karyawan yang puas dengan pekerjaannya lebih termotivasi, maka manejer dapat memotivasi karyawan dengan memastikan kepuasaan kerja. Sebelum mengetahui dari teori motivasi itu sendiri berikut pendeskripsian keinginan karyawan.

1. Upah. Merupakan salah satu pemuas kebutuhan-kebutuhan fisiologis, keterjaminan, dan egoistik. Suatu sistem kompensasi moneter adalah sangat rumit (kompleks) karena membantu memuaskan banyak kebutuhan tetapi tidak memadai memotivasi semua orang.

2. Keterjaminan pekerjaan (security of job), karena ancaman dari perubahan teknologis, kebutuhan ini sangat mendapat perioritas untuk banyak karyawan dan serikat buruh.. kebutuhan akan keterjaminan umum yang mendasari prioritas dalam teori hirerki maslow

3. Teman-teman sekerja yang menyenangkan. Keinginan ini berasal dari kebutuhan sosial kebutuhan untuk berteman dan diterima. Manajemen dapat membantu proses ini dengan program perkenalan yang direncanakan dan dilaksanakan secara hati-hati, penyediaan sarana sosialisasi melalui periode istirahat dan program rekreasi, dan dorongan membentuk tim kerja melalui tata letak tempat kerjadan prosedur kerja yang yang mempertimbangkan hubungan manusia.

4. Penghargaan atas pekerjaan yang dilakukan (credit for work done). Keinginan ini berasal dari peneglompokan kebutuhan secara egoistik da dapat dipenuhi oleh manajemen melalui banyak penghargaan.

5. Pekerjaan yang berarti (a meaning job). Keinginan ini berasal dari kebutuhanakan penghargaan maupun dorongan kearah perwujudandiri dan prestasi. Ini adalah keinginan yang sangat sulit untuk dipuaskan khususnya dalam organisasi-organisasi besar yang mempunyai pembagian kerja yang rinci dan jalur perakitan yang diatur secara mekanis.

6. Kesempatan untuk maju (opportunity to advance). Tidak semua karyawan ingin maju. Beberapa orang merasakan kebutuhan-kebutuha sosial yang lebih kuat daripada kebutuhan egoistik. Namun, sebagian besar karyawan ingin mengetahui bahwa kesempatan untuk itu ada jika mereka ingin menggunakannya.

7. Kondisi kerja yang aman, nyaman, dan menarik. Keinginan ini kondisi kerja yang baik juga didasari oleh banyak kebutuhan. Perlengkapan tertentu merupakan lambang-lambang status yang menunjukkan bagaiman pentingnya kedudukan seseorang. Banyak manjemen telah menemukan bahwa pembagian lambang-lambang status semacam itu dapat menjadi sama sulitnya dengan pembagian uang.

8. Kepemimpinan yang mampu dan adil (competent and fair leadership). Berasal dari kebutuhan-kebutuhan fisiologis dan keterjaminan. Kepemimpinan hyang baik turut menjamin bahwa organisasi bersangkutan dan pekerjaannya terus hidup.

9. Perintah dan pengarahan yang masuka akal. Ini merupakan komuniakasi yang harus dilaksanakan dengan baik. Jadi perintah tersebut harus berkaitan dengan keadaan yangdiperlukan, dapat dilaksanakan, dengan komunikasi yang singkat padat dan jelas.

10. Oragnisasi yang relevan. Keinginan ini berasal dari kebutuhan manusia akan harga diri

Perspektif- Perspektif Kepuasaan tentang Motivasi

Hirerki Kebuthan Maslow

Abraham Maslow mengembangkan teori kepribadian yang telah mempengaruhi sejumlah bidang yang berbeda, termasuk pendidikan. Ini pengaruh luas karena sebagian tingginya tingkat kepraktisan’s teori Maslow. Teori ini akurat menggambarkan realitas banyak dari pengalaman pribadi. Banyak orang menemukan bahwa mereka bisa memahami apa kata Maslow. Mereka dapat mengenali beberapa fitur dari pengalaman mereka atau perilaku yang benar dan dapat diidentifikasi tetapi mereka tidak pernah dimasukkan ke dalam kata-kata.

Maslow adalah seorang psikolog humanistik. Humanis tidak percaya bahwa manusia yang mendorong dan ditarik oleh kekuatan mekanik, salah satu dari rangsangan dan bala bantuan (behaviorisme) atau impuls naluriah sadar (psikoanalisis). Humanis berfokus pada potensi. Mereka percaya bahwa manusia berusaha untuk tingkat atas kemampuan. Manusia mencari batas-batas kreativitas, tertinggi mencapai kesadaran dan kebijaksanaan. Ini telah diberi label “berfungsi penuh orang”, “kepribadian sehat”, atau sebagai Maslow menyebut tingkat ini, “orang-aktualisasi diri.”

Maslow telah membuat teori hierarkhi kebutuhan. Semua kebutuhan dasar itu adalah instinctoid, setara dengan naluri pada hewan. Manusia mulai dengan disposisi yang sangat lemah yang kemudian kuno sepenuhnya sebagai orang tumbuh. Bila lingkungan yang benar, orang akan tumbuh lurus dan indah, aktualisasi potensi yang mereka telah mewarisi. Jika lingkungan tidak “benar” (dan kebanyakan tidak ada) mereka tidak akan tumbuh tinggi dan lurus dan indah.

Maslow telah membentuk sebuah hirarki dari lima tingkat kebutuhan dasar. Di luar kebutuhan tersebut, kebutuhan tingkat yang lebih tinggi ada. Ini termasuk kebutuhan untuk memahami, apresiasi estetik dan spiritual kebutuhan murni. Dalam tingkat dari lima kebutuhan dasar, orang tidak merasa perlu kedua hingga tuntutan pertama telah puas, maupun ketiga sampai kedua telah puas, dan sebagainya. Kebutuhan dasar Maslow adalah sebagai berikut:

1.  Kebutuhan Fisiologis

Ini adalah kebutuhan biologis. Mereka terdiri dari kebutuhan oksigen, seks makanan, air, dan suhu tubuh relatif konstan. Mereka adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang tidak diberi semua kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian seseorang untuk kepuasan. Jadi, berupa sandang, papan, atau kebutuhan dasar. Pada saat bekerja, seseorang atau karyawan harus terpenuhi kebutuhan-kebutuhan materinya. Seseorang menginginkan upah atau gaji yang layak sehingga dia dapat memberi makan pada dirinya sendiri dan keluarganya. Karyawan butuh makan siang dan istirahat untuk mengurangi rasa lelah atau dari pekerjaan yang bersifat monton.

2.  Kebutuhan Keamanan

Ketika semua kebutuhan fisiologis puas dan tidak mengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan keamanan dapat menjadi aktif. Orang dewasa memiliki sedikit kesadaran keamanan mereka kebutuhan kecuali pada saat darurat atau periode disorganisasi dalam struktur sosial (seperti kerusuhan luas). Anak-anak sering menampilkan tanda-tanda rasa tidak aman dan perlu aman. Karyawan menginginkan tempat yang aman, dia menginginkan manajemen perusahaan melindungi tempat kerja yang aman, dan menginginkan manajer perusahaan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan kerja karyawan-karyawan yang bekerja dim pabrik. Umumnya, hanya sedikit orang yang mau bekerja di tempat-tempat yang resikonya tinggi. Selain itu, mereka tidak menginginkan diberhentikan atau diistirahatkandengan alasan yang tidak masuk akal.

3.  Kebutuhan untuk diterima orang lain.

Ketika kebutuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan fisiologis puas, kelas berikutnya kebutuhan untuk cinta, sayang dan kepemilikan dapat muncul. Maslow menyatakan bahwa orang mencari untuk mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan. Ini melibatkan kedua dan menerima cinta, kasih sayang dan memberikan rasa memiliki.

Ditempat kerja, orang makan siang bersama, bergabung dalam perkumpulan olahraga yang ada dalam perusahaan, bergabung dalam piknik karyawan perusahaan, dan fungsi sosial-sosial lainnya. Para manajer yang mendorong karyawan bergabung dan membentuk suatu klub –klub sosial didalam perusahaan. Dalam perusahaan besar, kegiatan-kegiatan semacam ini memungkinkan karyawan satu departemen dapat bertemu dengan karyawan dari departemen lainnya dan membantu membangun rasa memiliki perusahaan. Diperusahaan jepang, para karyawn berkumpul untuk menyanyikan nyanyian atau mars perusahaan setiap pagi. Seorang manajer bisa memenuhi kebutuhan ini dengan membolehkan interaksi sosial dan dengan membuat karyawan merasa bagian dari kelompok kerja.

4.  Kebutuhan Esteem (harga diri)

Ketika tiga kelas pertama kebutuhan dipenuhi, kebutuhan untuk harga bisa menjadi dominan. Ini melibatkan kebutuhan baik harga diri dan untuk seseorang mendapat penghargaan dari orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk tegas, berdasarkan, tingkat tinggi stabil diri, dan rasa hormat dari orang lain. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, orang merasa percaya diri dan berharga sebagai orang di dunia. Ketika kebutuhan frustrasi, orang merasa rendah, lemah, tak berdaya dan tidak berharga.

Dengan kebutuhan ini dijelasksan mengapa olahragawan ingin meningkatkan catatan rekornya, dan seorang arsitek lebih menyenangi bekerja pada proyek-proyek baru. Dalam praktek, kebutuhan ini seperti biasanya sangat penting bagi para karyawan pada level tinggi dan manajer puncak (CEO) suatu oragnisasi. Ketidakpuasaan kerja dan kurangnya tantangan biasanya menjadi alasan utama mengapa para manajermeninggalkan pekerjaannya dan mencari pekerjaan lain.

5.  Kebutuhan Aktualisasi Diri

Ketika semua kebutuhan di atas terpenuhi, maka dan hanya maka adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri diaktifkan. Maslow menggambarkan aktualisasi diri sebagai orang perlu untuk menjadi dan melakukan apa yang orang itu “lahir untuk dilakukan.” “Seorang musisi harus bermusik, seniman harus melukis, dan penyair harus menulis.” Kebutuhan ini membuat diri mereka merasa dalam tanda-tanda kegelisahan. Orang itu merasa di tepi, tegang, kurang sesuatu, singkatnya, gelisah. Jika seseorang lapar, tidak aman, tidak dicintai atau diterima, atau kurang harga diri, sangat mudah untuk mengetahui apa orang itu gelisah tentang. Hal ini tidak selalu jelas apa yang seseorang ingin ketika ada kebutuhan untuk aktualisasi diri. Pemebrian penghargaan dan hadiah pada karyawan yang berprestasi untuk untuk menunjukkan perhatian dan pengakuan karyawan.

clip_image004

G.1 Ringkasan teori Hirerki

Studi Hawthorne

Pada akhir tahun 1920-an, para peneliti mempelajari pekerja d western elektrik plan dekat chiago untuk mengidentifikasikan bagaimana beragam kondisi mempengaruhi tingkat produksi mereka. Ketika pencahayaan ditingkatkan, tingkat produksipun meningkat. Akan tetapi tingkat produksi juga meningkat pencahayaan dikurangi. Para pekerja ini kemudian diberikan beragam istirahat:; lagi-lagi, tingakt produksi meningkat baik waktu istirahan yang lebih pendek maupun yang lebih panjang. Suatu interpretasi dari hasil ini adalah bahwa pekerja menjadi lebih termotivasi, ketika mereka merasa bahwa mereka diperbolehakan untuk berpatisipasi. Supervisor dapat memotivasi karyawan dengan memberikan banyak perhatian kepada mereka dan memperbolehkan mereka untuki berpartisipasi. Studi Hawthorne ini, yang memicu penelitian lebih lanjut menegnai motivasi, diarangkum dalam rangkung dalam tampilan gambar, dan menunjukkan bahwa hubungan antar manusia dapat mempengaruhi kionerja suatu perusahaan.

Meningkatkan pencah-ayaan bg karyawan

Produktivitas lebih tinggi

Kondisi Hasil

clip_image005

clip_image006

clip_image007

Mengurangi pencahaya-an bg karyawan

Produktivitas lebih tinggi

Eksperimen

clip_image008

Penyesuaaian apapun dalam kondisi yang mencerminkan peningkatan perhatian dalam karyawan

clip_image009

clip_image010Kesimpulan

Teori X dan Teori Y McGregor

Orientasi-orientasi yang berbeda-beda dari para metode tradisional adalah akibat dari asumsi yang berbeda-beda tentang kodrat manusia. McGregor mengemukakan dua pendapat yang saling bertentangan dengan kodrat manusia.

Teori X

Teori Y

Karyawan tidak menyukai pekerjaan & tanggung jawab yang terkait serta akan berusaha menghindari pekerjaan sebisa mungkin

Karyawan mau bekerja dan lebih menyukai untuk memiliki tanggung jawab yang lebih besar

Cara supervisor memandang karyawan dapat mempengaruhi cara mereka memperlakukan karyawan. Supervisor yang mempercayai Teori X kemungkinan besar akan menggunakan pengendalian ketat terhadap pekerja, dengan sedikit pendelegasiaan wewenang atau tidak sama sekali. Selain itu, karyawan akan dipantau secara ketat guna memastihkan bahwa mereka melakukan pekerjaanya. Sebaliknya, supervisor yang mempercayai Teori Y akan mendelegasikan lebih banyak wewenang karena mereka menganggap pekerja bertanggung jawab. Supervisor ini juga akan memberikan banyak peluang kepada karyawan untuk menggunakan kreativitasnya. Pendekatan manajemen ini memenuhi kebutuhan karyawan untuk bertanggung jawab dan memperoleh rasa hormat serta pengakuan. Konsekuensinya, karyawan ini kemungkinan besar akan memiliki tingkat kepuasaan kerja yang lebih tinggi dan dengan demikian menjadi lebih termotivasi

Memotivasi Karyawan yang Tidak Puas

Suatu perusahaan mungkin tidak mampu untuk memotivasi beberapa karyawannya, tidak peduli seberapa besarnya usahayang telah dilakukan atau metode apapun yang telah dilakukan untuk memotivasi mereka. Jika tidak ada bentuk motivasi yang efektif, maka ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat diguynakan sebagai jaln terakhir untuk memotivasi karyawan-karyawan ini. Jika perusahaan tidak mendisiplikan karyawan yang tidak puas dengan kinerjs ysng buruk, maka karyawan lainnya akan kehilangan entusiasime mereka, terutama jika karyawan lainnya harus mengambil alih pekerjaan yang diabaikan oleh karyawan yang tidak puas tersebut.

Jika karyawan yang tidak puas tersebut tidak termotivasi,mereka dapata mencari pekerjaan ditempat lain, dimana hal ini tentu saja menguntungkan bagi perusahaan. Tetap, karyawan tsb mungkin menyadaribahwa dimanapun mereka bekerja mereka akan tetap tidak puas, dan oleh karena itu memutuskan un tuk tidak berhenti, terutama jika mereka dapat menghindari dari melakukan pekerjaannya. Perusahaan sebaiknya memaksa karyawan yang tidak puas ini untuk melakukan pekerjaannya dan sebaiknya memutuskan hubungan kerja jika mereka tidak mau berkinerja, sehingga sifat buruk mereka tidak memiliki dampk negatif terhadap karyawan lain.

Teori Motifasi Dua Faktor Dari Frederick Herzberg

Pada akhir tahun 1950-an. Frederick Herzberg dan kawan-kawannya melakukan penelitian mengenai sikap terhadap pekerjaan di antara 200 orang insinyur dan akuntan. Dari hasil penelitiannya tersebut, Herzberg menyimpulkan bahwa ketidakpuasan kerja dan kepuasan kerja muncul dari dua set faktor yang terpisah. Teori ini disebut teori dua faktor.

Faktor penyebab ketidakpuasan (yang disebut faktor “hygiene”) termasuk gaji (tapi bukan termasuk gaji tinggi)sebagai pemebentuk kepuasaan, kondisi kerja, dan kebijaksanaan perusahaan. Semuanya mempengaruhi konteks tempat pekerjaan dilakukan. Faktor yang paling penting adalah kebijakan perusahaan, yang dinilai oleh banyak orang sebagai penyebab utama ketidakefisienan dan ketidakefektifan. Penilaian positif untuk faktor-faktor ini tidak menyebabkan kepuasan kerja tetapi hanya sampai hilangnya ketidakpuasan.

Faktor penyebab kepuasan (faktor yang memotivasi) termasuk prestasi, pengakuan, tanggung jawab, dan kemajuan. Semuanya berkaitan dengan isi pekerjaan dan imbalan prestasi kerja.

Berbasis penemuan ini, Herzberg berpendapat bahwa proses memotivasi karyawan melalui dua tahap. Pertama manajer measwtikan bahwa faktor-faktor higienis telah memadai. Gaji dan keamanan harus mencukupi. Dengan menyediakan faktor higienis secara memadai. Manajer tidak merangsang memotivasi, tetapi memastikan bahwa karyawan “tidak merasa tidak puas”. Karyawan-karyawan yan dicoba “dipuaskan”. Oleh manajer . melalui faktor higienis biasanya akan bekerja untuk level yang pas-passan . jadi manajer harus pindah pada tahap kedua- menyediakan faktor-faktor penggerak motivasi kepada karyawan seperti pencapaian dan pengakuan. Herberg berpendapat selangkah lebih jauh, ia menyatakan bahwa pekerjaan harus dirancang ulang agar menyediakan faktor-faktor penggerak motivasi pada level yg lebih tinggi.

Faktor-faktor motivasi

Prestasi / hasil karya
Pengakuan
Pekerjaan itu sendiri
Tanggung Jawab
Peluang untuk maju dan tumbuh

Faktor-faktor Higienis

Supervisor
Kondisi Kerja
Hubungan antar pribadi
Gaji dan Keamanan
Kebijakan-kebijakan dan administrasi perusahaan

Perspektif-perspektif Proses tentang Motivasi

Teori Keadilan

Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa faktor utama dalam motivasi pekerjaan adalah evaluasi individu atas keadilan dari penghargaan yang diterima. Keadilan dapat didefinisikan sebagai rasio antara input pekerjaan individu (seperti usaha atau keterampilan) dan imbalan pekerjaan (seperti gaji atau promosi). Menurut teori keadilan, individu akan termotivasi kalau mereka mengalami kepuasan dengan yang mereka terima dari upaya dalam proporsi dengan usaha yang mereka pergunakan. Orang menilai keadilan dari imbalan mereka dengan membandingkan dengan imbalan yang diterima orang lain untuk input yang serupa atau dengan rasio usaha/imbalan yang lain yang mereka alami. Sebuah contoh akan menunjukkan perbedaannya.

Seandainya Anda dan rekan sekerja sama-sama diberi proyek untuk mengembangkan strategi penetapan harga suatu produk. Produk “Anda” adalah bagian baru dari jenis produk organisasi dan menghadapi situasi kompleks. Produk rekan sekerja anda telah dijual selama sepuluh tahun dan mempunyai catatan lengkap menyangkut hubungan antara penjualan dan tingkat harga. Usaha anda mungkin jauh lebih berat daripada usaha rekan anda. Mengingat besarnya ketidakpastian yang anda hadapi untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Menurut teori keadilan, anda akan membuat pertimbangan perbedaan tentang input pekerjaan antara anda berdua dalam memutuskan apakah imbalan yang anda terima adil. Ini adalah perbandingan keadilan yang pertama—perbandingan situasi antar orang. Sebaliknya, bila anda berpendapat bahwa bekerja enam puluh jam seminggu untuk proyek seperti ini seharusnya diimbangi dengan “cuti” kompensasi, anda melakukan pembandingan keadilan jenis kedua­­­—menilai terhadap standar yang anda pilih. Dalam keadaan yang mana pun, teori keadilan bergabung teori kebutuhan sebagai pandangan lain mengenai apa yang membuat orang puas atau tidak puas.

Kebanyakan diskusi dan penelitian pada teori keadilan memfokuskan pada uang sebagai imbalan yang paling signifikan di tempat kerja. Orang membandingkan berapa upah atas usaha mereka dengan berapa yang diterima orang lain dalam situasi serupa. Kalau mereka merasa ada ketidakadilan, akan berkembang ketegangan di antara mereka, yang mereka usahakan penyelesaiannya lewat penyesuaian tingkah laku mereka. Seorang pekerja yang menganggap bahwa dia menerima gaji terlalu kecil, misalnya, mungkin mencoba mengurangi ketidakadilan itu dengan mengurangi usaha yang mereka lakukan.

Penelitian baru-baru ini telah menunjukkan bahwa reaksi seseorang terhadap ketidakadilan tergantung pada sejarah ketidakadilan yang dialami orang tersebut. Di sinilah faktor masuk ke dalam teori motivasi. Richard A. Cosier dan Dan R. Dalton menunjukkan bahwa hubungan kerja tidak bersifat statik dan bahwa ketidakadilan biasanya tidak terisolasi atau merupakan peristiwa yang terjadi sekali saja. Mereka menyarankan bahwa ada nilai ambang yang membuat seseorang dapat memberikan toleransi beberapa peristiwa tidak adil, tetapi bila terlalu banyak kejadian dapat mendorong orang ini melewati batas. Artinya, ketidakadilan yang relatif kecil—“penderitaan”—mendorong orang ini di luar batas toleransinya, dan hasilnya adalah reaksi ekstrem dan tampaknya tidak layak. Misalnya, seorang karyawan yang menonjol ditolak ketika minta izin selama setengah hari tanpa alasan yang jelas mungkin tiba-tiba menjadi marah bila dia pernah mengalami serangkaian keputusan remeh serupa pada masa lalu.

Orang menggunakan metode berbeda untuk mengurangi ketidakadilan. Sebagian orang akan merasionalisasi bahwa usaha mereka lebih besar atau lebih kecil daripada anggapan mereka semula, atau bahwa imbalan tersebut lebih berharga atau kurang berharga. Misalnya, seseorang yang tidak menerima promosi mungkin “memutuskan” bahwa pekerjaan yang semula dikehendakinya sebenarnya menanggung tanggung jawab yang lebih banyak. Orang lain mungkin mencoba mengubah tingkah laku rekan sekerja yang dijadikan pembanding. Anggota kelompok kerja yang menerima pembayaran sama tetapi memperlihatkan kurang berusaha mungkin dibujuk agar “tidak membuat kami tampak jelek”. Teori keadilan mengatakan bahwa manajer amat penting untuk mengetahui karyawan dan mengakui bahwa pekerjaan dilaksanakan dalam konteks hubungan manusia. Hanya dengan begitu mereka dapat mulai menghargai “perhitungan” keadilan yang dibuat oleh karyawan.

John Zitzner, presiden Bradley Co.,perusahaan pengembang perangkat lunak asuransi di Cleveland yang bernilai $ 18 juta, berkeyakinan untuk memperlakukan kelompok kecil karyawan seperti keluarga. Pada suatu waktu progam imbalannya berdasarkan penilaian nilai relatif setiap individu terhadap perusahaan, dan membagikan laba menurut penilaian tersebut. Kemudian dia memutuskan untuk membagi saja uang sama banyak. Setiap orang setuju dengan perubahan itu.

Teori Prestasi McCleland

Teori dorongan berprestasi dikemukakan oelh David McCleland. McCleland adalah seorang ahli psikologi sosial yang memusatkan perhatian pada kepribadian sebagai pendorong utama perubahan. Menurutnya, karena semangat kewiraswastaanlah yang mendorong perkembangan ekonomi, maka tugas teoritisi adalah menerangkan sebab-sebab kemunculan bayangan umum, tidak hanya didorong oleh motif untuk mencari keuntungan, tetapi lebih didorong oleh hasrat kuat untuk berprestasi, untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih baik. Keuntungan hanyalah salah satu diantara beberapa ukuran tentang seberapa bail pekerjaan telah dikerjakan namun keuntungan tidak harus menjadi tujuan itu sendiri. Tesis dasar McCleland adalah bahwa “masyarakat yang tinggi tingkat kebutuhan untuk berprestasinya, umumnya akan menghasilkan wiraswastaan yang lebih bersemangat dan selanjutnya menghasilkan perkembangan ekonomi yang lebih cepat. Kebutuhan untuk berprestasi yang dilambangkan dengan n-Ach atau need for Achievment adalah salah satu dasar kebutuhan manusia, dan sama dengan motif-motif lainnya, kebutuhan untuk berprestasi ini adalah hasil dari pengalaman sosial sejak kanak-kanak. Jadi, berbagai faktor sosial yang mempengaruhi cara-cara memelihara anak, selanjutnya akan membantu atau merintangi perkembangan pertumbuhan untu berprestasi. Kebutuhan untuk berprestasi ini juga adalah fungsi dari bermacam-mcam bahan bacaan yang disodorkan kepada anak. Bila kebutuhan berprestasi ini sangat berkembang, maka individu akan menunjukan perilaku yang tepat, mewujudkan semangat kewiraswastaan, dan karena itu akan bertindak sedemikian rupa untuk memajukan perkembangan ekonomi.

McCleland menemukan sebuah teknik proyektif untuk mengukur motif orang untuk berprestasi. Pada dasarnya, teknik ini mencoba memastikan sejauh mana pikiran asli orang dapat berubah menjadi ide-ide yang berorientasi kepada prestasi. Sebagai contoh, jika sorang individu menulis sebuah ceritaberdasarkan atas sebuah gambar yang telah ia tunjukkan, maka kita akan dapat menghitung jumlah ide dalam cerita itu yang berhubungan dengan prestasi. Perhitungan sederhana ini dapat kemudian dapat digunakan sebagai skor dari kebutuhan untuk berprestasi, yang mencerminkan dorongan individu itu untuk berprestasi, atau kekuatan motivasinya untuk berprestasi. Teknik proyektf yang dilukiskan diatas diatas adalah bagian dari perkembangan awal stusi mengenai kebutuhan untuk berprestasi. Dalam upaya menjelajahi lebih baik dalam hubungan antara kebutuhan untuk berprestasi dan perkembangan ekonomi, McCleland melakukan tiga jenis riset. Pertama, mencoba menemukan tindakan kelompok untuk menemukan ukuran berprestasi dari kelompok. Kedua, mencoba menemukan ukuran individual dari motif, kepentingan, nilai-nilai, dan pelaksanaannya baik oleh para ibu amupun oleh anak mereka di berbagai negara. Ketiga meneliti perilaku, termasuk motif kegiatan para pengusaha.

Ukuran kelompok didasarkan atas ide bahwa fantasi dapat dilihat didalam kepustakaan ataupun didalam cerita-cerita yang ditulis orang kebanyakan. Cerita-cerita rakyat, buku-buku cerita yang digunakan untuk anak-anak sekolah dasar, dan bacaan imajinatif tentang masa lalu digunakan untuk memberikan skor kebuuhan berprestasi kelompok. Analisis kandungan bahan kepustakaan menghasilkan sejauh mana kepustakaan itu mnecerminkan tingkat motivasi untuk berprestasi; selanjutnya, kepustakaan itu dapat dianggap mempengaruhi anggota masyarakat dan menunjukkan cara berpikir yang “wajar” dalam masyarakat bersangkutan.

Tipe riset kedua yang dilakukan McCleland dipusatkan pada sumber-sumber kebutuhan untuk berprestasi dan pada pengaruhnya di kalangan remaja. Mengapa sebagian remaja mempunyai tingkat kebutuhan berprestasi yang lebih tinggi sedangkan sebagian yang lain sangat rendah? Bagaimana hubungan antara tingkat kebutuhan untuk berprestasi itu dengan minat kejuruan dan pelaksanaannya? Jawabannya dicari dalam kaitannya dengan studi antar bangsa. Di Jepang, jerman, Brazilia dan India, sampel anak-anaknya dites dan ibu mereka diwawancarai bebas. Anak-anak dites dengan dua teknik proyektif : menulis cerita dan menggambar secara spontan. Anak-anak juga ditanyai sehubungan dengan nilai-nilai mereka.

Tipe riset ketiga, menyangkut pengetesan kehidupan para pengusaha untuk memastikan apakah tingkat kebutuhan untuk berprestasi mereka lebih tinggi dan aktivitas kewiraswastaan mereka lebih luas dibandingkan denga orang-orang seumur mereka. Riset ini juga dilakukan antara bangsa, menyangkut para pengusaha dan profrsi lain di AS, Turki, Italia, dan Polandia. Jelaslah McCleland mencoba mengenali faktor yang tak terbatas hanya pada satu kebudayaan saja. Dalam kenyataannya, mereka menunjukkan, meskipun terdapat perbedaan kebudayaan diantara bangsa-bansgsa itu,juga terdapat kesamaan mendasar dari rakyat disemua masyarakat itu yang bekerja keras menurut ukuran tertentu takkala tingkat motivasi untuk berprestasi mereka tinggi. Soalnya, apakah data yang mendukung perbedaan motif untuk berprestasi itu benar-benar bersumber dari perbedaan kebudayaan? Setelah membandingkan laju pertumbuhan ekonomi berbagai bangsa (berdasarkan peningkatan produksi tenaga listrik) dengan tingkat kebutuhan untuk berprestasi, dan kemudian membuat perbandingan historis antara laju pertuumbuhan ekonomi dan kebutuhan untuk berprestasi yang dikaitkan dengan cerita-cerita dalam kepustakaan bacaan anak-anak, McCleland menyimpulkan bahwa hubungan antara kebutuhan untuk berprestasi dan pertumbuhan ekonomi itu sangat nyata.

Berlimpahnya cerita-cerita yang berorientasi pada prestasi dalam kepustakaan imajinatif zaman modern, berhubungan erat dengan laju pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat. Kesimpulanini berlaku baik bagi negara Barat maupun negara komunis, baik bagi negara maju maupun negara sedang berkembang di kedua kelompok negara tersebut. Nampaknya tingkat perkembangan, struktur politik maupun faktor lain sejauh yang telah diketahui, tak satupun yang menghalangi hubungan ini. Orang yang tinggi tingkat motivasi untuk berprestasi, bersikap begini: “apa yang mereka inginkan, mereka usahakan untuk mendapatkannya, meskip[un faktor lain dapat mengubah kecepatan mereka dalam mencapainnya.

David McCelland menganalisis tentang tiga kebutuhan manusia yang sangat penting did dalam organisasi atau perusahaan tentang motivasi mereka. McCelland theory of needs memfokuskan kepada tiga hal yaitu;

· Kebutuhan dalam mencapai kesuksesan (need for achievement)

Kemampuan untuk mencapai hubungan kepada standar perusahaan yang telah ditentukan juga perjuangan karyawan untuk menuju keberhasilan.

Ada beberapa orang yang memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil. Mereka lebih mengejar prestasi pribadi daripada imbalan terhadap keberhasilan. Mereka bergairah untuk melakukan sesuatu lebih baik dan lebih efisien jika dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Ciri-ciri :

ü Berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru dan kreatif.

ü Mencari feedback tentang perbuatannya.

ü Memilih resiko yang sedang di dalam perbuatannya.

ü Mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatannya.

· Kebutuhan dalam kekuasaan atau otoritas kerja (need for power)

Kebutuhan untuk membuat orang berperilaku dalam keadaan yang wajar dan bijaksana di dalam tugasnya masing-masing.

Adanya keinginan yang kuat untuk mengendalikan orang lain, intuk mempengaruhi orang lain dan untuk memiliki dampak terhadap orang lain. Ciri-ciri :

o Menyukai pekerjaan dimana mereka menjadi pimpinan berada.

o Mengumpulkan barang-barang atau menjadi anggota suatu perkumpulan yang dapat mencerminkan prestise.

o Sangat peka terhadap struktur pengaruh antar pribadi dari kelompok atau organiasi.

· Kebutuhan untuk berafiliasi (needs for affiliation)

Hasrat untuk bersahabat dan mengenal lebih dekat rekan kerja atau para karyawan di dalam organisasi.

Kebutuhan akan kehangatan dan sokongan dalam kehidupannya atau hubungannya dengan orang lain. Kebutuhan ini akan mengarahkan tingkah laku individu untuk melekukan hubungan yang akrab dengan orang lain. Orang-orang dengan need affiliation yang tinggi ialah orang yang berusaha mendapatkan persahabatan. Ciri-ciri :

§ Lebih memperhatikan segi hubungan pribadi yang ada dalam pekerjaannya daripada segi tugas-tugas yang ada dalam pekerjaan tersebut.

§ Melakukan pekerjaannya lebih efektif apbila bekerjasama dengan orang lain dalam suasana yang lebih kooperatif.

§ Mencari persetujuan atau kesepakatan dari orang lain.

§ Lebih suka dengan orang lain daripada sendirian.

§ Selalu berusaha menghindari konflik.

Teori Pengharapan

Teori pengharapan berargumen bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu , dan pada daya tarik dari keluaran tersebut bagi individu tersebut.

Saat ini salah atu teori yang dapat diterima secara luas tentang motivasi adalah dari teori yang dikemukakan oleh Victor Vroom’s, expectancy theory. Walau banyak kritikan pada toeri tersebut tapi banyak pulayang mensuport teori ini.

Dalam istilah yang lebih praktis, teori pengharapan, mengatakan seseorang karyawan dimotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia menyakini upaya akan menghantar ke suatu penilaian kinerja yang baik (Victor Vroom dalam Robbin 2003:229)

Karena ego manusia yang selalu menginginkan hasil yang baik baik saja, daya penggerak yang memotivasi semangat kerja seseorang terkandung dari harapan yang akan diperolehnya pada masa depan (Hasibuan 2001:165).

Apabila harapan dapat menjadi kenyataan, karyawan akan cenderung meningkatkan gairah kerjanya. Sebaliknya jika harapan tidak tercapai, karyawan akan menjdadi malas.

Bagian-bagian penting ini adalah ekspetasi individu bahwa bahwa upayanya akan memunculkan kinerja tinggi, bahwa kinerja akan memunculkan hasil, dan bahwa setiap hasil akan memunculkan nilai.

Pengharapan upaya-ke-kinerja. Adalah persepsi indidu menyangkut probablitas bahwa upayanya akan mengumpulkan kinerja tinggi. Jika indidu percaya bahwa upaya dan kinerja tidak berhubungan maka probablitas mendekati nol. Jika keyakinan bahwa upaya berhubungan dengan kinerja dan tidak kuat mak probablitas antara 0 dan 1.

Pengharapan kinerja-ke-hasil. Adalah persepsi individu bahwa kinerjanya akan menghasilkan spesifik. 1. Individu yang percaya bahwa kinerja tinggi berpeluang memunculkan kenaikan gaji di katakan memiliki pengharapan moderat probabilitasnya antara 0 sampai 1). Individu yang percaya bahwa kinerja tidak memiliki hubungan dengan balas jasa dikatakan memiliki kinerja-ke-hasil yang rendah (probabilitasnya mendekati 0).

Hasil dan Valensi teori pengharapan menyatakan bahwa perilaku individu memunculkan beragam hasil (outcomes), atau konsekuensi, dalam organisasi. Seorang karyawan berkinerja tinggi, misalnya, mungkin akan mendapatkan kenaikan gaji, promosi yang lebih cepat, dan pujian dari atasan. Pada sisi lain, dia mungkin juga cenderung lebih stres dan menanggung kebencian dari rekan-rekan kerja. Masing-masing hasil juga terasosiasi dengan suatu nilai, atau valensi (valence)-suatu indeks yang menjelaskan seorang individu menilai hasil tertentu. Jika individu menginginkan hasilnya, valensinya akan positif; jika individu tidak menginginkan hasilnya, valensinya akan negatif; dan jika individu bersikap indeverent terhadap hasilnya, valensinya akan nol.

Agar seorang individu termotivasi untuk menampilkan perilaku tertentu, tiga kondisi harus terpenuhi. Pertama, pengharapan upaya-ke-kinerja mesti lebih besar dari nol (sang individu mesti percaya bahwa dengan berusaha, kinerja tinggi akan muncul). Pengharapan kinerja-ke-hasil juga mesti lebih besar dari nol (sang individu harus percaya bahwa jika meraih kinerja tinggi, hasil tertentu akan menyusul). Dan jumlah valensi dari hasil harus lebih besar dari nol. Satu atau beberapa hasil mungkin memiliki valensi negatif, tetapi dapat di tutupi oleh valensi-valensi positif dari hasil-hasil yang lain.

Perluasan portel lawler, kepuasaan karyawan akan memunculkan kinerja tinggi. Riset-riset tidak mendukung hubungn kedua variabel. Porter dan lawler berpendapat bahwa hubungan antara kepuasan dengan antara kepuasaan dan kinerja memang ada tapi berlawanan arah-yaitu kinerja tinggi memunculkan kepuasaan tinggi.

Pola dasar teori ini adalah pemahaman antara individu dan hubungannya dengan hasil kerja dan kemampuan kerja antara hasil kerja dan penghargaan dan kepuasan tujuan individu. Menurut teori ini ada empat asumsi mengenai perilaku individu dalam perusahaan, yaitu;

ü Perilaku individu ditentukan oleh kombinasi faktor-faktor individu dan faktor-faktor lingkungan.

ü Individu mengambil keputusan dengan sadar mengenai perilakunya sendiri dalam perusahaan.

ü Individu mempunyai kebutuhan , keinginan dan tujuan yang berbeda.

ü Individu memutuskan diantara perilaku alternatif berdasarkan harapannya bahwa suatu perilaku akan mengarahkan pada tujuan yang diinginkan.

Model Teori Harapan

clip_image011

Tujuan tercapai dan kepuasan

clip_image012clip_image013K

clip_image014

Model teori harapan di atas mempunyai sejumlah implikasi nyata, yaitu;

Ø Menentukan imbalan yang dinilai oleh setiap karyawan. Jika imbalan menjadi motivator, maka akan cocok untuk individu yang terlibat. Pimpinan dapat menentukan imbalan apa yang diinginkan oleh karyawannya dengan reaksinya dalam situasi yang berbeda-beda dan menanyakan imbalan apa yang mereka inginkan.

Ø Menentukan kinerja yang diinginkan. Identifikasi tingkat kinerja atau perilaku yang diinginkan sehingga dapat memberitahukan pekerjaan apa yang harus dilakukan agar mereka diberi imbalan.

Ø Mengkaitkan imbalan dengan kinerja. Untuk mempertahankan motivasi, imbalan yang layak harus dikaitkan dalam suatu kinerja dalam jangka waktu yang singkat.

Ø Menganalisis faktor-faktor yang mengurangi efektifitas imbalan. Perbedaan antara rencana imbalan dengan pengaruh lain di dalam lingkungan kerja memungkinkan dilakukannya penyesuaian di dalam sistem imbalan.

Ø Memastikan imbalan mencukupi. Imbalan yang kecil akan menjadi motivator yang kecil pula.

Strategi-strategi Penggerak Motivasi yang Populer

Secara umum, karateristik umum yang memengaruhi kepuasaan kerja adalah uang, keamanan, jadwal kerja, dan keterlibatan di tempat kerja. Untuk memotivasi karyawan, perusahaan menyediakan program pengayaan pekerjaan, atau program yang dirancang untuk menigkatkan kepuaasaan kerja karyawan.

Program Kompensasi yang Memadai

Perusahaan dapat berusaha untuk memuaskan karyawan dengan menawarkan kompensasi yang memadai untuk pekerja yang terkait.

Sistem jasa mengalokasikan kenaikan,gaji sesuai dengan kinerja. Misalnya saja, suatu perusahaan dapat memutuskan untuk memberikan kenaikan gaji rata-rata sebesar 5% bagi karyawannya, tetapi karyawan yang berkinerja buruk dapat menerima kenaikan gaji sebesar 0%. Jadi sistem ini memberikan dorongan positif bagi karyawan yang telah berkinerja baik. Sistem Merata, dimana seluruh karyawan menerima kenaikan gaji yang sama. Jadi perusahaan mendorong kinerja karyawan dengan imbalan-imbalan lain. Program Intensif, memberi karyawan berbagai bentuk kompensasi jika mereka mencapai target tertentu.

Contoh-contoh program kompensasi. Kompensasi dibeberapa perusahaan terdiri dari gaji pokok dan imbalan yang dikaitkan dengan tujuan kinerjai tu.gaji pokok ditetapkan pada tingkatan yang lebihrendah dibandingkan dengan norma industri untuk pekerjaan tertentu, tetapi imbalan tambahan dapat membuat total kompensasi yang diterima melampaui norma tersebut. Karyawan lebih termotivasi untuk berkinerja dengan baikkarena mereka memperoleh manfaat langsung dari kinerja yang tinggi.

Beberapa karyawan dari Enterprise Rent-A-Car Company diberi kompensasi sesuai dengan laba perusahaan. Pekerja laba di Nucor memperoleh bonus tahunan berdasarkan volume penjualan.

Kodak menggunakan program intensif yang memungkinkan setiap eksekutif memperoleh bonusberdasarkan kinerjanya. Target kinerja ditetapkan oleh anggota dewan yang bukan karyawan Kodak. Bonus tersebut didasarkan pada ukuran kinerjaseperti pendapatan dan laba. Procter & Gamble Company memberikan bonus pada eksekutif berdasarkan, laba, pada ukuran-ukuran non keuangan, seperti integritas dan kepemimpinan.

Bonus dari CEO di General Electris, IBM, dan banyak perusahaan lainnya dikaitkan dengan kinerja perusahaan. Ukuran kinerja dapat meliputi pendapatan efisiensi produksi, dan kepuasan pelanggan. Perusahaan mengakui bahwa mengkaitkan kompensasi dengan kinerja dapat meningkatkan kepuasaan kerja dan memotivasi karyawan. Penjelasan mengenai kebijakan –kebijakan dari laporan tahun terakhir berikut ini menginformasi.

“ Suatu perusahan hidup atau mati berdasarkan hasil, dan di Campbell, gajieksekutif dikaitkan secara langsung dengan kinerja.. dan 100% dari seluruh bonus intensif dikaitkan dengan kinerja perusahaan.”

_Campbell’s Soup Company

“ Kami bekerja keras untuk mengubah budaya perusahaan dengan menekankan dan memberikan imbalan atas hasil, bukan atas aktivitas.”

_ IBM

Selain mengaitkan kompensasi dengan kinerja, beberapa perusahaan juga memberikan saham pada karyawannya sebagai kompensasi parsial atas pekerjaan mereka, jadi bergantung pada harga saham di perusahaan mereka.

Pada awalnya, perusahaan mengguanakan saham sebagai kompensasi hanya untuk CEO. Tetapi dalam tahun-tahun belakangan ini, manajer puncak lainnya di perusahaan telah diberikan saham juga agar mereka tetap fokus pada peningkatan nilai saham juga. Misalnya saja, seluruh karyawan dari Avis menerima sebagian sahamnya Avis. Hsl ini memotivasi mereka untuk berkinerja dengan baik karena kinerja mereka dapt meningkatkan nilai saham yang mereka miliki. Salah satu keterbatasan pendekatan ini adalah beberapa karyawan yang memiliki sedikit saham dapat meyakini bahwa kebiasaan kerja mereka tidak akan berpengaruh pada laba perusahaan.

Keamanan Kerja

Karyawan yang memiliki keamana kerja dapat menjadi lebih termotivasi untuk berkinerja dengan baik. Mereka kemungkinan kecil akan terganggu pekerjaannya karena berpikir untuk mencari pekerjaan yang lebih aman.

Contoh : ketika perekonomian AS yang melemah menurunkan permintaan akan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan AS, perusahaan –perusahaan ini tidak dapat mempertahankan seluruh karyawannya. Bahkan ketika perekonomian menguat, beberapa perusahaan ditekan utuk mengurangi karyawan guna menurunkan beban.

Perusahaan dapat memberikan keamanan kerja yang lebih baik dengan melatih karyawan untuk menangani berbagai tugas sehingga mereka dapat ditugaskan kebagian lain jika posisi mereka sekarang tidak lagi dibutuhkan. Meskipun demikian, perusahaan kemungkinan tidak membuka lowongan kerja kemana karyawan tersebut ditugaskan kembali. Lebih lanjut, lowongan kerja tersebut mungkin jauh berbeda sehingga penugasan kembali menjadi tidak mungkin.

Jadwal Kerja yang Fleksibel

Metode lain untuk meningkatkan kepuasan kerja adalah dengan menerapkan program yang memungkinkan jadwal kerja yang lebih fleksibel. Beberapa perusahaan telah melakuan eksperimen dengan minggu kerja yang padat, yaitu memadatkan beban kerja kedalam jumlah hari yang lebih sedikit perminggunya. Umumnya, minggunya kerja yeng terdiri dari 5 hari kerja dengan 8 jam kerja per hari dipadatkan menjadi 4 hari kerja dengan 10 jam kerja perhari. Tujuan utama dari jadwal ini adalah untuk memungkinkan karyawan memiliki tiga hari libur dalam seminggu. Ketika karyawan memperoleh jadwal kerja yang diinginkan , mereka menjadi lebih termotivasi untuk berkinerja dengan baik.

Bentuk lain dari jadwal kerja yang fleksibel adalah berbagi pekerjaan dimanaa dua orang atau lebih berbagi jadwal kerja tertentu. Misalnya saja, suatu perusahaan yang membutuhkan karyawan yang bekerj a40 jam seminggu untuk bagian pengantaran dapat memperkerjakan 2 orang untuk berbagi posisi tersebut. Hal ini memungkinkan karyawan, untuk bekerja paruh waktu dan menunaikan kewajiban lainnya seperti sekolah, atau keluarga.

Jadwal kerja yang fleksibel menjadi semakin populer, terutama untuk karyawan yang memiliki komitmen waktu tertentu yang melibatkan anak-anak mereka seperti datang kesekolah atau kegiatan sosial. Teknologi memungkinkan banyak karyawan untuk menghandiri kegiatan-kegiatan ini dan masih bisa menyelesaikan pekerjaannya tanpa harus berada di kantor. Misalnya, mereka dapat mengaksesdata atau informasi yang telah dimutakhirkan mengenai pekerjaanya melalui situs web bisnis khusus yang dapat diakses oleh karyawan. Mereka dapat memperoleh e-mail bisnis mereka dan dapat diteruskan alamat e-mail di rumah atau ke alamat lain yang sudah diakses sementara mereka berada jauh dari kantor. Mereka dapat membawa telpon seluler untuk komunikasi yang diperlukan yang tidak dapat ditangani melalui e-mail. Teknologi juga memberikan lebih banyak waktu dengan keluarga kepada sebagian karyawan dengan memungkinkan mereka untuk tidak datang ke kantor pada hari tertentu.

Telecomuniting, pendekatan terhadap tatanan kerja alternatif yang relatif baru. Memungkinkan karyawan menghabiskan sebagian waktu kerja mereka di luar kantor. Dengan menggunakan e-mail, internet, dan bentuk teknologi informasi.

Pemberdayaan dan Partisipasi

Pemberdayaan adalah proses melibatkan pekerja untuk menetapkan tujuan-tujuan kerja mereka sendiri, mebuat keputusan, dan memecahkan masalah di dalam batas-batas tanggung jawab dan wewenang mereka. Partisipasi adalah proses penyedian suara bagi pekerja dalam membuat keputusan tentang pekerja mereka. Jadi pemberdayaan adalah konsep yang lebih luas yang merangsang partisipasi di dalam beragam area.

Bidang-bidang Partisipasi, pada satu level, karyawan dapat berpartisipasi menangani masalah dan membuat keputusan-keputusan tentang pekerjaan mereka sendiri, membiarkan pekerja membuat keputusan tentang persoalan-persoalan administratif, seperti jadwal kerja.

Teknik-teknik dan Isu-isu dalam Perbedayaan. Dalam beberapa tahun terakhir banyak organisasi telah secara aktif mencari cara-cara untuk memperluas partisipasi melampaui area-area tradisional. Teknik-teknik sederhana seperti kotak saran dan frapat tanya jawab. Motif dasarya adalah untuk memanfaatkan secara penuh aset dan kemampuan yang tertanan didalam diri semua karyawan. Jadi, banyak manajer dewasa ini menyukai istilah pemberdayaan dibanding partisipasi karen apemberdayaan lebih komprehensif.

Perspektif-perspektif Penguatan tentang Motivasi

Tipe-tipe Penguatan dalam Organisasi

Penguatan Positif adalah metode penguatan perilaku, adalah penyediaan balas jasa atau hasil positif setelah perilaku yang diharapkan dimunculkan. Penguatan positif meliputi penambhan gaji, promosi, dan penghargaan.

Penghukum digunakan oleh sejumlah manajer untuk melemahklan perilku yang tidak diinginkan. Logikanya adalah bahwa konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenagkan karena mengurangi kemungkinan periaku yang tidak baik diulangi oleh karyawan.

Penyediaan Penguatan dalam Organisasi

Skedul Interval Tetap, meyediakan penguatan berbasis interval waktu tetap, dengan mengabaikan perilaku contoh gaji mingguan, metode ini menyediaakan insentif paling rendah untuk menggerakkannya, motivasi karyawan tahu bahwa mereka akan dibayar secara reguler terlepas dari seberapa keras kerja mereka.

Skedul Interval Variabel. Penguatan diaplikasikian berbasis interval wakytu yang berbeda. Skedulk ini cocok ntuk pujian atau balas jasa yang lain yang tergantung pada inspeksi.

Skedul Rasio Tetap. Penguatan diaplikasikan setelah sejumlah tetap perilaku tertentu muncul , dengan mengabaikan waktu. Tipe penguatan ini akan mendorong karyawan untuk bekerja lebih keras.

Skedul Rasio Variabel. Penguatan diaplikasikan setelah perilaku tertentu dengan jumlah yang berbeda-beda munculseperti pengguanaan pujian oleh suupervisor secara tidak teratur

Modifikasi Perilaku atau OB Mod. Metode pengaplikasian elemen-elemen dari dsar teori penguatan didalam organisasi yakni dimulai dengan menentukan perilaku-perilaku ynag akan ditingkatkan (seperti menghasilkan banya unit atua dikurangi (seperti datang terlambta ke kantor).

Menggunakan Sistem Balas Jasa Untuk Memotivasi Kinerja

Diluar strategi-strategi penggerak motivasi yang telah dibahas, sistem balas jasa sebuah organisasi adalah perangkat paling fundamental dalam mengelola motivasi karyawan. Sistem yang digunakan organisasi untuk mendefinisikan dan mengevaluasi kinerja karyawan dan kemudian menyediakan balas jasa bagi mereka.

Efek-efek dari balas jasa organisasi

Balas jasa organisasi bisa mempengaruhi sikap,perilaku,dan motivasi. Jadi,adalah penting bagi manajere untuk memahami dan mengerti signifikansi dari balas jasa secara jelas.

Efek dari balas jasa terhadap sikap, meskipun bukan merupakan penentu kinerja yang utama, sikap karyawan seperti kepuasan adalah hal yang penting. Sikap meningkatkan atau mengurangi absenteisme dan mempengaruhi perputaran karyawan, serta membantu membangun kultur organisasi. Kita bisa membuat empat generalisasi umum untuk sikap karyawan dan balas jasa. Pertama, kepuasan karyawan dipengaruhi oleh berapa banyak balas jasa yang diterimadan berapa banyak balas jasa yang menurut masing-masing individu patut diterima. Kedua, kepuasan karyawan dipengaruhi oleh besarnya balas jasa yang diterima oleh orang lain. Ketiga, karyawan sering kali salah menilai balas jasa yang diterima orang lain. Saat seorang karyawan percaya bahwa orang lain menghasilkan banyak uang dari yang sepantasnya, potensi ketidakipuasan meningkat. Keempat, kepuasan kerja secara keseluruhan dipengaruhi oleh seberapa puasnya karyawan terhadap balas jasa ekstrinsik maupun intrinsik yang dihasilkjan dari pekerjaan mereka.

Efek dari balas jasa terhadap perilaku, tujuan utama organisasi menyediakan balas jasa adalah untuk mempengaruhi perilaku karyawan. Balas jasa ekstrinsik mempengaruhi kepuasan karyawan, yang selanjutnya memainkan peranan penting dalam menentukan apakah seorang karyawan akan tetap bekerja atau mencari pekerjaan lain. Sistem balas jasa juga mempengaruhi pola kehadiranb dan absenteisme.

Efek dari balas jasa terhadap motivasi, sistem balas jasa jelas berhubungan dengan teori pengharapan. Pengharapan upaya kekinerja sangat dipengaruhi oleh evaluasi kinerja yang biasanya merupakan bagian dari sistem balas jasa. Pengharapan kinerja ke hasil dipengaruhi oleh sejauh mana karyawan percaya bahwa kinerja akian diikuti oleh balas jasa. Terakhir, seperti yang diperkirakan oleh teori pengharapan, tiap balas jasa aktual atau balas jasa potensial memiliki nilai yang agtak berbeda untuk individu yang berbeda.

Merancang Sistem Balas Jasa yang Efektif

Para pakar sepakat bahwa sistem balas jasa yang efektif memiliki empat karakteristik. Pertama, sistem balas jasa mesti memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar individu. Kedua, sistem balas jasa harus lebih bagus jika dibandingkan dengan sistem balas jasa organisasi-organisasi lain. Ketiga, distribusi balas jasa didalam organisasi mesti adil. Dan keempat, sistem balas jasa harus memperhitungkan individu-individu yang berbeda memiliki kebutruhan-kebutuhan yang berbedadan memilih cara yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Baik teori kepuasan ataupun teori pengharapan mendukung kesimpulan ini.

Pendekatan-pendekatan yang Populer Terhadap Penyediaan Balas Jasa.

Sistem balas jasa organisasi secara tradisional memiliki dua tipe: sistem trif tetap ytang dibayar per jam atau bulanan atau sistem insentif. Sistem tarif tetap lebih familiar bagi sebagian orang.

Dari prespektif motivasional, balas jasa seperti itu dapat dikaitkan langsung dengan kinerja melalui kenaikan merit pay. Merit system adalah sistem balas jasa yang menyediakan tingkat kenaikan gaji yang berbeda-beda pada akhir tahun, yangt didasarkan pada performa kerja secxara menyeluruh. Merit pay adalah sistem yang efektif untuk memperbaiki kinerja dsalam jangka panjang. Sistem insentif, berupaya memberi balas jasa kepada karyawan dengan proporsi yang setara dengan apa yang mereka lakukan. Empat sistem insentif yang semakin populer adalah:

§ Profit sharing, menyediakan bonus tahunan beragam kepada karyawan berbasis laba korporasi.

§ Gain sharing, adalah sistrem insentif berebasis grup dimana semua anggota grup mendapatkan bonus jika level kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya terlampaui.

§ Lump sum bonuses plan, menyediakan bonus kas satu kali terhadap karyawan, bukan kenaikan gaji pokok.

§ Pay for know ledge, berfokus pada melakukan pembayaran untuk individu, bukan untuk pekerjaan.

Motivasi Dalam Perspektif Islam

Agama Islam yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai tuntunan dan pegangan bagi kaum muslimin mempunyai fungsi tidak hanya mengatur dalam segi ibadah saja melainkan juga mengatur umat dalam memberikan tuntutan dalam masalah yang berkenaan dengan kerja.

Rasulullah SAW bersabda: “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” Dalam ungkapan lain dikatakan juga, “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, Memikul kayu lebih mulia dari pada mengemis, Mukmin yang kuat lebih baik dari pada mukslim yang lemah. Allah menyukai mukmin yang kuat bekerja.” Nyatanya kita kebanyakan bersikap dan bertingkah laku justru berlawanan dengan ungkapan-ungkapan tadi.

Begitu juga dalam hal sebuah organisasi atau perusahaan dalam menjaga kinerja para karyawan agar tetap semangat dan selalu produktif. Ada hak-hal yang diatur dalam agama tentang perlakuan terhadap nyawa dari organisasi ini.

Pengupahan yang Adil dan Layak

$yg•ƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qèù÷rr& ÏŠqà)ãèø9$$Î/ 4 ôM¯=Ïmé& Nä3s9 èpyJŠÍku5 ÉO»yè÷RF{$# žwÎ) $tB 4‘n=÷FムöNä3ø‹n=tæ uŽöxî ’Ìj?ÏtèC ωøŠ¢Á9$# öNçFRr&ur îPããm 3 ¨bÎ) ©!$# ãNä3øts† $tB ߉ƒÌãƒ ÇÊÈ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Maidah : 1)

Kemudian dalam sabda Rasulullah SAW :

“Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan”. (HR. Baihaqi).

Dari ayat Al-Qur’an dan hadits riwayat Baihaqi di atas, dapat diketahui bahwa prinsip utama keadilan terletak pada kejelasan aqad (transaksi)  dan komitmen melakukannya.  Aqad dalam perburuhan adalah aqad yang terjadi antara pekerja dengan pengusaha.  Artinya, sebelum pekerja dipekerjakan, harus jelas dahulu bagaimana upah yang akan diterima oleh pekerja. Upah tersebut meliputi besarnya upah dan tata cara pembayaran upah.  Khusus untuk cara pembayaran upah, Rasulullah bersabda :

“Dari Abdillah bin Umar, Rasulullah Saw. Bersabda: “Berikanlah upah orang upahan sebelum kering keringatnya“. (HR. Ibnu Majah dan Imam Thabrani)

Dalam menjelaskan hadits itu, Syeikh Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Pesan Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, menjelaskan sebagai berikut :

Sesungguhnya seorang pekerja hanya berhak atas upahnya jika ia telah menunaikan pekerjaannya dengan semestinya dan sesuai dengan kesepakatan, karena umat Islam terikat dengan syarat-syarat antar mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.  Namun, jika ia membolos bekerja tanpa alasan yang benar atau sengaja menunaikannya dengan tidak semestinya, maka sepatutnya hal itu diperhitungkan atasnya (dipotong upahnya) karena setiap hak dibarengi dengan kewajiban.  Selama ia mendapatkan  upah  secara penuh, maka kewajibannya juga harus dipenuhi.  Sepatutnya hal ini dijelaskan secara detail dalam “peraturan kerja” yang menjelaskan masing-masing hak dan kewajiban kedua belah pihak.

Dari penjelasan Syeikh Qardhawi diatas, dapat dilihat bahwa upah atau gaji merupakan hak karyawan selama karyawan tersebut bekerja dengan baik. Jika pekerja tersebut tidak benar dalam bekerja (yang dicontohkan oleh Syeikh Qardhawi dengan bolos tanpa alasan yang jelas), maka gajinya dapat dipotong atau disesuaikan. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa selain hak karyawan memperoleh upah  atas apa yang diusahakannya, juga hak perusahaan untuk memperoleh hasil kerja dari karyawan dengan baik. Bahkan Syeikh Qardhawi mengatakan bahwa bekerja  yang baik merupakan  kewajiban karyawan atas hak upah yang diperolehnya, demikian juga, memberi upah merupakan kewajiban perusahaan atas hak hasil kerja karyawan yang diperolehnya.  Dalam keadaan masa kini, maka aturan-aturan bekerja yang baik itu, dituangkan dalam buku Pedoman Kepegawaian yang ada di masing-masing perusahaan. Hadits lain yang menjelaskan tentang pembayaran upah ini adalah :

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad Saw. bahwa beliau bersabda: “Allah telah berfirman: “Ada tiga jenis manusia dimana Aku adalah musuh mereka nanti di hari kiamat. Pertama, adalah orang yang membuat komitmen akan memberi atas nama-Ku (bersumpah dengan nama-Ku), kemudian ia tidak memenuhinya. Kedua, orang yang menjual seorang manusia bebas (bukan budak), lalu memakan uangnya. Ketiga, adalah orang yang menyewa seorang upahan dan mempekerjakan dengan penuh, tetapi tidak membayar upahnya” (HR. Bukhari).

Hadits-hadits diatas menegaskan tentang waktu pembayaran upah, agar sangat diperhatikan.  Keterlambatan pembayaran upah, dikategorikan sebagai perbuatan zalim dan orang yang tidak membayar upah para pekerjanya termasuk orang yang dimusuhi oleh Nabi saw pada hari kiamat. Dalam hal ini, Islam sangat menghargai waktu dan sangat menghargai tenaga seorang karyawan (buruh).

Kemudian dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Aby Dzar yang menjelaskan kelayakan dari pemberian imbalan dari hasil kerja yaitu:

“Mereka (para budak dan pelayanmu) adalah saudaramu, Allah menempatkan mereka di bawah asuhanmu; sehingga barang siapa mempunyai saudara di bawah asuhannya maka harus diberinya makan seperti apa yang dimakannya (sendiri) dan memberi pakaian seperti apa yang dipakainya (sendiri); dan tidak membebankan pada mereka dengan tugas yang sangat berat, dan jika kamu membebankannya dengan tugas seperti itu, maka hendaklah membantu mereka (mengerjakannya).” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Mustawrid bin Syadad Rasulullah Saw. bersabda:

“Aku mendengar Nabi Muhammad saw bersabda :  „Siapa yang menjadi pekerja bagi kita, hendaklah ia mencarikan istri untuknya; ; seorang pembantu bila tidak memilikinya, hendaklah ia mencarikannya untuk pembantunya. .  Bila ia tidak mempunyai tempat tinggal, hendaklah ia mencarikan tempat tinggal. Abu   Bakar   mengatakan:

Diberitakan kepadaku bahwa Nabi Muhammad bersabda  : Siapa yang mengambil sikap selain itu, maka ia adalah seorang yang keterlaluan atau pencuri” (HR Abu  Daud).

Dari dua hadits diatas, dapat diketahui bahwa kelayakan upah yang diterima oleh pekerja dilihat dari 3 aspek yaitu :

1. Pangan (makanan),

2. Sandang (Pakaian) dan

3. Papan (tempat tinggal). 

Bahkan bagi pegawai atau karyawan yang masih belum menikah, menjadi tugas majikan yang mempekerjakannya untuk mencarikan jodohnya.  Artinya, hubungan antara majikan dengan pekerja bukan hanya sebatas hubungan pekerjaan formal, tetapi karyawan sudah dianggap merupakan keluarga majikan.  Konsep menganggap karyawan sebagai keluarga majikan merupakan konsep Islam yang lebih 14 abad yang lalu telah dicetuskan.

Konsep ini dipakai oleh pengusaha-pengusaha Arab pada masa lalu, dimana mereka (pengusaha muslim) seringkali memperhatikan kehidupan karyawannya  di luar lingkungan kerjanya. Hal inilah yang sangat jarang dilakukan saat ini. Wilson menulis dalam bukunya yang berjudul Islamic Business Theory and Practice yang artinya kira-kira “walaupun perusahaan itu bukanlah perusahaan keluarga, para majikan Muslimin acapkali memperhatikan kehidupan karyawan di luar lingkungan kerjanya, hal ini sulit untuk dipahami para pengusaha Barat“.Konsep inilah yang sangat berbeda dengan konsep upah menurut Barat. Konsep upah menurut Islam, tidak dapat dipisahkan dari     konsep moral.  Mungkin sah-sah saja jika gaji seorang   pegawai di Barat  sangat   kecil karena pekerjaannya sangat remeh (misalnya cleaning service).  Tetapi dalam konsep Islam, meskipun cleaning service, tetap faktor LAYAK menjadi pertimbangan utama dalam menentukan berapa upah yang akan diberikan.

Memperkuat Ukhuwah dan Hubungan Sosial

Diantaranya menjaga hubungan erat antar anggota. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW. :

“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, ia tidak akan menzaliminya dan tidak akan membiarkannya binasa...” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Menjaga hubungan yang baik antar anggota akan menciptakan suasana keakraban dan kehangatan yang pada akhirnya mereka akan merasa nyaman bekerja di perusahaan. Dan pada akhirnya, mereka bekerja dengan bauk, penuh semangat, dan punya loyalitas yang tinngi

Dalam Al-qur’an dijelaskan pula bahwa motivasi itu penting. Yaitu:

ô`tBur ß`|¡ômr& Zwöqs% `£JÏiB !%tæyŠ ’n<Î) «!$# Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ tA$s%ur ÓÍ_¯RÎ) z`ÏB tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$# ÇÌÌÈ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"

(Fushilat :33)

Dan dalam hadist juga dijelaskan: “Sampaikanlah walau satu ayat”. Ini menunjukkan pentingnya menyampaikan hal-hal yang bail. Karena kita tahu, bahwa perkataan yang baik akan membawa dampak psikis yang baik.

$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#q=ÏtéB uŽÈµ¯»yèx© «!$# Ÿwur tök¤¶9$# tP#tptø:$# Ÿwur y“ô‰olù;$# Ÿwur y‰Í´¯»n=s)ø9$# Iwur tûüÏiB!#uä |MøŠt7ø9$# tP#tptø:$# tbqäótGö6tƒ WxôÒsù `ÏiB öNÍkÍh5§‘ $ZRºuqôÊÍ‘ur 4 #sŒÎ)ur ÷Läêù=n=ym (#rߊ$sÜô¹$$sù 4 Ÿwur öNä3¨ZtB̍øgs† ãb$t«oYx© BQöqs% br& öNà2r‘‰|¹ Ç`tã ωÉfó¡yJø9$# ÏQ#tptø:$# br& (#r߉tG÷ès? ¢ (#qçRur$yès?ur ’n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3“uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? ’n?tã ÉOøOM}$# Èbºurô‰ãèø9$#ur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇËÈ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.(Al-Maidah :2)

Meningkatkan Etos Kerja

Ethos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Ethos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya serta sistem nilai yang diyakininya. Dari kata etos ini dikenal pula kata etika yang hamper mendekati pada pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk moral sehingga dalam etos tersebut terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuati secara optimal lebih baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin.

ö@è% ÉQöqs)»tƒ (#qè=yJôã$# 4’n?tã öNà6ÏGtR%s3tB ’ÎoTÎ) ×@ÏB$tã ( t$öq|¡sù šcqßJn=÷ès? `tB Ücqä3s? ¼çms9 èpt7É)»tã Í‘#¤$!$# 3 ¼çm¯RÎ) Ÿw ßxÎ=øÿムšcqßJÎ=»©à9$# ÇÊÌÎÈ

Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan. (Al-An’am 135)

Kerja dalam pengertian luas adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non-materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniawian atau keakhiratan. Kamus besar bahasa Indonesia susunan WJS Poerdarminta mengemukakan bahwa kerja adalah perbuatan melakukan sesuatu. Pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah. KH. Toto Tasmara mendefinisikan makan dan bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya sungguh-sungguh dengan mengerahkan seluruh asset dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik atau dengan kata lain dapat juga dikatakan bahwa dengan bekerja manusia memanusiakan dirinya.

Lebih lanjut dikatakan bekerja adalah aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani) dan di dalam mencapai tujuannya tersebut dia berupaya dengan penuh kesungguhan untuk mewujudkan prestasi yang optimal sebagai bukti pengabdian dirinya kepada Allah SWT.

Di dalam kaitan ini, al-Qur’an banyak membicarakan tentang aqidah dan keimanan yang diikuti oleh ayat-ayat tentang kerja, pada bagian lain ayat tentang kerja tersebut dikaitkan dengan masalah kemaslahatan, terkadang dikaitkan juga dengan hukuman dan pahala di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an juga mendeskripsikan kerja sebagai suatu etika kerja positif dan negatif. Di dalam al-Qur’an banyak kita temui ayat tentang kerja seluruhnya berjumlah 602 kata, bentuknya :

1) Kita temukan 22 kata ‘amilu (bekerja) di antaranya di dalam surat al-Baqarah: 62, an-Nahl: 97, dan al-Mukmin: 40.

2) Kata ‘amal (perbuatan) kita temui sebanyak 17 kali, di antaranya surat Hud: 46, dan al-Fathir: 10.

3) Kata wa’amiluu (mereka telah mengerjakan) kita temui sebanyak 73 kali, diantaranya surat al-Ahqaf: 19 dan an-Nur: 55.

4) Kata Ta’malun dan Ya’malun seperti dalam surat al-Ahqaf: 90, Hud: 92.

5) Kita temukan sebanyak 330 kali kata a’maaluhum, a’maalun, a’maluka, ‘amaluhu, ‘amalikum, ‘amalahum, ‘aamul dan amullah. Diantaranya dalam surat Hud: 15, al-Kahfi: 102, Yunus: 41, Zumar: 65, Fathir: 8, dan at-Tur: 21.

6) Terdapat 27 kata ya’mal, ‘amiluun, ‘amilahu, ta’mal, a’malu seperti dalam surat al-Zalzalah: 7, Yasin: 35, dan al-Ahzab: 31.

7) Disamping itu, banyak sekali ayat-ayat yang mengandung anjuran dengan istilah seperti shana’a, yasna’un, siru fil ardhi ibtaghu fadhillah, istabiqul khoirot, misalnya ayat-ayat tentang perintah berulang-ulang dan sebagainya.

Di samping itu, al-Qur’an juga menyebutkan bahwa pekerjaan merupakan bagian dari iman, pembukti bahwa adanya iman seseorang serta menjadi ukuran pahala hukuman, Allah SWT berfirman:

ö@è% !$yJ¯RÎ) O$tRr& ׎|³o0 ö/ä3è=÷WÏiB #Óyrqム¥’n<Î) !$yJ¯Rr& öNä3ßg»s9Î) ×m»s9Î) Ó‰Ïnºur ( `yJsù tb%x. (#qã_ötƒ uä!$s)Ï9 ¾ÏmÎn/u‘ ö@yJ÷èu‹ù=sù WxuKtã $[sÎ=»|¹ Ÿwur õ8ÎŽô³ç„ ÍoyŠ$t7ÏèÎ/ ÿ¾ÏmÎn/u‘ #J‰tnr& ÇÊÊÉÈ

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Al-Kahfi : 110)


STUDI KASUS 1

Pengambilan Keputusan untuk Meningkatkan Kepuasaan Kerja.

Ingat kembali bahwa Paula Powell, wakil presiden sumber daya manusia di Players Company, sekarang mendorong lebih banyak interaksi dengan karyawan sebagai cara untuk memotivasi mereka. Tetapi, ia juga ingin menjalankan strategi yang kan meningkatkan kepuasaan kerja mereka. Ia yakin bahwa jika para pekerja sangat puas dengan pekerjaannya, mereka akan lebih termotivasi. Ia mengusulkan perubahan-perubahan berikut, yang disetujui oleh CEO dan dewan direksi:

a. Karyawan yang telah bekerja dari jam 09.00 sampai jam 17.00 sekarang diperbolehkan untuk mulai dari jam 07.00 asalkan mereka bekerja selama 8 jam sehari. Mereka juga memiliki opsi untuk bekerja 10 jam selama 4 hari dan kemudian libur dihari kerja kelima

b. Karyawan didorong untuk menawarkan saran kepada Paula mengenai bagaimana Players Company dapat memperbaiki kondisi kerja. Paula menjanjikan bahwa ia akan mempertimbangkan dengan serius untuk menerapkan saran apa pun jika itu akan meningkatkan kepuasaan kerja dan produktivitas

1. Adakah kerugian bagi Players Company karena memperbolehkan jadwal kerja yang fleksibel?

2. Adakah kerugian bagi Players Company karena meminta saran karyawan mengenai perbaikin kondisi kerja?

Jawab: 1. Jadwal kerja yang fleksibel tidak selalu sesuai untuk pekerjaan yang mengharuskan karyawan berada di tempat kerja tertentu. 2. Beberapa saran , seperti dua hari kerja dalam seminggu adalah tidak sesuai karena saran semacam itu dapat menurunkan produktivitas. Tertapi, Paula Powell dapat menyaring saran semacam itu.


STUDI KASUS 2

Palyers Company berencana untuk menerapkan perubahan dalam usaha untuk memotivasi karyawan baru secara lebih efektif. Salah satu perubahan yang dijalankan oleh Paula Powell (wakil presiden sumber daya manusia) adalah bahwa karywan baru harus bertemu dengan atasannya sekali seminggu selama tahun pertama untuk menerima tinjauan singakat mengenai kemajuan mereka dan membahas kekhawatiran yang mungkin mereka hadapi. Joel Kemp, seorang manajer yang mengawasi pekerjaan dari banyak manajer baru, mengatakan bahwa ia tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan karyawan baru tiap minggu.

Jika Joel diperbolehkan untuk mengabaikan aturan tersebut, manajer lain akan mempertanyakan aturan itu. Paula menjelaskan pentingnya memotivasi karyawan baru. Ia mengatakan kepada Joel bahwa untuk sementara waktu sebaiknya joel mematuhi aturan tersebut, Joel akan menghadapi tindakan disipliner jiak menolak untuk melakukannya. Ia mengambil langkah ini untuk memastikan bahwa karyawan baru memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan atasan mereka sehingga termotivasi dan dapat meningkatkan produktivitasnya.

1. Apakah pada tempatnya jika Paula Powell mengancam akan mengambil tindakan disipliner sebagai cara untuk memotivasi Joel Kemp?

2. Jelaskan masalah yang mungkin timbul jika Paula Powell memperbolehkan Joel untuk mengabaikan aturan baru sementara manajer-manajer yang lain diharuskan untuk mematuhinya?

JAWABAN: 1. Ya, terutama jika tidak ada bentuk memotivasi lain yang lebih efektif. 2. Manajer lain mungkin berhenti jika mereka harus mengakui aturan yang diabaikan oleh Joel.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahannya dalam Bahasa Indonesia, Departemen Agama RI

Handoko Hani T., 2003. Manajemen ,Edisi 2. Yogyakarta: BPFE.

Pierce Jon L, John W. Newstrom. 2005. The Manager’s Bookshelf, Edisi Kelima. Jakarta: PT Intan Sejati Klaten.

Madura Jeff. 2007. Introduction To Business, Edisi Keempat. Jakarta: Salemba Empat.

Jatmiko, RD. 2004. Pengantar Bisnis. Malang: Umm Press

Mannulang, M dkk. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE

Flippo Edwin B. 1984. Manajemen Personalia, Edisi Keenam. Jakarta : Erlangga.

Freeman, R. Edward, dkk. 1996. Manajemen: Edisi Bahasa Indonesia, Terjemahan oleh Sindro, Alexander, Drs., PT Indeks: Jakarta.

Griffin W Ricky. 2004. Manajemen Jilid 2 Edisi 7: Edisi Bahasa Indonesia, Terjemahan Gina Gania. PT Gelora Aksara Pratama: Jakarta

http://ilmumanajemen.wordpress.com/2009/06/20/pengertian-upah-dalam-konsep-islam/ (Diakses 1 April 2012)

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=etos+kerja+dalam+islam&source=web&cd=2&ved=0CDYQFjAB&url=http%3A%2F%2Fweb.ipb.ac.id%2F~kajianislam%2Fpdf%2FEtos.pdf&ei=bhh4T77ELYyQiQePx4TEBA&usg=AFQjCNF9qKeyfBwjS0eqzxkjAlgLHczfKA&cad=rja (Diakses 1 April 2012)

http://aljawad.tripod.com/arsipbuletin/etoskerja.htm (diakses 1 April 2012)

»»  Baca Lebih Lanjut...

FUNGSI PENGORGANISASIAN SUMBER DAYA MANUSIA

clip_image002

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam pelaksanaan suatu organisasi lebih-lebih organisasi perusahaan sering dijumpai kendala-kendala yang dapat mempengaruhi kelancaran aktivitas kerja. Diantaranya dapat berupa sistem, prosedur atau cara kerja yang kurang efektif dan efisien dalam melaksanakan tugas suatu organisasi perusahaan atau organisasi apapun itu. Hal ini dapat dialami oleh seluruh kegiatan kerja lainnya.

Pada setiap organisasi perusahaan khususnya akan ditemukan ”unsur inti” yaitu, manusia beserta hubungan-hubungan sosial mereka dan ”unsur kerja” yang meliputi sumber daya insani (manusia), sumber daya nir-insani, dan sumber daya konseptual. Dalam kenyataannya unsur inti akan dipengaruhi oleh unsur kerja pada saat kapelaksanaan atau penerapan kerja sehingga diperlukan cara-cara bekerja yang efektif dan efisien.

Dari uraian tersebut di atas, dapat kita ketahui bahwa sumber daya manusia atau sumber daya insani merupakan faktor penting dalam terwujudnya dan terbentuknya suatu organisasi yang baik dan sehat baik organisasi perusahaan besar ataupun kecil, sehingga dengan kemanpuan yang dimiliki oleh sumber daya manusia tersebut sangat berpengaruh besar terhadap organisasi perusahaan atau organisasi yang lain

. Sebagaimana defenisi yang dikembangkan bahwa fungsi pengorganisasian sumber daya manusia bertujuan untuk menjalankan rangkaian kegiatan tertentu dalam rangka mencapai tujuan suatu organisasi secara efektif dan efisien.

Sehingga untuk mewujudkan tujuan tersebut keberhasilan suatu organisasi lebih-lebih organisasi perusahaan baik besar maupun kecil bukan didasarkan atas sumber daya alam yang tersedia saja, akan tetapi banyak ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang handal yang berperan merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan organisasi yang bersangkutan.

BAB II

PEMBAHASAN

FUNGSI PENGORGANISASIAN SUMBER DAYA MANUSIA

1.2 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resources Management)

Manajemen sumber daya manusia atau sering disebut manajemen kepegawaian atau manajemen personalia merupakan anak cabang dari pada manajemen sehingga manajemen sumber daya manusia biasa di definisikan sebagai proses serta upaya untuk merekrut, mengembangkan, serta mengevaluasi keseluruhan sumber daya manusia yang diperlukan perusahaan dalam mencapai tujuannya.Sedang menurut Griffin dalam bukunya, yang dimadsut manajemen sumber daya manusia adalah rangkaian aktivitas organisasi yang diarahkan untuk menarik, mengembangkan, dan mempertahankan tenaga kerja yang efektif.

Manajemen sumber daya manusia ini merupakan prosees yang berkelanjutan , sejalan dengan proses oprasionalisasi perusahaan, maka perhatian terhadap sumber daya manusia ini memiliki tempat yang khusus dalam organisasi perusahaan biasanya dalam organisasi perusahaan besar biasa disebut bagian personalia yang tujuan utamanya bertanggung jawab dan berfungsi mengelola urusan sumber daya manusia

BPA Universitas Gajah Mada, membatasi manajemen personalia dengan ringkas sebagai berikut segenap aktifitas yang berhubungan dengan masalah penggunaan tenaga kerja manusia dalam suatu usaha kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.Selain itu fungsi bagian personalia adalah merencanakan konsep perekrutan, pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang diperlukan oleh perusahaan.kebijakan-kebijakan yang menyangkut peraturan tenaga kerja, kualifikasi perekrutan pengembangan karier dari ,mulai pengiriman tenaga kerja untuk mengikuti pelatiahan-pelatihan hingga melanjutkan study , program intensif maupun bonus bagi tenaga kerja Usaha unt Oleh karena itu manajemen sumber daya manusia ini sangat memegang peranan penting dalam organisasi perusahaan dan sebagai kunci utama dalam memajukan perkembangan perusahaan yang biasa mewujudkan tenaga kerja yang produktif , efektif, dan efisien.yaitu tenaga kerja yang mampu melakukan pekerjaaan yang benar(doing the right things)sehingga setiap pekerja tahu dan mampu memilih, menganalisa serta melakukan apa yang seharusnya dilakuakana dalam kaitanya denagan fungsinya didalam perusahaan dan kaitanyua dalam pencapaian tujuan perusahaan, selain itu juga harus efisien yaitu sebagai tenaga kerja yang mampu untuk melakukan sesuatu dengan benar(doing things right )yaitu tenaga kerja mampu mamahami dan mampu mengetahui apa yang semestinya dilakuakan, namun tenaga kerja yang mampu melakukan pekerjaan dengan benar.

Sehingga dalam konsep ini, kunci pokok manajer sumber daya manusia adalah how to find or get the best person, and how to maintain it.bagaimana kita mendapatkan tenaga kerja atau orang yang mampu bekerjasama denagan kita terus mengembangkan perusahaan tersebut.

Ada tiga komponen utama yang sangat penting dari konteks tersebut adalah kepentingan strategis manajemen sumbr daya manusia dan lingkungan hokum dan social dari manajemen sumber daya manusia.

1.2.1 Kepentingan Strategis Manajemen Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia penting bagi berfungsinya organisasi yang efektif.Arti penting manajemen sumber daya manusia yaitu setelah meningkatnya kompleksitas hukum, pengakuan bahwa sumber daya manusia merupakan suatu alat yang berharga untuk meningkatkan produktivitas, dan saat ini terdapat kesadaran terhadap tingginya biaya yang berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia yang buruk.

Manajemen sumber daya manusia mempunyai peranan penting atau dampak yang substansial dalam suatu organisasi baik organisasi kecil maupun besar terutama dalam perusahaan.Perencanaan sumber daya manusia yang buruk dapat menghasilkan ledakan penerimaan yang diikuti dengan pemberhentian, menelan biaya dalam hal pembayaran kompensasi pengangguaran, beban pelatihan, moral.sistem kompensasi yang yang tidak teratur tidak akan menarik, mempertahankan, dan memotivasi karyawan yang baik, dan prakik penerimaan tenaga kerja yang using dapat menyebabkan perusahaan mengalami tuntutan hukum atas diskriminasi yang mahal dan memalukan.Oleh karena itu banyak perusahaan mengembangkan rencana sumber daya manusia strategisdan mengintegrasikan rencana tersebut dengan aktivitas perencanaan aktivitas lainya.

1.2.2 Lingkungan Hukum dari Manajemen Sumber Daya Manusia

Dalam kesempatan diatas sudah menjelaskan arti pentingnya suatu tenaga kerja,terutama dalam kesempatan kerjayang sama,kompensasi dan tunjangan, hubungan tenaga kerja, serta keamanan.

1. Kesempatan Kerja yang Sama

Dalam pasal VIIdalam Civil rights Act Tahun 1964 melarang diskriminasi atas gender, ras, warna kulit, agama, atau asal bangsa disemua bidang hubungan ketenagakerjaan.Tujuan dari pasal tersebut adalah keputusan ketenaga kerjaan dibuat dengan dasar kualifikasi seorang individu dari pada bias pribadi.

Persyaratan ketenagakerjaan seperi skor ujian atau kualifikasi lain secara hukum dianggap mempunyai nilai atau dampak yang baik terhadap kaum minoritas dan wanita ketikatujuan ketindividu tersebut memenuhi atau lolos dari persyaratan pada suatu tingkatyang kurang dari 80%dari tingkat mayoritas anggota kelompok.

Age Diskrimination In Employment Act, dikeluarkan pada tahun 1967 dan diubah pada tahun 1978 dan di ubah lagi pada tahun 1986, merupakan suatu usaha untuk mencegah organisasi dan mendiskriminasi pekerja yang lebih tua.selain itu pemerintah eksekutif meminta agar pemberi kerja yang memegang kontrak pemerintah terlibat dalam tindakan afirmatif (Affirmative action).yang secara sengaja mencari dan emperkerjakan karyawan dari kelompok yang kurang terwakili di dalam organisasi.sehingga organisasi ini harus memiliki suatu rencana tindakan afirmatif tertulis yang menjelaskan tujuan ketenagakerjaan untuk kelompok yang kurang di manfaatkan tenaganya dan bagaimana tujuan-tujuan tersebut bisa terpenuhi.Pemberi kerja juga di minta untuk bertindak afirmatif dalam meperkerjakan veteran era Vietnam yang penyanang cacat yang memenuhi syarat.

Tahun 1990, Americans with Disabilities Act, juga melarang pendiskriminasian atas dasar kecacatan dan meminta pember pekerja untuk menyediakan akomodasi yang mencukupi bagi karyawan yang cacat.

2. Kompensasi dan Tunjangan

Fair Labor Standart Act, dikeluarkan pada tahun 1938, dan diubah secara teratu pada saat itu menetapkan suatu upah minimum dan mengharuskan eksekutif, dan karyawan administrative dengan gaji di kecualikan dari provisi upah per jam minimum dan lembur.selain itu juga tidak akan adanya pendiskriminasian sehingga semua dianggap sama rata, yang embedakan hanyalah tingkat senioritas atau kinerja.

Provisi dari tunjangan juga diatur dengan beberapa cara oleh hukum Negara bagian dan hukum federal.Beberapa tunjangan tertentu adalah merupakan keharusan, misalnya asuransi jiwa bagi karyawan yang terluka ketika melakukan pekerjaan.selain itu juga para pemberi kerja yang menyediakan dana pensiunan bagi karyawan mereka juga diatur oleh Employee Retirement Income Security Act of 1974(ERISlA), tujuan dari hokum ini adalah untuk membantu memastikan keamanan keuangan dana pension denaga mengatur bagaimana dana tersebut dapat diinvestasikan.Family and Madical Leave Actof 1993 meminta pemberi kerja menyediakadua belas mngggu cuti tanpa di bayar untuk keluarga dan keadaan darurat medis.

3. Hubungan Tenaga Kerja

National Labor Relations Act, 1935.menetapkan suatu prosedur bagi karyawan bagi perusahaan untuk mengambil pilihan apakah mereka akan memiliki serikat kerja, jika ia maka menejemen diminta untuk melakukan tawar menawar kolekif dengan serikat tersebut.

4. Kesehatan dan Keamanan

Occupational Safety and Health Actof 1970(OSHA).secara langsung mengharuskan provisi kerja ayang aman yng mana dalam hokum ini mensyaratkan pemberi kerja menyediakan tempat kerja yang bebas dari bahaya dan mungkin menybabkan kecelakan atau kematian yang serius dan mematuhi standar keamanan dan kesehatan yang di tentukan oleh departemen tenaga kerja.Standar keselamatan di madsudkan untuk mencegah kecelakaan, sementara standar kesehatan pekerja untuk menaruh perhatian dengan mencegah penyakit karena pekerjaan.

1.3 Perencanaan Sumber Daya Manusia.

1.3.1 Analisis Pekerjaan

Merupakan suatu analisis sistematis atas pekerjaan dalam suatu organisasi.Yang mana didalamnya terdiri dari dua bagian yaitu yang pertama Deskripsi pekerjaan (job deskription) yaitu menyebutkan tugas dari suatu pekerjaan., kondisi pekerjaan., alat dan bahan dan peralatan yang di gunakan untuk melaksanakannya.yang kedua yaitu Sepesifikasi Pekerjaan (job specification) yaitu ketrampilan, kemampuan, dan hal penting lain yang di perlukan untuk melakukan pekerjaan.

1.3.2 Memprediksi Permintaan dan Penawaran Sumber Daya Manusia

Manajer mulai dengan mengukur tren penggunaan sumber daya manusia dimasa lalu, rencana organisasi dimasa yang akan dating, dan tren ekonomi secara umum.Peramalan penjualan yang baik sering kali merupakan pondasi untuk organisasi yang lebih kecil.Rasio masa lampau kemudian dapat digunakan untuk memprediksi kebutuhan akan karyawan.

Memprediksi penawaran tenaga kerja sebenarnya merupakan dua tugas:memprediksi penawaran internal (jumlah dan jenis karyawan yang akan berada di perusahaan pada masa mendatang) dan meramalkan penawaran eksternal (jumlah dan jenis orang yang akan tersedia untuk di pekerjakan di pasar tenaga kerja secara masal).

1.3.3 Menyeimbangkan penawaran dan permintaan sumber daya manusia

Setelah membandingkan permintaan masa mendatang dan penawaran internal manajer dapat membuat rencana untuk mengelola kekurangan atau kelebihan yang diprediksi. Jika kekurangan, maka karyawan baru dapat dipekerjakan, karyawan yang dapat dilatih ulang dan ditransfer kebidang yang kekurangan staf, individu yang mendekati masa pension dapat diyakinkan untuk tetap tinggal atau system penghematan tenaga kerja atau peningkatran produktifitas dapat dipasang.

Jika perlu organisasi perlu mempekerjakan orang, prediksi penawaran tenaga kerja eksternal, membantu manajer untuk merencanakan bagaimana cara yang tepat untuk mencari calon tenaga kerja.

1.3.4 Memperkerjakan sumber daya manusia

Merekrut adalah proses menarik orang yang memenuhi syarat untuk melamar pada pekerjaan yang dibuka. Perekrutan tenaga kerja secara internal berarti mempertimbangkan karyawan yang ada sebagai kandidat untuk pembukaan tawaran pekerjaan.

1.3.5 Memilih Sumber Daya Manusia

Ketika proses pencarian calon tenaga kerja telah menarik sekumpulan pelamar, langkah berikutnya adalah validasi. Yaitu mengumpulkan informasi mengenai factor-faktor yang memprediksi kinerja dimasa mendatang.

Dua pendekatang untuk validasi adalah validasi prediktif dan validasi isi. Validasi prediktif mengenai pengumpulan nilai-nilai dari karyawan atau pelamar dengan suatu alat yang akan divalidasi dan mengkorelasikan nilai-nilai mereka dengan kinerja pekerjaan actual. Validasi isi menggunakan logika dan data analisis pekerja untuk menetapkan bahwa alat pemilihan, mengukur keahlian yang tepat yang diperlukan untuk keberhasilan kinerja pekerja. Bagian yang terpenting adalah analisis pekerjaan yang hati-hati yang menunjukkkan dengan tepat tugas apa yang akan dilaksanakan. Kemudian dikembangkan sebuah tes untuk mengukur kemampuan pelamar dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut. Berikut ini flow dalam memilih SDM:

1. Fomulir lamaran

2. Tes

3. Wawancara

4. Assessment center

1.4 Mengembangkan Sumber Daya Manusia

1.4.1 Pelatihan dan pengembangan

Dalam manajemen SD, pelatihan(training)biasanya adalah mengajarkan karyawan teknikal ataub karyawan oprasional bagaimana melakukan pekerjaannya.Pengembangan(development)mengajarkan keahlian yang di perlukan baik untuk pekerja saat ini maupun dimasa mendatangkepada para manajer professional

1.4.2 Penilaian Kerja

Merupakan suatu penilaian formal mengenai seberapa baik karyawan melakukan pekerjaan mereka. Salah satu alasan adalah bahwa penilaian kerja diperlukan untuk memvalidasi alat pemilihan atau mengukur dampak dari program pelatihan.


1.4.3 Timbal Balik Kerja

Langkah terakhir dalam sebagian besar sistem penilaian kinerja adalah memberikan timbal balik kepada kinerja mereka. Manajer perlu mengingat bahwa walaupun mereka mungkin mempekerjakan pelamar yang luar biasa sebagai karyawan, ia masih perlu mengembangkan ketrampilan mereka melalui pelatihan dan pengembangan. Manajer juga harus mamahami tujuan dan teknik dari penilaian kinerja. Yang juga sangat penting adalah menyediakan timbal balik kinerja bagi karyawan setelah penilaian dilaksanakan.

1.4 Fungsi Pengorganisan

ditetapkan serta menggapai tujuan bersama.

Pengorganisasian merupakan sebuah aktivitas penataan sumber daya manusia yang tepat dan bermanfaat bagi manajemen, dan menghasilkan penataan dari karyawan. Hal pokok yang perlu diperhatikan dari pengorganisasian :

1. Menentukan arah dan sasaran satuan organisasi,

2. Menganalisa beban kerja masing – masing satuan organisasi

3. Membuat job description ( uraian pekerjaan )

4. Menentukan seseorang atau karyawan yang berdasarkan atas pertimbangan arah dan sasaran, beban kerja, dan urian kerja dari masing – masing satuan organisasi.

Prinsip dasar koordinasi / organizing :

1. Seseorang yang duduk di satuan organisasi harus memiliki kompentensi , yaitu kemampuan dan kemauan.

2. Memiliki karakter, yaitu sikap dan kepribadian yang sesuai dengan hal – hal pokok dalam

berorganisasi.

3. memiliki talenta, yaitu bakat dan potensi yang sesuai dengan hal – hal pokok

dalamberorganisasi.

4. Memiliki komitmen, yaitu keikatan dan loyalitas dalam berorganisasi.

Agar karyawan dapat menjalankan prinsip dasar dengan baik dan memiliki performa yang layak, manajemen berkewajiban mengembangkan para pegawai. Untuk itu perlu dilakukan hal – hal sebagai berikut :

1. Untuk membentuk kompetensi, manajemen dapat meningkatkan kemampuan lewat on the job training dan atau off the job training.

- On the job training adalah pelatihan di tempat kerja, bisa berupa magang atau belajar sambil bekerja baik dengan sesama karyawan yang lebih senior maupun pada atasan mereka.

- Off the job training adalah melatih kompetensi di luar tempat kerja. Pelatihan ini bersifat teoritis seperti yang dilakukan oleh lembaga – lembaga pendidikan formal seperti diploma, strata, maupun kursus yang dilakukan oleh organisasi yang bersangkutan maupun lembaga lain.

Kedua komponen inilah ( kemampuan dan kemauan ) yang dapat melihat kematangan seseorang dalam bekerja, yaitu seorang karyawan dapat dikatakan matang dalam bekerja jika dia memiliki kemampuan yang cukup dan semangat kerja yang tinggi.

1. Pembentukan karakter dapat dibentuk melalui proses pembentukan kompetensi, yang umumnya dibentuk melalui : adanya pembaruan pengetahuan ( up date knowledge ) yang dalam proses terus-menerus akan berubah menjadi sikap yang selanjutnya menjadi prilaku yang selaras dengan visi dan misi yang ditetapkan oleh manajemen,

2. Memiliki talenta. Talenta sering diterjemahkan dengan bakat potensi. Bakat merupakan sikap bawaan seseorang yang belum siap pakai untuk melakukan aktivitas secara layak. Potensi merupakan bakat yang telah siap pakai karena adanya proses pembelajaran, pelatihan, dan proses lain yang dilakukan oleh seseorang.

3. Komitmen adalah suatu keadaan dimana seorang pekerja atau karyawan memiliki tingkat kelekatan (kohesif) yang tinggi pada organisasi dan manajemen. Komitmen dapat dibentuk apabila prinsip dasar (kompetensi, karakter dan talenta) dapat dilalui manajemen dengan baik.

1.5 Proses Manajemen Sumber Daya Manusia

Yang dimadsud dengan proses manajemen sumber daya manusia adalah segala prose yang berk`aitan dengan upaya yang dilakukan dari mulai perencanaan sumber daya manusia, perekrutan, penandatanganan kontrak kerja, penempatan tenaga kerja, hingga pembinaan dan pengembangan tenaga kerja guna menempatkan dan tetap memelihara tenaga kerja pada posisi dan kualifikasi tertentu serta bertanggung jawab sesuai dengan persyaratan yang diberikan kepada tenaga kerja tersebut.proses menejemen SDM dibagi kedalam lima bagian fungsi utama yang terdiri dari:

a) Humen Resources Planning(Prencanaan Sumber Daya Manusia)

Perencanaan sumber daya manusia adalah perencanaan setrategis untuk mendapatkan dan memelihara kualifikasi sumber daya manusia yang diperlukan dari organisasi perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan.

Langkah-langkahstrategis sehubungan dengan perencanaan SDM adalah:

a) Langkah Pertama:Representasi dan refleksi dalam rencana startegis perusahaan.

Perencanaan sumber daya manusia sudah semestinya merupakan representasi dan refleksi dari keseluruhan rencana strategis perusahaan .Artinya kualifikasi SDM yang nantinya dirumuskan sudah semestinya memenuhi kriteria sebagaiman yang disyaratkan dalam perencanaan strategis perusahaan secara keseluruhan, serta terintregasi dengan bagian-bagian perusahaan lainya seperti bagian produksi, pemasaran, keuangan dan lain sebagainya.

b) Langkah kedua:Analisi dan kualifikasi tugas yang akan diemban oleh tenaga kerja.

Merupakan upaya pemahaman atas kualifikasi kerja yang diperlukan untuk pencapaian rencana strategis perusahaan.Pada tahap ini ada tiga hal yang biasa dilakukan diantaranya adalah:

1) Analisis Jabatan; merupakan persyaratan detail tentang jenis pekerjaan yang diperlukan serta kualifikasi tenaga kerja yang di perlukan untuk untukmampu menjalankanya.

2) Deskripsi Jabatan;rincian pekerjaan yang akan menjadi tugas tenaga kerja tersebut.

3) Spesifikasi Jabatan,kualifikasi personel (personnel kualification)

merupaka rincian karakteristik atau kualifikasi yang diperlukan bagi tenaga kerja yang di persyaratkan.kualifikasi personel ini secara garis besar dapat dibagib dua yaitu:

A. Kualifikasi Umum (General qualification)

B. Yaitu kualifikasi minimal yang biasanya diperlukan untuk menempati suatu pos tertentu dalam suatu jabatan tertentu dalam organisasi biasanya meliputi latar belakang pendidikan, gender usia, status, atau kualifikasi yang cenderung bersifat demografis dari seseorang.

C. Kualifikasi spesifik (specific qualification)

Kualifikasi tambah yang secara spesifik akan sangat dibutuhkan bagi pengisian jabatan tertentu.

c) Langkah Ketiga; Analisis ketersediaan tenaga kerja.

Langkah ini merupakan sebuah pikiran tentang jumlah tenaga kerja beserta kualifikasi yang ada dan diperlukan bagi perencanaan perusahaan dimasa yang akandatang.termasuk jumlah tenaga kerja yang perlu di promosikan, ditransfer, dan lain sebagainya.

d) Langkah Keempat; Menentukan tindakan inisiatif.

Analisis terhadap ketersediaan tebaga kerja yang ada dalam perusahaan dan keperluanya bagi masa yang akan datang membawa pada kesimpulan(1)sekiranya tenaga kerja yang ada sudah memadai bagi oprasionalisai perusahaan yang akan dating, tidakperlu ada tindakan inisiatif yang dilakukan seperti rekruitmen, transfer,dan lain sebagainya.(2)sekiranya tenaga kerja yang tersedia perlu dilakuakan perombakan, maka barangkali perlu dilakuakan rasionalisasi, perekrutan, dan lain sebagainya.

e) Langkah Kelima; Evaluasi dan modifikasi tindakan.apa saja yan telah direncanakan dalam menejemen SDM harus senantiasa dievaluasi dan dilakukan tindakan korektif sekiranya ada ketidak sesuaian atau terjadi perubahan seiring denagn perkembangan yang terjadi di perusahaan.

b) Personel Procurement(Penyediaan Sumber Daya Manusia)

Setelah proses perencanaan SDM dibuat maka langkah selanjutnya adalah penyediaan SDM atau penempatan tenaga kerja yang melalui beberapa proses diantaranya adalah:

1) Rekrutmen

Merupakan upaya perusahaan dalam mendapatkan tenaga kerja yang diperlukan sesuai dengan kualifikasi yang telah ditetapkan dalam perencanaan tenaga kerja, usaha ini bias meliputi pemasangan iklan mellalui media massa, pengajuan permohonan pada institusi-institusi pendidikan, dan lain-lain.

A. Rekrutmen internal (internal rekrutment)

Proses untuk mendapatkan tenaga kerja atau SDM yang dibutuhkan dengan mempertimbangkan tenaga kerja yang sudah ada atau sudah dimiliki oleh perusahaan .Tenaga kerja yang ada di beri kesempatan untuk menempati jabatan yang berbeda dari apa yang sedang dijalaninya.bentuk dari rekrutmen tersebut berupa rotasi atau penempatan tenaga kerja pada tingkatan manajemen yang sama namun berbeda departemen atau bagian, atau dapat juga berupa promosi, yaitu berupa penempatan tenaga kerja yang ada ke jabatan yang tingkatan manajemennyalebih tinggi

B. Rekrutmen eksternal(eksternal rekrutment)

Perusahaan mendapatkan tenaga kerja atau SDM yang akan di tempatkan pada suatu jabatan tertentu yang diperolehnya dari luar perusahaan, atau sering kali dinamakan outsourcing.upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mendapatkan tenaga kerja ini bias melalui iklan di media massa, interview dikampus-kampus, atau melalui agen penyalurab tenaga kerja tertentu.

2) Seleksi tenaga kerja

Setelah perusahaan melakukan rekrutmen maka langkah selanjutnya adalah seleksi tenaga kerja yang meliputi seleksi administrasi, seleksi kualifikasi, seleksi sikap dan perilaku.

3) Penempatan tenaga kerja

Setelah proses seleksi dilalui maka langkah selanjutnya adalah proses penempatan tenaga kerja.dalam proses ini perusahaan tidak langsung menempatkan tenaga kerja pada suatu posisi atau jabatan tertentu , melainkan melakukan program semacam program pelatihan orientasi(orientation training)yang bertujuan untuk mengadaptasikan tenaga kerja dengan lingkungan perusahaan.perusahaan besar biasanya mengantisipasi proses adaptasi ini dengan membuat department atau posisi khusus yang dinamakan sebagai manajement trainee. Mereka akan di tempatkan dibagian ini akan dilatih oleh perusahaan untuk di tempatkan di berbagai departemen yang berbeda-beda menuru periode tertentu yang bertujuan selain memberikan proses internalisasitenaga kerja dengan perusahaan ,juga untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat mengenai kesiapan tenaga kerja pada bagian tertentu di perusahaan.

c) Personnel Development (Pengembangan Sumber Daya Manusia)

Pengembangan SDM merupakan langkah kelanjutanproses penyediaan tenaga kerja yang pada dasarnya bertujuan untuk memastikan dan memelihara tenaga kerja yang tersedia tetap memenuhi kualitas yang dipersyaratkan sehingga selaras dengan perencanaan strategis perusahaan serta tujuan perusahaan dapat tercapai sebagaimana yang direncanakan.

Bagi tenaga yang baru program pengembangan ini biasanya diakomodasi melalui program prientasi perusahaan dimana dalam program ini tenaga kerja di perkenalkan pada lingkungan kerja perusahaan baik secara internal maupun eksternalperusahaan.

Bagi tenaga kerja yang lama upaya untuk memelihara produktifitas, efektivitas, dan efisiensi perlu ditinggkatkan untuk memastikan tenaga kerjatetap terpelihara kualifikasinya sesuai dengan perencanaan strategis perusahaan.diantara program-program pembinaan bagi tenaga kerja lama;program pelatihan motivasi, program pelatihan Seven Habits(steven covey, dan lain-lain.

Biasanya untuk perusahaan-perusahaan besar selain cara diatas juga dilakukannya program melanjutkan studydidalam maup[un diluar negri ,selain itu secaragaris besar program pengembangan tenaga kerja dapat dibagi menjadi dua yaitu ;On the job dan of the job.

Metode On the job bisa berupa kegiatan-kegiatan seperti;

1.) Coaching

Yaitu program berupa bimbingan yang diberikan atasan kepada bawahan mengenai berbagai hal yang terkait dengan pekerjaan.

2.) Planned progression

Yaitu program berupa pemindahan tenaga kerja kepada bagian-bagian lain melalui tingkatan-tingkatan organisasi yang berbeda-beda.

3.) Job rotation

Yaitu program pemindahan tenaga kerja kebagian yang berbeda-beda dan tugas yang berbeda-beda pula, agar tenaga kerja lebih dinamis dan tidak hanya menonton saja.

4.) Temporary task

Yaitu berupa pemberian tugaspada suatu kegiatan tau proyek atau jabatan tertentu untuk periode waktu tertentu.

5.) Performance atau program penilaian prestasi.

Adapu n metode off the job :

1.) Executive development programme

berupa program pengiriman manajer atau tenaga kerja untuk berpartisipasi dalam berbagai program-program khusus diluar perusahaan yang gterkait dengan analisa kasus, simulasi, maupun metode pembelajaran lainnya.

2.) Laboratory training

Yaitu berupa program yang ditunjukkan kepada tenaga kerja untuk mengikuti program-program berupa simulasi atau dunia nyata yang terkait dengan kegiatan perusahaan dimana metode yang digunakan adalah role playing.,simulasi, dan lain-lain.

3.) Oeganizational development

Yaitu program yang ditunjukkan kepada tenaga kerja dengan mengajak mereka untuk berfikir mengenai bagaimana memajukan perusahaan mereka.

d) Personnel Maintenance (Pemeliharaan Tenaga Kerja)

Jika tenaga kerja telah dipilih dari sumber yang terbaik, kemudian di berikan program yang terbaik, maka perusahaan dapat berharap bahwa tenaga kerja yang telah dipilihnya akan memberikan kinerja terbaik bagi perusahaan.

Proses selanjutnya adalah pemeliharaan tenaga kerja.proses ini sangat [enting untuk dilakukan guna menjamin agar tenaga kerja yang dimiliki perusahaan terpelihara produktivitas, efektivitas, dan efisiensinya.Dalam beberapa kasus sering kali kita dapat fenomena yang dikenal sebagai pembajakan tenaga kerja.

Perusahaan perlun mengagendakan program pemeliharaan tenaga kerja melalui konsep pemeliharaan yang selain memberikan penghargaan yang sesuai dengan apa yang telah ditunjukan oleh tenaga kerjanya, juga mampu untuk tetap memelihara tenaga kerja yang terbaikbagi perusahaan untuk jangka panjang.Secara garis besar bentuk pemeliharaan tenaga kerja yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah program pemberian Kompensasi dan Benefit.Pemberian kompensasiadalah penghargaan yang diberikan perusahaan sebagai balasan atas presentasi kerja yang diberikan oleh tenaga kerja.Adapun Benefit adalah penghargaan selain kompensasi yang di programkan bagi tenaga kerja dengan tujuan agar kebutuhan tenaga kerja tetap dapat terpelihara sehingga tenaga kerja dapat tetap memberikan kinerja yang terbaik bagi perusahaan.

a. Kompensasi

Kompensasi umumnya terkait penghargaan dalam bentuk uang atau sering kali disebut dinamakan sebagai insentif.biasanya program ini terkait upah dan pendapatan(wage-lavels),yaitu berapa pendapatan yang akan diberikan kepada tenaga kerja tersebut sesuai dengan pekerjaan yang dilakukannya.kemudian juga adalah apa yang dinamakan sebagai struktur penggajian(wage-structure)yairu tingkatan-tingkatan upah yang akan diberikan diperusahaan tersebut.

Selain itu yang terakhir dalam kompensasi adalah apa yang dinamakan sebagai pengupahan secara individual(individual-wage decision)pengupahan secara individual ini memberikan kejelasan untuk setiap individu mengenai kompensasi yang kan diterimanya jika bekerja dengan tingkat pengorbanan yang berbeda-beda.

b. Benefit

Benefit dalah penghargaan dan bentuk perhatian perusahaan selain kompensasi yang diberikan atau disediakan perusahaan sebagai upaya untuk memelihara tenaga kerja tersebut agar tetap dapat memberikan kinerja yang terbaik bagi perusahaan sekaligus menjawab apa yang menjadi kebutuhan dari tenaga kerja.Biasanya berupa cuti bergaji, asuransi kesehatan dan kecelakaan kerja, poliklinik geratis bagi pihak keluarga dari tenaga kerja, dan lain-lain.tujuan dari pemberian benefit ini agar para tenaga ktetap bias terpelihara produktivitasnya melalui pemberian penghargaan dan bentuk perhatian yang memerhatikan motif-motif yang dimiliki oleh para pekerja.

e) Utilization(Pemanfaatan Sumber Daya Manusia)

Langkah terakhir dar proses manajemen sumber daya manusia adalah pemanfaatan tenaga kerja.perusahaan biasanya melakukan beberapa program untuk tetap memastikan tenaga kerja senantiasa sesuai dengan perencanaan strategis perusahaan diantaranya program tersebut adalah :

1. Promosi, adalah proses pemindahan tenaga kerja ke posisi yang lebih tinggi secara setruktural dalam organisasi perusahaan.

2. Demosi, atau penurunan tenaga kerja kepada bagian yang lebih rendah yang biasanya disebabkan karena adanya penurunan kualitas tenaga kerjayang lebih rendah biasanya disebabkan karena adanya penurunan kualitas tenaga kerja dalam pekerjaannya.

3. Transfer, merupakan upaya untuk memindahkan tenaga kerja kebagian yang lain, yang diharapkan tenaga kerja tersebut bias lebih produktif setelah mengalami proses transfer.

4. Separasi, merupakan upaya perusahaan untuk melakukan pemindahan lngkungan kerja tertentu dari tenaga kerja kelingkungan yang lain.Biasanya hal ini dilakukan sekiranya terdapat konflik atau masalah yang timbul dari tenaga kerja.Separasi dilakukan untuk meminimalkan atau menghilangkan konflik tersebut sehingga tidak menghilangkan konflik tersebut sehingga tidak menganggu jalannya oprasionalisasi perusahaan.

Segala sesuatu yang telag dijelaskan diatas kesemuanya tetap memerlukan proses evaluasi yang secara terus menerus.knsep evaluasi yang dilakukan secra terus menerus biasanya disebut dengan TotalQuality Manajement atau TQ.Selain TQM diterapkan dalam proses produksi poerusahaan, juga tidak bias di abaikan perlu di berlakukan pada manajemen sumber daya manusia.Hal ini dilakukan agar tujuan perusahaan secara jangka panjang melalui penyediaan dan pemeliharaan tenaga kerjannya senantiasa terjamin.

1.5 Seleksi Personalia

Menurut Prof. Edwin B Flippo, seleksi adalah “pemilihan seseorang tertentu dari sekelompok karyawan-karyawan potensial untuk melaksanakan suatu jabatan tertentu”.Manajemen memutuskan pekerjaan apa yang terlibat dan kemampuan-kemampuan individu yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif. Kemudian manajer melihat prestasi para pelamar diwaktu yang lalu dan memilih seseorang yang memiliki kemampuan, pengalaman dan kepribadian yang paling memenuhi persyaratan suatu jabatan.

Prestasi masa lalu merupakan penunjuk paling baik bagi prestasi dimasa yang akan datang. Apa yang dilakukan seseorang di waktu yang lalu, seperti ditunjukkan oleh laporan-laporan sekolah, pengalaman kerja dan kegiatan-kegiatan diluar kurikulum, adalah predikator paling baik tentang apa yang kemungkinan akan dilakukan di waktu yang akan datang.

berbagai prosedur seleksi untuk membandingkan pelamar dengan spesifikasi jabatan tersedia. Menurut T. Hani Handoko langkah-langkah dalam prosedur seleksi yang biasa digunakan adalah:

1. Wawancara pendahuluan

2. Pengumpulan data pribadi (biografis)

3. Pengujian (testing)

4. Wawancara yang lebih mendalam

5. pemeriksaan referensi-referensi prestasi

6. Pemeriksaan kesehatan

7. Keputusan pribadi

8. Orientasi jabatan

Ada beberapa faktor yang cenderung mempengaruhi prestasi karyawan. Beberapa faktor tersebut adalah:

1. Latar belakang pribadi, mencakup pendidikan dan pengalaman kerja, untuk menunjukkan apa yang telah dilakukan seseorang di waktu yang lalu.

2. Bakat dan Minat (aptitude and interest), untuk memperkirakan minat dan kapasitas / kemampuan seseorang.

3. Sikap dan kebutuhan (attitudes and need), untuk meramalkan tanggung jawab dan wewenang seseorang.

4. Kemampuan-kemampuan analitis dan manipulatif, untuk mempelajari kemampuan pemikiran dan penganalisaan.

5. kesehatan, tenaga dan stamina, untuk melihat kemampuan fisik seseorang dalam pelaksanaan pekerjaan.

6. Ketrampilan dan kemampuan teknik, untuk menilai kemampuan dalam pelaksanaan aspek-aspek teknik pekerjaan.

Setelah diseleksi, Karyawan ditempatkan pada suatu pekerjaan dan diperkenalkan dengan organisasi melalui berbagai bentuk orientasi.Tahap orientasi merupakan kegiatan pengenalan dan penyesuaian karyawan baru dengan organisasi. Proses ini merupakan proses penting karena suatu pekerjaan baru adalah sulit dan menyebabkan frustasi bagi karyawan baru. Menurut American Society for Personel Administration, situasi baru adalah “berbeda dan asing, serta proses orientasi yang jelek dapat memadamkan antusiasme dan usaha mulai dari permulaan”.Karena berbagai perusahaan melaporkan bahwa lebih setengah dari pengunduran diri suka rela terjadi dalam 6 (enam) bulan pertama, Orientasi yang tepat dapat berbuat banyak untuk mengurangi masalah ini dan biaya-biaya yang menyertainya.

Tahap pertama biasanya diselenggarakan oleh staf unit personalia, hal-hal yang dipertimbangkan mencakup:

a. Hasil produksi perusahaan itu

b. Tunjangan kesejahteraan Karyawan

c. Jadwal gaji

d. Keselamatan

e. Masa percobaan

f. Pencatatan waktu dan ketidakhadiran

g. Hari libur, parkir, prosedur keluhan.

h. Program persamaan kesempatan penempatan tenaga kerja

Tahap kedua dari sebagian besar program orientasi yang terorganisasi dilaksanakan oleh penyelia langsung. Karyawan yang baru diangkat itu diperkenalkan kepada sesama karyawan, dibawa keliling departemen dan diberi informasi tentang hal-hal kecil seperti tempat ganti pakaian dan kamar kecil, prosedur persediaan, jam kerja, lembur, prosedur pemanggilan, jam istirahat dan makan siang, dan fasilitas-fasilitas perusahaan. Menurut OC Brenner dan J. Tomkiewcz, “suatu program percobaan khusus atas orientasi direncanakan dengan sasaran khusus untuk meyakinkan karyawan yang baru diangkat bahwa mereka mempunyai kesempatan baik untuk berhasil.

Karyawan tersebut diminta untuk melupakan permainan yang sewenang-wenang dari para karyawan yang lebih tua, dan dianjurkan agar mendekati para penyelia mereka jika ada pertanyaan dan masalah.

Program orientasi akan lebih lengkap jika mencakup tindak lanjut beberapa minggu kemudian. Wawancara ini bisa dilakukan oleh penyelia atau spesialis personalia dan berhubungan dengan (1) kepuasan karyawan terhadap pekerjaan dan organisasi, dan (2) kepuasan penyelia terhadap karyawan. Ketidakpuasan mungkin dijernihkan dengan penjelasan-penjelasan atau pemindahan nyata ke pekerjaan yang berbeda, bagaimanapun minat terhadap karyawan yang dibuktikan dengan tindakan yang tulus untuk melakukan wawancara tindak lanjut akan membantu meningkatkan tingkat kepuasan karyawan.

Oleh sebab itu sering dipakai ukuran kepuasan para penyelia dan karyawan lama terhadap masuknya karyawan baru tersebut, disamping kepuasan karyawan baru, untuk menilai keberhasilan proses orientasi. Bila tahap seleksi tidak berbuat kesalahan biasanya proses orientasi juga tidak akan mengalami kesulitan

1.6 Produktivitas

Ada beberapa pendapat orang mengenai produktivitas, diantaranya; menurut J. Ravianto, bahwa Produktivitas adalah suatu konsep yang menunjang adanya keterkaitan hasil kerja dengan sesuatu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk dari tenaga kerja.

Sedangkan menurut Muchdarsyah Sinungan, bahwa :”Produktivitas adalah hubungan antara hasil nyata maupun fisik (barang atau jasa) dengan masuknya yang sebenarnya , misalnya produktivitas ukuran efisien produktif suatu hasil perbandingan antara hasil keluaran dan hasil masukan.

Mengenai produktivitas Payaman J. Simanjuntak, menjelaskan ”Produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan keseluruhan sumber daya (masukan) yang terdiri dari beberapa faktor seperti tanah, gedung, mesin, peralatan, dan sumber daya manusia yang merupakan sasaran strategis karena peningkatan produktivitas tergantung pada kemampuan tenaga manusia”.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa produktivitas adalah suatu perbandingan antara hasil keluaran dengan hasil masukan.keefektifan ini dilihat dari beberapa faktor masukan yang dipakai dibandingkan dengan hasil yang dicapai. Sedangkan produktivitas kerja yaitu jumlah produksi yang dapat dihasilkan dalam Waktu tertentu.

Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas

Tenaga kerja atau pegawai adalah manusia yang merupakan faktorProduksi yang dinamis memiliki kemampuan berpikir dan motivasi kerja, apabila pihak manajemen perusahaan mampu meningkatkan motivasi mereka, maka produktivitas kerja akan meningkat.

Faktor- faktor yang mempengaruhi produktivitas yaitu:

a. Kemampuan, adalah kecakapan yang dimiliki berdasarkan pengetahuan, lingkungan kerja yang menyenangkan akan menambah kemampuan tenaga kerja.

b. Sikap, sesuatu yang menyangkut perangai tenaga kerja yang banyak dihubungkan dengan moral dan semangat kerja.

c. Situasi dan keadaan lingkungan, faktor ini menyangkut fasilitas dan keadaan dimana semua karyawan dapat bekerja dengan tenang serta sistim kompensasi yang ada.

d. Motivasi, setiap tenaga kerja perlu diberikan motivasi dalam usaha meningkatkan produktivitas.

e. Upah, upah atau gaji minimum yang tidak sesuai dengan peraturan pemerintah dapat menyebabkan penurunan produktivitas kerja.

f. Tingkat pendidikan, latar belakang pendidikan dan latihan dari tenaga kerja akan mempengaruhi produktivitas, karenanya perlu diadakan peningkatan pendidikan dan latihan bagi tenaga kerja.

g. Perjanjian kerja, merupakan alat yang menjamin hak dan kewajiban karyawan. Sebaiknya ada unsur-unsur peningkatan produktivitas kerja.

h. Penerapan teknologi, kemajuan teknologi sangat mempengaruhi produktivitas, karena itu penerapan teknologi harus berorientasi mempertahankan produktivitas.

Pengaruh penerimaan tenaga kerja terhadap produktivitas

Atas dasar pengertian kemampuan dari tenaga kerja yang terkait dengan keahlian seseorang di bidangnya (profesional) dalam menyelesaikan pekerjaan, maka manajemen personalia sebagai departemen yang bertugas dalam penerimaan (rekruitmen) tenaga kerja berperan penting dalam menjalankan prosedural yang berlaku, prosedur penerimaan tenaga kerja adalah bagian dari berbagai sistem yang mempengaruhi produktivitas perusahaan sehingga kecermatan dan ketelitian dalam pengambilan keputusan untuk menerima tenaga kerja dapat baru dapat dipertanggungjawabkan.

1.7 Manfaat Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi

Manajemen sumber daya manusia, sebagai cabang dari manajemen dan seperti dibahas diatas tadi adalah suatu jenis ilmu, dan termasuk ilmu terapan, seharusnya dengan memehaminya seorang akan dapat mendominasi prinsip-prinsip atau bebenaran atas dasar yang dikemukakan dalam kehidupan nyata suatu perusahaan untuk mencapai hasil tertentu.

Namun ternyata, prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh menejemen sumber daya manusia danyak dikemukakan melalui praktik dan observasi umum tanpa penelitian dan eksperimentasi yang cukup diawasi sehingga disaksikan validasinya, daan oleh karenanya hanya dapat diberi label generasi yang berguna atau konsep teoritis saja,tambahan pula karena objektif adalah manusia, bukan benda mati, maka hubungan sebab akibat hanya sebagai etimasi saja.

Pada pedoman pokok yang terdapat dalam manajemen sumber daya manusia jelas pasti dapat menambah pengetahuan dan ketramp[ilan untuk bekerja melalui orang lain.kehidupan organisasi untuk hidup bahagia yang lebih besar digerakkan oleh sumber daya manusia, bahkan sumber daya manusia perlu dipahami dan ditangani secara serius, bila diharapkan peningkatan produktivitas dalam usaha untuk merealisasikan tujuan organisasi.sumber daya manusia harus ditarik, diseleksi, dan ditempatkan di tempat paling tepat, kemudian dikembangkan untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan serta dimotivasi sedemikian rupa agar dia memberi manfaat bagi kelangsungan hidup norganisasi.

Sasaran dari sumber daya manusia adalah untuk mewujudkan tujuan organisasi secara efektif dan efisien, dan itu semua akan terwujud jika para menejer dalam sebuah organisasi perusahaan tidak mengabaikan fungsi-fingsi personalia.

1.8 Fungsi Pengorganisasian Sumber Daya Manusia Dalam Perspektif Islam

1.8.1 Prinsip Pengorganisasian Sumber Daya Manusia

          Dalam upaya memastikan bahwa organisasi memiliki sistem dan target pencapaian sasaran dan tujuan maka perlu difahami sejumlah prinsip. Dalam bukunya Pengantar Manajemen Syariah yang ditulis oleh M. Karebet Widjayakusuma mengatakan bahwa terdapat tujuh prinsip suatu organisasi sebagai berikut. Dengan hanya mengambil ketujuh pointer, kami mencoba mempertajamnya sebagai berikut.

  • Perumusan Tujuan. Organisasi harus menetapkan tujuan yang hendak dicapai yang bersifat fokus, spesifik, terukur, target waktu, memiliki nilai manfaat di sisi Allah Swt. Dalam sebuah kitab Sur’atul Badihah dikatakan bahwa ciri seseorang yang berfikir serius (fikrun jiddiyyah) adalah ditetapkanya tujuan yang kongrit dan tergambar pasti (tashwirul maadah)
  • Kesatuan Arah. Organisasi harus memiliki konsistensi dan komitmen sejak dari pimpinan hingga anggota/bawahan. Pimpinan berkewajiban mengurus, mengarahkan, melindungi, dsb. Sementara anggota/bawahan wajib mendengarkan dan mentaatinya. Hal ini sebagaimana kepemimpinan Rasulullah Saw dan para Khulafaurrasyidin. Rasulullah saw pernah mengatakan bahwa : Sesungguhnya pimpinan adalah laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya (HR. Muslim).

          Bahkan terdapat hadits lain yang mengatakan : Siapa saja yang telah membaiat seseorang imam/khalifah serta telah memberikan genggaman tanganya dan buah hatinya, maka hendaknya ia mentaatinya sesuai kemampuanya. Lalu jika datang orang yang hendak merebut kekuasaanya, maka penggalah leher (bunuhlah) orang itu (HR.Muslim)

          Jadi, pengorganisasian akan berjalan lancar jika adanya prinsip komitmen dan konsistensi dan sama-sama taan asas baik pimpinan ataupun anggota.

1.8.2 Pembagian Kerja

          Organisasi dapat berjalan jika terdapat kejelasan dalam struktur organisasinya dan job deskripsinya. Prinsip ini sudah ada sejak zaman para Nabi terdahulu termasuk Rasulullah Muhammad Saw. hingga saat ini. Bahkan dalam Al Qur’an surat az-Zuhruf ayat 32 Allah Swt berfirman :Artinya : Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

          Dalam sebuah kitab Ajhizah Daulah Khilafah dikatakan bahwa Rasulullah Saw telah menetapkan struktur organisasi untuk menentukan penempatan SDM dengan jabatan dan pembagian pekerjaan. Dikatakan dalam kitab tersebut bahwa Rasulullah Saw telah mengangkat sahabat Abu Bakar untuk mengurus ibadah haji. Sementara Sahabat Umar diangkat Rasul untuk menarik zakat.

          Fenomena tersebut sudah merupakan bentuk manajemen SDM bagaimana Rasulullah mengangkat SDM yang kredibel sesuai soft kompetensinya, dan menetapkan jabaran pekerjaanya. Jika dibandingkan dengan sistem manajemen di abad 21 ini bentuk struktur, job deskrips, job analisis, dst didokumentasikan. Hal ini sebagaimana prinsip dalam Sistem Manajemen Mutu yang menyatakan ”Write What You Do, and Do What You Write / Tulis Apa yang Anda Lakukan, dan Lakukan Apa yang Anda Tulis”.

1.8.3 Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab

          Organisasi dapat mencapai target dan sasaran  jika berjalanya fungsi pendelegasian wewenang. Dalam konsepsi Islam terdapat pemikiran yang sangat cerdas, dimana ketika seseorang diangkat menjadi pemimpin maka pada hukum asalnya (ashluhu) dia bertanggung jawab secara keseluruhan terhadap uraian pekerjaan yang telah diamanhkanya, sejak dari hulu hingga hilir, termasuk menetapkan kebijakan hingga peran office boy.

          Hanya persoalanya, jika seorang pemimpin tersebut tidak mampu menjalankan amanahnya yang demikian besar, maka ia memiliki wewenang untuk mendelegasikan kepada seseorang melaksanakan fungsi suatu pekerjaan hingga tuntas. Dalam konteks ini terdapat hadits yang sanagt populer dimana Rasulullah Saw mendelegasikan wewenang pemerintahanya dengan mengangkat sahabat Muadz Bin Jabal menjadi wali (setingkat gubernur) di kota Yaman.

          Fakta tersebut dapat dijadikan istinbath hukum bagaimana sistem manajemen dilakukan terutama dalam hal pendelegasian wewenang dan tanggung jawab seorang pemimpin.

1.8.4 Koordinasi

          Organisasi dapat berjalan efektif jika terdapat fungsi koordinasi dengan pihak-pihak terkait dalam sistem ataupun dengan pihak di luar sistem. Hal ini sangat wajar, sebab realitas organisasi hampir dipastikan terdapat struktur lini yang memiliki persamaan level. Mereka harus menjadil kerjasama untuk mencapai tujuan. Misalnya, General Manager dapat sukses jika seluruh manajer di bawahnya bergerak saling mendukung, mislanya manajer pemasaran, produksi, logistik, dsb. Jika terdapat satu manajer yang menghalangi koordinasi maka gagal seluruh target organisasi.

1.8.5 Rentang Manajemen

          Organisasi dapat berjalan sukses jika penempatan tanggung jawab terhadap timnya secara terukur. Misalnya, seorang supervisor hanya bertanggung jawab terhadap pekerjaan 10 orang di bawahnya. Prinsip ini sangat logis sebab manusia memiliki keterbatasan kompetensinya.

1.8.6 Tingkat Pengawasan

          Organisasi dapat efektif jika terdapat mekanisme controling atau pengawasan yang disusun dan dijalankan secara konsisten. Banyak pekerjaan menjadi gagal jika monitoring lemah. Dalam pandangan Islam, pimpinan memiliki wewenang penuh terhadap fungsi monitoring dengan berbagai metode dan tekniknya. Pada era kekhilafahan Islam, kepala negara acapkali melakukan sidak ke lapangan untuk memastikan efektifitas pendelegasianya. Hal ini berpijak pada hadits shohih yang mengatakan bahwa ”setiap kamu adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinanya”.

          Hal ini berbeda sekali dengan sistem di luar syariah Islam, dimana monitoring hanya dilaksanakan secara formalitas. Kalaulah pimpinan melakukan sidak atau inspeksi mendadak hampir dipastikan adanya pembocoran terlebih dahulu di palangan agar citra pejabat tersebut tetap baik dimata publik, bukan dalam pandangan Allah Swt.

1.8.7 Struktur dan Bentuk Organisasi

          Sebagaimana dikatakan di atas bahwa Islam sangat mengajarkan adanya kepastian struktur organisasi sebagai mana tercantum dalam Al Qur’an surat az-Zukhruf ayat 32 : Artinya : Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

          Dengan adanya struktur organisasi maka sistem sosial akan berjalan secara lancar. Dapat dibayangkan jika Allah tidak memperkenalkan dan mengajarkan struktur organisasi pada manusia maka kehidupan menjadi tidak dinamis. Wallahu a’lam. Hanya saja secara kaidah fakta, struktur organisasi yang membuat dunia dinamis dan bergerak maju. Andaikan di tengah organisasi yang didirikan semua mengklaim menjadi pimpinan, atau sebaliknya jika seluruhnya  menyatakan dirinya hanya sebagai karyawan yang dipimpin maka dijamin organisasi tersebut tidak akan pernah berjalan.

          Hanya bagaimanakah struktur organisasi perusahaan yang tepat, maka dalam pandangan Islam adalah sangat tergantung para founders-nya. Apakah organisasi tersebut akan memilik struktur organisasi dalam bentuk : Organisasi Lini (Line Organization); Organisasi Lini dan Staf (Line and Staff Organization); Organisasi Lini dan Fungsional (Line and Function Organization); Organisasi Matriks (Matrix Organization).

          Kiranya pemilihan model struktur organisasi tersebut adalah perkara mubah yang boleh diambil sesuai keyakinanya pada founders-nya. Hanya rambu-rambu syariahnya secara global yang perlu menjadi acuan. Sebab Rasulullah Saw ketika ditanya seseorang tentang bagaimana cara mengkawinkan kurma, beliau hanya menjawab : antum a’lamu bi umuriddunyakum (kalian lebih mengetahui dengan urusan duniamu).

          Setelah adanya struktur organisasi, pada umumnya pihak pimpinan atau manajemen SDM akan menentukan job deskripsi ataupun lainya. Atau, dalam hal ini lebih luas menyangkut dunia manajemen SDM antara lain : menentukan job analysis, job specification, assessment performance, placement, training and development,  promosi, demosi, system penggajian, dsb. Persoalan manajemen SDM tersebut dilakukan dengan prinsip ilmu dan seni atau Science and Art sepanjang sesuai rambu-rambu syariah. Misalnya, dalam masalah penggajian dikatakan dalam hadits berikan upahnya sebelum kering keringatnya. Sementara dalam organisasi kapitalis, acapkali karyawan tidak dibayar sebab uang kantor masih dipakai membeli asset. Inilah yang membedakan dengan sistem manajemen selain Islam yang acapkali hanya mengacu hawa nafsu semata.

1.8.8 Pensikapan Dinamika dalam Organisasi

Dalam buku Manajemen Syariah dalan Praktek yang ditulis oleh Dr. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc dan Hendri Tanjung, S.Si., M.M. dengan cerdas mengatakan bahwa rujukan sistem manajemen syariah adalah mengacu pada hukum yang lima (ahkamul khamsah) yakni wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Istinbath tersebut merupakan pemikiran cemerlang dalam Islam, yang tidak pernah ditemukan pada system manajemen syariah kapitalis ataupun sosialis.

Sementara itu secara fakta, seiring dinamika perubahan tata dunia moderen akan menuntut adaptasi perubahan suatu organisasi yang ketika itu dinilai mapan. Menghadapi hal tersebut maka seorang pimpinan organisasi yang berbasis syariah akan menempatkan sikap perubahan dengan merujuk pada hukum yang lima tersebut. Dalam hal ini pimpinan akan mengkaji persoalan mana yang boleh berubah dan mana yang tidak akan dirubah. Jadi pimpinan  akan bersikap itsbatu syaiin ‘ala syai’in based aqidah wa syariah Islamiyah.

Memang betul terdapat ayat Al Qur’an surat ar-Ra’d ayat 11 Allah Swt berfirman sebagai berikut :Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan.Namun demikian, seorang pimpinan organisasi yang berpijak pada syariah Islam akan menempatkan hokum lima sebagai panglima. Hal ini diapat dimisalkan : bahwa dengan maraknya sistem bisnis global yang berbasil jual beli saham haram, maka manajemen tidak akan pernah mengikuti arus tersebut. Demikian halnya ketika saat ini instrument kantor menuntut menggunakan IT berupa jaringan internet maka hal tersebut akan diadaptasi. Dengan demikian organisasi akan sukses bersama syariah Al Islamiyah

1.9 Studi Kasus

Dalam suaru organisasi, baik organisasi kecil maupun besar lebih-lebih dalam sebuah perusahaan.sangat di butuhkannya peran sumber daya manusia (SDM) yang handal dan berkualitas tinggi untuk bisa mewujudkan tujuan suatu organisasi atau perusahaan tersebut.

Sebagai mana dalam perusahaan, seorang pemimpin perusahaan harus pandai dan ahli dalam memimpin anak buah atau karyawannya sehingga dia harus memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa (leader ship) sehingga memudahkan hubungan antara manajer atau pimpinan dengan karyawannya dengan baik dan benar selain itu juga harus mengetahui kemauan karyawan tersebut.Sehingga ketika menejer tersebut mengetahui karakteristik maka akan dengan mudah seorang manajer dalam mengatur perusahaan tersebut sehingga timbulnya simbiotis mutualisme yang baik.

Dalam bukunya Napoleon Hill yang berjudul Berfikir dan Menjadi Kaya menerangkan bahwa jika kita ingin hidup dengan tujuan yang terwujud kita harus bisa memahami lingkungan dimana kita hidup dan kita juga harus bisa berinteraksi didalamnya dengan baik.Selain itu dijelaskan pula dalam bukunya David J.Schwartz yanmg berjudul The Magic Of Thininng Big, menjelaskan mengenai visi dan misi supaya terwujud dengan baik.Kita harus berani berfikir besar dan positif jika kita ingin menjadi orang besar.

Griffin menerangkan dalam bukunya, ”jika anda memperlakukan orang dengan penuh rasa hormat dan bermartabat dan memberi mereka penghargaan atas konstribusi mereka, maka sebaliknya mereka akan memperlakukan anda dengan cara yang sama”.

Dalam perusahaan-perusahaan besar mereka dalam memberikan tunjangan berupa pelayanan, fasilitas, baik fasilitas kesehatan, rumah tinggal, dan lain-lain pasti secara Cuma-Cuma karena mereka tahu persis akan pentingnya hukum memperlakukan atau berinteraksi dengan sumber daya manusianya.sehingga tujuan dari organisasi atau perusahaan tersebut bisa tercapai.

Satu contoh dalam perusahaan International Power.dalam perusahaan tersebut pemilik perusahaan secara Cuma-Cuma memberikan fasilitas, tunjangan kepada karyawannya, dan bukan hanya itu saja dalam wujud kerjanya pun, perusahaan tersebut sangat mengedepankan keselamatan para pekerjannya.dengan berbagai macam cara baik dengan sisi bangunan gedung, baju para pegawai beserta baju keselamatannya, sampai dengan tingkat teknologi paling cangkih yang di gunakan untuk melindungi keselamatan para pegawainya sangat di perhatikan. selain itu perusahaan dalam hal penggajian, pengaturan jam kerja, serta pemberian kompensasi sangat di perhatikan betul.sehingga muncul kenyamanan dan kemamanan karyawan yang menyebabkan timbulnya loyalitas dalam diri karyawan tersebut untuk disumbangkan sepenuhnya dalam pencapaian tujuan perusahaan.


BAB III

PENUTUP

Fungsi perngorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lain yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta menggapai tujuan bersama dengan cara yang telah diplaning sebelumnya oleh perusahaan.

analisa pekerjaan adalah “proses mempelajari dan mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan operasi dan tanggung jawab suatu pekerjaan tertentu.Jadi fungsi pengorganisasian dan analisa pekerjaan sangat penting dalam mencapai tujuan bersama


DAFTAR PUSTAKA

Griffin,Ricky W.2002.Manajemen.Jakarta.Erlangga

Tisnawati Sule,Ernie.2008.Pengantar Manajemen.Jakarta.Penerbit Kencana Prenada Media Group

Saefullah,Kurniawan.2008.Pengantar Manajemen.Jakarta.Penerbit Kencana Prenada Media Group

Manullang,Muhammad.1996.Dasar-Dasar Manajemen.Jakarta.Penerbit Ghalia Indonesia

Hill,Nepoleon.1997.Berfikir dan Menjadi Kaya.Jakarta.Binarupa Aksara

J.Schwartz.David.2007.The Magic Of Thinking Big.Batam.Binarupa Aksara

Hani Handoko. T. 2003. Manajemen. Yogyakarta. BPFE-Yogyakarta

Amirullah Haris Budiono. Pengantar Manajemen. Yogyakarta. Penerbit Graha Ilmu

http://organisasi.org/fungsi_manajemen_perencanaan_pengorganisasian_pengarahan_pengendalian_belajar_di

http://aabisnis.blogspot.com/2008/04/manajemen-personalia.html

»»  Baca Lebih Lanjut...

Posting Kami