Rabu, 29 Desember 2010

Audit Proses Pendanaan: Kas dan Investasi

1.      Audit Kas Dan Pengaruhnya Pada Proses Bisnis Lain

Unsur “kas” yang dilaporkan pada laporan keuangan merupakan kas di tangan dan kas yang disimpan dalam rekening koran, termasuk sertifikat deposito, deposito berjangka, dan tabungan. Sering kali “setara kas” (cash equivalents) digabungkan dengan kas untuk kepentingan penyajian dalam laporan keuangan. Contoh dari instrumen keuangan tersebut adalah surat utang pemerintah jangka pendek (treasury bills), surat berharga komersial (commercial paper), dan instrumen pasar uang (money market funds).
Karena seluruh transaksi akuntansi melalui akun kas sebagai bagian dari siklus “dari awal sampai akhir” (cradle-to-grave), kas dipengaruhi oleh satu atau seluruh proses bisnis entitas. Walaupun sumber utama penerimaan kas adalah pendapatan, kas juga didapatkan melalui penjualan aktiva tetap dan penerimaan dari penerbitan utang jangka panjang atau modal saham. Sumber utama pengeluaran kas adalah proses pembelian (persediaan dan aktiva tetap) dan manajemen sumber daya manusia. Pengeluaran kas lainnya adalah pembayaran utang jangka panjang dan pembelian kembali saham.
Penentuan auditor atas risiko pengendalian untuk transaksi proses pendapatan dan pembelian sangat memengaruhi sifat dan luas pengujian saldo akhir kas. Sebagai contoh, jika risiko pengendalian di bawah tingkat maksimum untuk kedua proses tersebut, auditor dapat mengurangi pengujian substantif atas saldo kas.

2.      Audit Investasi

Investasi dapat berupa efek ekuitas, seperti saham biasa dan preferen, efek utang, seperti wesel dan obligasi, dan efek hibrid seperti obligasi dan saham yang dapat dikonversi. Perlakuan akuntansi atas instrumen tersebut tergantung pada beberapa faktor seperti persentase kepemilikan atas entitas, tingkat pengaruh dalam pengambilan keputusan, klasifikasi investasi sebagai aktiva lancar atau tidak lancar, dan berbagai macam faktor lainnya.
Pertimbangan auditor atas investasi tidak berbeda dengan akun laporan keuangan lain. Yaitu, auditor harus yakin bahwa jumlah berbagai jenis investasi yang terdapat pada neraca, tidak disalahsajikan secara material. Hal ini termasuk pengakuan yang tepat atas pendapatan bunga, dividen, dan perubahan nilai yang harus dimasukkan dalam laporan keuangan.
Pendekatan auditor atas audit investasi bervariasi tergantung ukuran investasi dan jumlah aktivitas investasi. Untuk entitas yang memiliki portofolio investasi besar, auditor mengikuti strategi ketergantungan di mana dilakukan evaluasi pengendalian internal dan pengujian pengendalian untuk menetapkan risiko pengendalian di bawah maksimum. Akan tetapi, untuk kebanyakan entitas, akan lebih efisien bila auditor mengikuti strategi substantif dan melakukan audit terinci atas audit investasi efek pada akhir tahun.

3.      Jenis Akun Bank

Manajemen kas adalah suatu fungsi penting di seluruh organisasi. Untuk memaksimalkan posisi kas, entitas melaksanakan prosedur yang mempercepat penagihan penerimaan kas dan menunda pembayaran pengeluaran kas. Dengan prosedur tersebut, dihasilkan pendapatan bunga atas kelebihan kas atau berkurangnya biaya pinjaman tunai.
Meskipun sifat manajemen kas rumit, manajemen entitas tetap harus memerhatikan pengendalian dan penyimpanan kas. Penggunaan jenis akun (rekening) bank yang berbeda dapat membantu pengendalian kas. Pendekatan audit untuk tiap jenis akun sama, tetapi luas pengujian bervariasi antara akun yang satu dengan akun lainnya.
Berikut ini adalah jenis akun bank yang biasa digunakan:
a.      Akun kas umum
Akun kas umum (general cash account) merupakan akun kas utama bagi kebanyakan entitas. Sumber utama penerimaan kas untuk akun ini adalah proses pendapatan, sedangkan sumber utama pengeluaran kas adalah proses pembelian dan sumber daya manusia. Penerimaan dan pengeluaran pada akun bank lain yang dimiliki entitas juga melalui akun ini. Bagi sebagian besar entitas kecil, akun ini merupakan satu-satunya akun kas yang ada.
b.      Akun kas impres
Akun bank impres (imprest bank account) berisikan sejumlah uang tertentu yang digunakan untuk tujuan terbatas. Akun impres sering kali digunakan untuk pembayaran gaji dan cek dividen. Untuk keperluan penggajian digunakan akun bank terpisah bersaldo minimum. Pengeluaran dapat dilakukan dengan menggunakan cek atau setoran langsung. Sebelum dilakukan pengeluaran atas penggajian, cek diuangkan atau kas ditransfer dari akun kas umum ke akun penggajian sejumlah gaji yang akan dibayarkan. Gaji kemudian ditarik dari akun impres. Maka, akun penggajian berfungsi sebagai akun kliring untuk pembayaran gaji dan mempermudah pengeluaran kas, sekaligus juga merupakan bentuk pengendalian memadai atas kas. Penggunaan akun impres juga mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk merekonsiliasi akun kas umum.


c.       Akun cabang
Perusahaan yang mengoperasikan cabang pada banyak lokasi dapat menggunakan akun terpisah pada bank lokal. Hal ini menjadikan setiap cabang dapat membayar pengeluaran lokal dan dapat membina hubungan dengan perbankan pada komunitas setempat. Akun kas cabang (branch cash account) dapat dioperasikan dengan beberapa cara. Pada beberapa entitas, akun cabang merupakan akun impres untuk pembayaran pengeluaran cabang yang saldo minimumnya telah ditetapkan. Cabang menyerahkan laporan kas secara periodik kepada kantor pusat, dan akun cabang menerima cek atau transfer dari akun kas umum. Dalam kasus lain, fungsi akun cabang seperti akun kas umum dengan mencatat penerimaan dan pengeluaran kas. Sebagai pengendalian, cabang harus diminta untuk menyerahkan laporan kas secara periodik kepada kantor pusat, dan manajemen juga harus melakukan pemantauan atas saldo kas di akun cabang.

4.      Prosedur Analitis Substantif Kas

Karena sifatnya yang bersisa, kas tidak memiliki hubungan yang dapat diprediksi dengan akun laporan keuangan lain. Maka, prosedur analitis substantif untuk audit kas terbatas hanya pada perbandingan saldo kas dengan saldo tahun sebelumnya dan dengan saldo anggaran. Penggunaan terbatas dari prosedur analitis substantif ini pada umumnya dapat digantikan dengan pengujian pengendalian dan/atau pengujian substantif ekstensif atas transaksi penerimaan dan pengeluaran kas, atau pengujian ekstensif atas rekonsiliasi bank entitas.

5.      Pengujian Substantif Kas

Dengan menguji transaksi penerimaan dan pengeluaran, auditor mendapatkan bukti penting atas asersi yang relevan dengan akun kas. Pada kebanyakan audit, pengujian substantif atas transaksi untuk penerimaan dan pengeluaran kas dilaksanakan bersamaan dengan pengujian pengendalian atas proses pendapatan dan pembelian.

5.1.  Pengaruh Pengendalian

Keandalan pengendalian klien atas penerimaan dan pengeluaran kas memengaruhi sifat dan luas pengujian terinci yang dilakukan auditor. Pengendalian yang beroperasi dengan efektif memberikan bukti asersi otorisasi kepada auditor.
Pengendalian utama yang memengaruhi langsung audit kas adalah pembuatan rekonsiliasi bank bulanan oleh karyawan klien yang terpisah dari fungsi penanganan dan pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas. Rekonsiliasi bank tersebut memastikan bahwa saldo per buku klien mencerminkan jumlah yang sama dengan saldo bank setelah unsur-unsur yang direkonsiliasi dimasukan. Pengendalian dapat lebih ditingkatkan jika fungsi independen seperti auditor internal me-review rekonsiliasi bank.
Jika klien memiliki prosedur rekonsiliasi bank yang dilaksanakan tepat waktu, auditor dapat mengurangi pekerjaan audit atas saldo akhir kas.

5.2.  Asersi Yang Terkait Dengan Saldo

Prosedur audit utama untuk setiap akun kas adalah pengujian rekonsiliasi bank. Pendekatan audit atas rekonsiliasi bank pada dasarnya sama tanpa memerhatikan jenis akun bank yang diperiksa. Akan tetapi,jenis dan sifat setiap pekerjaan audit untuk akun kas umum lebih terinci karena biasanya jumlahnya material dan terdapat banyak aktivitas dalam akun.

5.3.  Audit Akun Kas Umum

Untuk mengaudit akun kas, auditor harus mendapatkan dokumen-dokumen berikut ini:
a.      Kertas Kerja Rekonsiliasi Bank (Bank Reconciliation Working Paper)
Auditor biasanya mendapatkan salinan rekonsiliasi bank yang dibuat oleh karyawan klien. Pada kertas kerja dilakukan rekonsiliasi saldo menurut bank dengan saldo menurut buku. Unsur yang direkonsiliasi terutama adalah setoran dalam perjalanan, cek yang beredar, dan penyesuaian lain seperti biaya jasa bank dan cek yang dikembalikan karena pelanggan tidak memiliki kas yang mencukupi dalam akunnya untuk membayar cek (cek kosong).
b.      Bentuk Konfirmasi Bank Standar (Standard Bank Confirmation Form)
Auditor biasanya melakukan konfirmasi atas informasi saldo akun dengan setiap bank atau lembaga keuangan di mana klien memiliki akun. Bentuk ini juga digunakan untuk mendapatkan informasi adanya pinjaman yang didapatkan klien dari bank. Bentuk konfirmasi ini tidak meminta karyawan bank untuk melaksanakan penyelidikan menyeluruh dan terinci atas catatan bank yang melebihi informasi akun yang diminta dalam konfirmasi. Akan tetapi, karyawan bank juga diminta untuk menyebutkan simpanan atau pinjaman lain yang ditemukan pada saat melengkapi konfirmasi. Oleh sebab itu, permintaan konfirmasi tidak dapat diandalkan untuk mengidentifikasi seluruh informasi mengenai simpanan atau pinjaman klien di bank. Jika auditor mempertimbangkan bahwa informasi tambahan diperlukan atas persetujuan yang dilakukan klien dengan lembaga keuangan, surat konfirmasi terpisah yang ditandatangani klien harus dikirimkan kepada petugas lembaga keuangan yang bertanggungjawab atas akun klien.
c.       Pisah Batas Rekening Koran (Cutoff Bank Statement)
Langkah utama dalam mengaudit rekonsiliasi bank adalah melakukan verifikasi atas ketepatan unsur-unsur yang direkonsiliasi seperti setoran dalam perjalanan dan cek yang beredar. Auditor memerlukan pisah batas rekening koran untuk menguji unsur-unsur yang terdapat dalam rekonsiliasi bank. Pisah batas rekening koran umumnya mencakup periode 7 sampai 10 hari setelah tanggal rekonsiliasi akun bank. Unsur yang harus direkonsiliasi harus sudah dikliring dari akun bank klien pada periode tersebut. Pisah batas rekening koran, termasuk cek yang dibatalkan, didapatkan auditor langsung dari bank atas permintaan klien.

5.4.  Prosedur Audit Yang Terkait Dengan Kecurangan

Jika klien tidak memiliki prosedur pengendalian yang memadai atau auditor menduga terdapat kecurangan atau penyalahgunaan kas, maka diperlukan prosedur audit kas yang lebih luas. Walaupun beberapa jenis kecurangan seperti pemalsuan atau kolusi sulit dideteksi. Tiga prosedur audit yang khususnya digunakan auditor untuk menemukan kecurangan pada akun kas adalah:
a.      Prosedur Rekonsiliasi Bank Yang Diperluas (Extended Bank Reconciliation Procedure)
Pendekatan khusus untuk menyelidiki kemungkinan kecurangan adalah dengan memperluas prosedur audit atas rekonsiliasi bank dengan memeriksa penghapusan unsur yang harus direkonsiliasi yang terdapat pada rekonsiliasi bank bulan sebelumnya dan unsur yang harus direkonsiliasi pada rekonsiliasi bank bulan berjalan.
b.      Pembuktian Kas (Proof of Cash)
Pembuktian kas digunakan untuk merekonsiliasi penerimaan dan pengeluaran kas yang tercatat pada buku klien dengan kas yang disetorkan atau dikeluarkan dari akun bank pada suatu periode tertentu. Tujuan pokok pembuktian kas adalah:
1)      Memastikan bahwa seluruh penerimaan kas yang dicatat pada jurnal penerimaan kas, disetorkan ke akun bank klien.
2)      Untuk memastikan bahwa seluruh pengeluaran kas yang dicatat pada jurnal pengeluaran kas telah dikeluarkan dari akun bank klien.
3)      Untuk memastikan bahwa tidak ada transaksi bank yang dihilangkan dari catatan akuntansi klien.
Perlu diketahui bahwa pembuktian kas tidak dapat mendeteksi pencurian kas sebelum dicatat dalam buku klien.
c.       Pengujian Untuk Kiting (Tests for Kiting)
Jika kas dicuri oleh karyawan sangatlah mungkin untuk menutupi kekurangan kas dengan praktik yang dikenal sebagai kiting. Yaitu karyawan menutupi kekurangan kas dengan melakukan transfer dari satu akun bank ke akun bank yang lain dan tidak mencatat transaksi tersebut dengan benar dalam buku klien. Pendekatan yang umumnya dilakukan auditor untuk menguji kiting adalah membuat skedul transfer antarbank. Skedul transfer antarbank digunakan walaupun prosedur pengendalian memadai dan tidak dicurigai adanya kecurangan. Jika klien menggunakan banyak akun, transfer kas dapat ditangani dengan tidak hati-hati. Penggunaan skedul transfer antarbank memberikan bukti kepada auditor atas kelayakan pisah batas transaksi kas.

5.5.  Audit Akun Impres Penggajian Atau Cabang

Auditor mendapatkan rekonsiliasi bank bersama-sama dengan konfirmasi bank standar dan pisah batas rekening koran. Akan tetapi, pengujian audit tidak terlalu luas untuk dua alasan. Pertama, saldo impres pada akun tersebut tidak material. Akun penggajian dan cabang dapat hanya berisikan saldo sebesar $ 1.000. Kedua, jenis pengeluaran adalah homogen. Cek dikeluarkan untuk jenis transaksi yang sama dan untuk jumlah yang relatif kecil.

5.6.  Audit Dana Kas Kecil

Kebanyakan entitas mempunyai dana kas kecil untuk membayar beban atau transaksi tertentu. Walaupun saldo dana tidak material, terdapat kemungkinan penyalahgunaan karena karyawan klien dapat melakukan banyak transaksi kecurangan atas dana tersebut pada suatu bagian tahun. Auditor jarang melakukan prosedur substantif analitis atas kas kecil, kecuali bila diduga terdapat kecurangan. Akan tetapi, auditor mendokumentasikan pengendalian atas dana kas kecil terutama untuk klien kecil.
a.      Pengendalian (Control)
Dana kas kecil harus dikelola atas dasar impres oleh pemegang kas (kustodian) yang independen. Voucher kas kecil yang telah dinomori harus digunakan bila menarik kas dari dana kas kecil, dan limit pengeluaran kas kecil perlu dibentukan. Secara periodik, dimintakan penggantian atas dana kas kecil dari akun kas umum sejumlah nilai voucher. Klerek utang usaha harus me-review voucher atas ketepatan sebelum dilakukan penambahan dana kas kecil. Terakhir, seseorang yang independen dari fungsi kas harus melakukan pemeriksaan mendadak atas dana kas kecil.
b.      Pengujian Audit (Audit test)
Pada tahap pertama, auditor mendapatkan pemahaman atas pengendalian kas kecil klien. Audit atas kas kecil difokuskan pada baik transaksi yang diproses melalui kas kecil selama suatu periode maupun saldo dana kas kecil. Auditor memilih sampel penggantian kas kecil dan memeriksa ketepatan unsur-unsur yang dibayar oleh kas kecil. Hal ini dapat dilakukan sebagai bagian dari pengujian pengendalian atau pengujian terinci atas transaksi dari fungsi pengeluaran kas. Auditor menguji saldo dana kas kecil dengan menghitungnya. Penghitungan ini dapat dilakukan pada tanggal interim atau pada akhir tahun.
c.       Isu Pengungkapan atas Kas
Auditor harus mempertimbangkan sejumlah pengungkapan penting laporan keuangan pada saat mengaudit kas. Review risalah rapat dewan komisaris, perjanjian pagu kredit, perjanjian pinjaman, dan dokumen lain adalah sumber utama informasi pengungkapan laporan keuangan. Di samping itu, auditor juga melakukan konfirmasi unsur-unsur seperti saldo minimum yang diharuskan sehubungan dengan pagu kredit dari bank.

6.      Prosedur Pengendalian Dan Pengujian Pengendalian Transaksi Hutang Jangka Panjang, Modal Saham, Dividen, Akun Laba Rugi.

Prosedur pengendalian umumnya digunakan untuk mengurangi kemungkinan salah saji. Bahkan jika auditor mengikuti strategi substantif, auditor tetap harus memahami pengendalian atas investasi untuk mengantisipasi bentuk salah saji yang dapat terjadi dan untuk merencanakan prosedur substantif. Asersi yang harus diperhatikan adalah keterjadian, otorisasi, kelengkapan, akurasi, dan klasifikasi. Pemisahan tugas yang memadai, yang penting untuk memastikan ketepatan investasi.
a.      Asersi dan Prosedur Pengendalian Terkait
Berikut ini adalah pengendalian umum yang harus terdapat dalam setiap asersi penting investasi.

1)      Keterjadian dan Otorisasi (Occurence and Authorization)
Pengendalian harus memastikan bahwa pembelian dan penjualan investasi diajukan oleh seseorang yang memiliki wewenang. Pertama, klien harus memiliki dokumen yang memadai untuk verifikasi bahwa pembelian atau penjualan efek telah dilakukan dan disetujui dengan layak. Kedua, komitmen atas sumber dana aktivitas investasi harus disetujui oleh dewan komisaris atau oleh eksekutif yang telah diberi wewenang. Entitas yang melakukan aktivitas investasi secara berulang-ulang harus memiliki prosedur umum dan khusus. Jika klien memiliki pengendalian yang layak atas pengajuan investasi dan otorisasi transaksi efek, pada umumnya mudah bagi auditor untuk melakukan verifikasi transaksi efek pada akhir periode.
2)      Kelengkapan (Completeness)
Klien harus memiliki pengendalian yang memadai yang memastikan bahwa seluruh transaksi efek telah dicatat. Salah satu pengendalian untuk penanganan secara rinci seluruh transaksi efek adalah buku besar efek yang mencatat seluruh efek yang mencatat seluruh efek yang dimiliki entitas. Buku besar pembantu harus direkonsiliasi ke akun pengendali buku besar secara periodik. Karyawan yang bertanggung jawab atas aktivitas investasi harus me-review efek-efek yang dimiliki secara periodik, untuk memastikan bahwa seluruh dividen dan bunga telah diterima dan dicatat pada catatan entitas.
3)      Akurasi dan Klasifikasi (Accuracy and Classification)
Masalah akurasi dan klasifikasi terutama berhubungan dengan investasi efek adalah sangat penting. Standar FAS 115 mensyaratkan bahwa investasi tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga kategori sebagai berikut:
a)      Efek utang yang dimaksudkan untuk dimiliki hingga jatuh tempo diklasifikasikan sebagai efek yang dimiliki hingga jatuh tempo (held-to-maturity)dan disajikan sebesar biaya perolehan setelah amortisasi premi atau diskonto.
b)      Efek utang dan ekuitas yang dibeli dan dimiliki dengan tujuan untuk dijual kembali dalam waktu dekat diklasifikasikan sebagai efek yang diperdagangkan (trading securities) dan disajikan sebesar nilai wajar, biaya perolehan setelah dikurangi laba atau rugi yang belum direalisasi.
c)      Efek utang dan ekuitas yang tidak diklasifikasikan sebagai efek yang dimiliki hingga jatuh tempo atau diperdagangkan, diklasifikasikan sebagai efek yang tersedia untuk dijual (available-for-sale-securities) dan disajikan sebesar nilai wajar, di mana laba atau rugi yang belum direalisasi tidak boleh dimasukan penghasilan dan dilaporkan sebagai komponen terpisah dari ekuitas pemegang saham.
Pengendalian harus memastikan bahwa efek-efek telah diklasifikasikan dengan benar dan harga yang tepat telah digunakan agar nilai investasi pada laporan keuangan akurat. Klien harus memiliki prosedur penyimpanan (kustodian) memadai untuk melindungi aktiva dari pencurian.Prosedur pengamatan dilakukan secara periodik oleh seseorang yang independen dari fungsi penyimpanan maupun akuntansi efek.
b.      Prosedur Substantif untuk Menguji Investasi
Prosedur analitis substantif berikut dapat dipakai untuk menguji kewajaran investasi secara menyeluruh:
1)      Perbandingan saldo investasi tahun berjalan dengan saldo tahun sebelumnya setelah mempertimbangkan penagaruh aktivitas operasi dan pendanaan tahun berjalan terhadap kas dan investasi.
2)      Perbandingan pendapatan bunga dan dividen tahun berjalan dengan yang dilaporkan pada tahun sebelumnya dan dengan tingkat pengembalian investasi yang diharapkan.
Standar Audit (SA Seksi 332) memberikan pedoman prosedur audit substantif yang dapat dilakukan auditor untuk mengumpulkan bahan bukti sehubungan dengan pengungkapan asersi investasi.
1)      Keberadaan
Standar audit menyatakan bahwa auditor harus melakukan satu atau lebih prosedur audit berikut:
a)      Inspeksi fisik
b)      Konfirmasi dengan penerbit (issuer)
c)      Konfirmasi dengan kustodian
d)     Konfirmasi dengan pialang mengenai transaksi yang belum diselesaikan.
e)      Konfirmasi dengan pihak imbangan (counterparty)
f)       Membaca perjanjian pelaksanaan kemitraan atau perjanjian sejenis.
Jika klien melakukan penyimpanan efek, auditor biasanya memeriksa efek. Jika efek disimpan oleh penerbit atau kustodian seperti pialang atau penasihat investasi, maka auditor melakukan konfirmasi untuk mendapatkan bukti yang cukup dan kompeten atas asersi keberadaan.
2)      Penilaian dan Alokasi
Pertama-tama, efek yang dibeli dicatat pada biaya perolehan. Efek utang yang dimiliki hingga jatuh tempo dinilai berdasarkan biaya perolehan setelah amortisasi. Auditor harus melakukan verifikasi harga perolehan atas utang, dan tingkat bunga efektif yang akan digunakan untuk mengakui pendapatan bunga, sehingga auditor dapat melakukan perhitungan ulang. Auditor juga harus menilai apakah terdapat penurunan permanen atas nilai efek investasi. Jika nilai investasi ditetapkan telah mengalami penurunan permanen, efek harus dicatat dan nilai buku yang baru harus ditentukan. Terakhir, auditor harus memeriksa penjualan efek untuk memastikan bahwa nilai yang tepat telah digunakan untuk mencatat penjualan dan keuntungan atau kerugian yang direalisasi.
3)      Asersi Pengungkapan
Terdapat dua masalah penting dalam pemeriksaan kelayakan klasifikasi investasi. Pertama, surat berharga yang mudah diperjualbelikan harus diklasifikasikan dalam dimiliki hingga jatuh tempo, diperdagangkan, dan tersedia untuk dijual karena baik neraca maupun laporan laba rugi terpengaruh oleh kesalahan klasifikasi. Kedua, klasifikasi laporan keuangan mensyaratkan bahwa seluruh efek yang diperdagangkan dilaporkan sebagai aktiva lancar. Sedangkan efek yang dimiliki hingga jatuh tempo atau tersedia untuk dijual sebagai aktiva lancar atau tidak lancar tergantung pada apakah manajemen akan mengubah efek tersebut menjadi kas dalam waktu 12 bulan.
Standar audit juga memberikan pedoman kepada auditor dalam melakukan evaluasi baik tujuan manajemen atas investasi maupun kemampuan entitas untuk memiliki efek utang hingga jatuh tempo. FASB 115 mensyaratkan pengungkapan tertentu atas efek. Sebagai contoh, seluruh nilai wajar dan keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi atas efek harus disajikan bagi efek yang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual.
Sebagian besar dari informasi yang diperlukan dalam pengungkapan dikembangkan dari asersi yang diuji. Di samping itu, jumlah efek yang dijaminkan harus diungkapkan. Informasi tersebut dapat dihimpun melalui tanya jawab dengan manajemen serta me-review risalah rapat dewan komisaris, perjanjian pinjaman, dan dokumen lainnya.
»»  Baca Lebih Lanjut...

Audit Proses Pendanaan: Hutang Jangka Panjang


1.      Audit Utang Jangka Panjang

Jenis umum utang jangka panjang meliputi wesel, obligasi, dan hipotek. Jenis pendanaan utang yang lebih rumit meliputi pinjaman hipotek berjaminan, perjanjian beli kembali, dan perjanjian pembelian kembali, swap tingkat bunga, transaksi berjangka keuangan, derivatif, dan instrumen keuangan lainnya.Utang sewa guna usaha yang dikapitalisasi juga menunjukkan suatu bentuk utang jangka panjang. Utang jangka panjang memiliki beberapa fitur yang dapat mempengaruhi prosedur audit yang digunakan. Misalnya, utang bisa dikonversi menjadi saham atau utang tersebut bisa digabungkan dengan surat hak beli saham atau waran, opsi, atau hak yang dapat ditukar dengan saham. Utang bisa ditembus dengan kondisi-kondisi tertentu, atau utang tersebut bisa memerlukan pembentukan dana pelunasan untuk memastikan pelunasannya. Utang bisa dijamin atau tidak dijamin dengan aktiva entitas.
Auditor harus memastikan bahwa jumlah yang tertera pada neraca untuk berbagai jenis utang jangka panjang tidak disalah sajikan secara material. Assurance ini akan diperluas ke pengakuan beban bunga dalam laporan keuangan dengan tepat. Pendekatan untuk audit utang jangka panjang bervariasi tergantung pada frekuensi aktvitas pendanaan entitas. Untuk entitas yang sering melakukan aktivitas pendanaan, auditor bisa mengikuti strategi ketergantungan dimana pengendalian internal dievaluasi dan pengujian pengendalian dilakukan untuk menetapkan risiko pengendalian. Bagi perusahaan akan lebih efisien bagi auditor untuk mengikuti strategi substantif dan melakukan audit terinci atas utang jangka panjang dan akun-akun bunga terkait.

1.1.  Penentuan Risiko Pengendalian Utang Jangka Panjang

Penentuan risiko pengendalian untuk utang jangka panjang berfokus pada jenis umum prosedur yang haru sada untuk meminimalkan kemungkinan salah saji material. Asersi yang menjadi perhatian utama auditor adalah keterjadian, otorisasi, kelengkapan, penilaian, dan pengungkapan klasifikasi. Pemisahan tugas yang tepat merupakan hal penting untuk memastikan ketepatan utang jangka panjang.

1.2.  Prosedur Pengendalian Dan Pengujian Transaksi Utang Jangka Panjang

Terdapat beberapa pengendalian umum yang harus ada untuk kepentingan asersi atas utang jangka panjang, yaitu:


  1. Keterjadian Dan Otorisasi
Entitas harus memiliki pengendalian untuk memastikan bahwa adanya pinjaman jangka panjang secara layak dimulai oleh orang yang memiliki otorisasi. Kecukupan dokumentasi harus memverifikasikan bahwa wesel atau obligasi diotorisasi dengan layak. Adanya kecukupan dokumentasi, memungkinkan auditor untuk menilai bahwa transaksi tersebut telah dilaksanakan dengan tepat atau tidak. Adanya perjanjian utang yang dignifikan harus disetujui oleh dewan komisaris atau oleh eksekutif yang telah didelegasikan wewenang ini. Entitas yang sering melakukan aktivitas peminjaman harus memiliki pengendalain umum atau khusus. Jika direktur keuangan atau eksekutif yang sama bertanggung jawab terhadap pelaksanaan maupun akuntansi transaksi utang jangka panjang, badan eksekutif lainnya harus memberikan review dan persetujuan menyeluruh dalam risalah. Jka klien memiliki pengendalian yang layak atas penerbitan transaksi utang akan lebih mudah bagi auditor menguji transaksi tersebut untuk asersi kelengkapan dan otorisasi pada akhir periode.
  1. Kelengkapan
Klien harus memlihara catatan rinci ynag memadai atas transaksi utang jangka panjang untuk memastikan bahwa seluruh pinjaman dan pembayaran kembali pokok utang serta bunganya dicatat dengan memadai. Satu pendekatan untu menangani transaksi utang terinci adalahmemelihara buku besar pembantu yang berisi informasi mengenai seluruh utang jangka panjangyang dipinjam oleh klien. Jumlah utang yang dicatat dibuu besar pembantu harus direkonsiliasikan ke akun pengendali buku besar umum secara teratur.
  1. Penilaian
Transaksi wesel dan obligasi dicatat dalam catatan akuntansi pada nilai nominalnya ditambah  atu dikurangi adanya premi atau diskonto. Premi atau diskonto harus diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif untuk menghitung beban bunga. Kadang kala entitas menanggung biaya penerbitan seperti biaya penjamin emisi, biaya hukum dan biay akuntansi. Biaya seperti itu harus dicatat sebagai beban yang ditangguhan dan diamortisasi selama umur utang. Isu penilaian untuk investasi pendanaan yang rumit adalah jauh lebih kompleks. Meskipun klien memiliki prosedur pengendalian untuk memastikan bahwa utang jangka panjangdinilai dengan tepat, klien bisa meminta auditor untuk membantu dalam pencatatan utang secara memadai.


  1. Pengungkapan-Klasifikasi
Pengendalian harus memastikan bahwa wesel dan obligasi diklasifikasikan dengan tepat dalam laporan keuangan. Isu utamanya adalah untuk mengklasifikasikan dengan tepat bagian utang jangka panjang yang akan jatuh tempo tahun depan sebagai kewajiban jangka pendek.
Klien harus memiliki prosedur pengamanan yang memadai jika ada wesel atau obligasi yang tidak diterbitkan untuk menghindari kehilangan karena pencurian. Prosedur harus tersedia untuk inspeksi periodik oleh orang yang independen baik mengenai tanggung jawab keamanan maupun akuntansi utang jangka panjang.

1.3.  Prosedur Analisis Substantif Atas Utang Jangka Panjang

Strategi substantif untuk mengaudit utang jangka panjang mencakup pemeriksaan adanya perjanjian utang yang baru, penentuan status perjanjian utang yang lama, dan pengonfirmasian saldo serta informasi relevan lainnya kepada pihak-pihak luar.
Prosedur analitis substantif sangat bermanfaat dalam mengaudit beban bunga dikarenakan hubungan langsung antara tingkat bunga yang disajikan dengan jumlah utang jangka panjang. Auditor dapat mengestimasi beban bunga melalui perkalian saldo 12 bulanan utang jangka panajang dengan rata-rata tingkat bunga. Kewajaran beban bunga dapat ditentukan dengan membandingkan estimasi ini terhadap jumlah beban bunga yang tercatat dalam buku besar. Jika jumlah keduanya tidak berbeda secara material, auditor dapat menyimpulkan bahwa beban bunga disajikan secara wajar.
Umumnya auditor memulai audit utang jangka panjang dengan memperoleh skedul analisis wesel bayar, utang obligasi, dan utang bunga. Skedul tersebut meliputi informasi pihak penerima pemabayaran, tanggal jatuh tempo, tingkat bunga, jumlah dasar, jaminan, dan beban bunga yang dibayar, dan yang masih terutang.
Asersi yang paling penting diuji, yaitu setiap instrumen utang dikonfirmasikan ke kreditor dan mencakup permintaan untuk memverifikasi jumlah yang dipinjam dan tanggal terakhir bunga dibayarkan. Konfirmasi utang dan bunga yang masih harus dibayar memberikan bukti atas asersi keberadaan, kelengkapan, dan penilaian. Jika utang klien dijamin oleh pihak lain, konfirmasi harus dikirim ke penjamin untuk mengkonfirmasikan jaminan tersebut. Auditor juga memeriksa tanggal jatuh tempo utang untuk memastikan klasifikasi yang tepat antara kewajiban lancar dan jangka panjang. Auditor juga memeriksa perjanjian utang untuk adanya perjanjian yang bersifat membatasi yang memerlukan pengungkapan dalam catatan kaki.

2.      Audit Ekuitas Pemegang Saham

Ekuitas pemegang saham meliputi saham biasa, saham preferen, modal yang disetor, dan laba ditahan. Terdapat tiga jenis transaksi utama yang menimbulkan ekuitas pemegang saham:
a.       Penerbitan saham (penjualan saham untuk sejumlah kas; pertukaran saham dengan aktiva, atau utang yang dapat dikonversi; serta penerbitan saham untuk tuuan pemecahan saham).
b.      Pembelian kembali saham (perolehan kembali saham dan penarikan kembali saham).
c.       Pemabayaran dividen (pembayaran dividen kas atau penerbitan dividen saham).

2.1.  Penentuan Risiko Pengendalian Ekuitas Pemegang Saham

Strategi substantif sering digunakan untuk mengaudit ekuitas pemegang saham karena jumlah transaksi yang umumnya sedikit. Meskipun risiko pengendalian kemudian dapat ditentukan pada tingkat maksimum, auditor masih harus memahami jenis-jenis pengendalian yang ditempatkan untuk mencegah salah saji material dalam transaksi ekuitas. Banyak entitas-entitas besar menggunakan pendaftar, agen transfer, dan badan pembayar dividen independen untuk memperoses dan mencatat transaksi ekuitas. Hal tersebut memungkinkan auditor memperoleh bukti yang cukup dengan memberikan informasi yang relevan dengan pihak-pihak tersebut. Jika entitas menggunakan karyawannya sendiri untuk melakukan fungsi transfer saham dan pembayaran dividen, auditor perlu melakukan pengujian yang lebih rinci atas catatan dan transaksi yang terkait dengan saham yang terjadi selama periode audit.   

2.2.  Prosedur Pengendalian Dan Pengujian Transaksi Ekuitas Pemegang Saham

Asersi utama untuk ekuitas pemegang saham:
  1. Verifikasikan bahwa transaksi saham dan dividen sesuai dengan anggaran perusahaan (keterjadian).
  2. Verifikasikan bahwa transaksi saham dan dividen telah dibukukan dan diikhtisarkan dengan tepat dalam catatan akuntansi (akurasi).
  3. Verifikasikan bahwa transaksi saham dan dividen telah disetujui dengan layak (otorisasi).
  4. Verifikasikan bahwa transaksi saham dan dividen telah dinili dengan tepat (valuasi/penilaian).


3.      Audit Akun Modal Saham

Akun modal saham meliputi saham biasa, saham preferen, dan modal disetor. Pada saat mengaudit akun modal saham auditor biasanya dipautkan dengan asersi keterjadian, kelengkapan, penilaian, dan kelengkapan pengungkapan. Auditor memulai audit modal saham dengan memperoleh skedu seluruh aktivitas akun tersebut untukperiode berjalan. Saldo awal dicocokkan dengan kertas kerja tahun lalu dan saldo akhir dicocokkan dengan buku besar umum. Mayoritas pekerjan audit kemudian difokuskan pada aktivitas periode berjalan dalam setiap akun.
Asersi yang berkaitan dengan pengauditan akun modal saham adalah:
  1. Keterjadian dan kelengkapan
Auditor dapat menguji keterjadian transaksi modal saham dengan menelusuri transaksi yang tercatat di tahun berjalan ke risalah dewan komisaris. Jika pendaftar dan agen transfer digunakan oleh entitas, auditor mengonfirmasikan jumlah total saham beredar pada akhir periode. Jika jumlah saham yang terdaftar sebagai saham beredar dalam konfirmasi trsebut sesuai dengan akun modal saham dalam buku besar umum, auditor memiliki bukti bahwa jumlah total saham yang beredar pada akhir periode adalah benar. Jika entitas tidak menggunakan agen luar, entitas akan memelihara catatan saham dan/atau buku sertifikat saham. Auditor dapat melakukan pengujian berikut ini:
1)      Telusuri transfer saham antarpemegang saham dengan catatan saham dan/atau buku sertifikat saham (akurasi dan kelengkapan).
2)      Jumlah kan ke bawah saham yang beredar dalam catatan saham dan/atau buku sertifikat saham dan cocokkan jumlahnya dengan total saham yang beredar di akun modal saham dalam buku besar umum (kelengkapan).
3)      Periksa adanya sertifikat saham yang dibatalkan  (keterjadian).
4)      Pertanggungjawaban dan periksa adanya sertifikat saham yang tidak diterbitkan dalam buku sertifikat saham (kelengkapan).
  1. Penilaian
Jika modal saham diterbitkan utuk memperoleh kas, penentuan penilaian yang tepat adalah hal yang mudah. Nilai pari atau nilai nnominal untuk saham yang diterbitkan dialokasikan ke akun modal saham masing-masing, sedangkan selisih antara harga dan nilai pari atau nilai nominal dialokasikan ke modal disetor.  Auditor dapat menghitung kembali nilai yang dialokasikan ke setiap transaksi, dan hasil penjualan saham bisanya dapat ditelusuri ke catatan penerimaan kas. Isu penilaian menjadi lebih kompleks ketika modal saham diterbitkan untuk ditukar dengan aktiva atau jasa, untuk merger atau akuisisi, untuk sekuritas yang dapat dikonversi, atau untuk dividen saham. Nilai pasar yang wajar dari dividen saham dibebankan ke laba ditahan dan dikreditkan ke saha biasa dan modal disetor. Untuk menguji penilain, auditor dapat menghitung kembali dividen saham dan menelusuri jurnalnya ke buku besar umum.
  1. Kelengkapan Pengungkapan
Jumlah pengungkapan penting sering kali diperlukan untuk ekuitas pemegang saham. Biasanya informasi ini bersumber dari anggaran dasar perusahaan, risalah rapat dewan komisaris, dan perjanjian kontrak.

4.      Audit Dividen

Audit dividen berhubungan dengan pelanggaran anggran rumah tangga perusahaan atau perjanjian utang. Jika entitas menggunakan badan pembayar dividen, auditor dapat mengonfirmasikan jumlah yang dibayar ke badan tersebut oleh entitas. Jumlah tersebut dicocokkan dengan jumlah yang diotorisasi oleh dewan komisaris. Auditor dapat menghitung kembali jumlah dividen melalui perkalian jumlah saham yang beredar pada tanggal pencatatan dengan jumlah dividen per lembar sahamyang disetujui oleh dewan komisaris. Jumlah tersebut harus cocok dengan jumlah yang dibayarkan dan yang masih harus terutang ke pemegang saham pada akhir periode. Jika auditor disangkutkan mengenai pengendalian klien atas pembayaran dividen, auditor dapat menguji nama-nama pihak penerima pembayaran serta jumlah pada cek yang dibatalkan dengan catatan saham atau buku sertifikat saham.

5.      Audit Laba Ditahan

Auditor memulai audit laba ditahan dengan memperoleh skedul aktivitas akun tersebut untuk periode berjalan. Saldo awal dicocokkan dengan kertas kerja dan laporan keuangan tahun lalu. Laba atau rugi bersih dapat ditelususri ke laporan laba rugi. Jumlah dividen kas atau dividen saham dapat diverifikasikan dengan cara seperti pada audit dividen. Jika terdapat penyesuaian-penyesuaian periode lalu, auditro harus memastikan bahwa transaksi tersebut memenuhi persyaratan standar akuntansi yang relevan. Adanya pencadangan baru atau perubahan dalam pencadangan yang sudah ada harus ditelusuri ke perjanjian kontrak yang mensyaratkan pencadangan tersebut. Terakhir, auditor harus memastikan bahwa seluruh pengungkapan yang diperlukan terkait dengan laba ditahan telah dilakukan dalam catatan kaki.

6.      Audit Akun-Akun Laporan Laba Rugi

Dalam audit akun laporan laba rugi, auditor harus diyakinkan bahwa akun-akun pendapatan dan beban tidak disalah sajikan secara material dan bahwa akun tersebut dipertanggungjawabkan sesuai dengan GAAP. Laporan laba rugi merupakan sumber informasi penting oleh berbagai pengguna laporan keuangan. Audit akun pendapatan dan beban tergantung pada luasnya pekerjaan yang dilakukan oleh auditor atas sistem pengendalian entitas dan akun-akun neraca. Audit laporan laba rugi mencakup pertimbangan hasil pekerjaan audit yang dilakukan di bagian audit lainnya dan penyelesaian prosedur substantif tambahan pada akun-akun laporan laba rugi terpilih, meliputi hal-hal berikut:
a.       Hasil pengujian pengendalian untuk berbagai proses bisnis.
b.      Hasil pengujian rinci atas akun-akun neraca dan akun-akun laporan laba rugi terkait.
c.       Kinerja prosedur analitis substantif pada akun-akun laporan laba rugi.
d.      Pengujian rinci atas akun-akun laporan laba rugi terpilih.

6.1.  Penentuan Risiko Pengendalian Untuk Proses Bisnis

Pemahaman yang lebih baik mengenai pengaruh pengurangan penentuan risiko pengendalian pada audit akun pendapatan dan beban, pertimbangan akun-akun laporan laba rugi yang dipengaruhi oleh proses bisnis pendapatan dan pembelian. Misalnya, pengurangan penentuan risiko pengendalian untuk proses pendapatan memberikan bukti bahwa penjualan, piutang usaha, akun cadangan piutang tak tertagih, serta akun retur penjualan cadangan tidak disalahsajikan secara material. Pengurangan penentuan risiko pengendalian untuk persediaan, aktiva tetap, utang usaha, dan sebagian besar akun beban tidak disalahsajikan secara material. Hal penting dalam hal ini adalah bahwa auditor telah memiliki bukti yang dapat diandalkan atas akun yang tercakup dalam laporan laba rugi.

6.2.  Pengujian Langsung Atas Akun-akun Neraca

Akun-akun neraca laba rugi bisanya diaudir selam mengaudit akun-akun neraca terkait. Misalnya pada saat akun cadangan piutang tak tertagih diaudit, beban piutang tak tertagih juga diaudit.

6.3.  Prosedur Analitis Substantif

Prosedur analitis substantif dapat digunakan secara luas utuk menguji akun pendapatan dan beban. Salah satu jenis prosedur analitis substantif mencakup membandingkan jumlah dolar tahun berjalan untuk setiap akun pendapatan dan beban dengan saldo tahun lalu. Prosedur analitis substantif dirancang untuk memberikan bukti terkait dengan kewajaran akun pendapatan atau laba rugi lainnya yang dilakukan pada tingkat yang dipecah-pecah seperlunya untuk mendeteksi potensi salah saji. Meskipun secara relatif persentase salah saji adalah kecil dalam akun laporan laba rugi yang besar, hal itu sering kali material sehingga diperlukan prosedur analisi substantif yang tepat. Prosedur analitis substantif juga dapat digunakan untuk memberikan bukti atas akun pendapatan dan beban tertentu.

6.4.  Pengujian Atas Saldo Akun Terpilih

Meski auditor telah memperoleh bukti yang diperlukan atas akun pendapaan dan beban dengan prosedur analitis, mungkin auditor ingin melakukan pengujian lebih lanjut untuk akun-akun tertentu. Auditor akan menganalisis secara rinci transaksi yang tercakup dalam masing-masing akun. Auditor memverifikasi transaksi dengan memeriksa dokumentasi yang mendukung. Akun yang diperiksa dengan cara ini biasanya akun yang tidak secara langsung dipengaruhi oleh proses bisnis, akun yang berisi informasi sensitif atau transaksi tidak biasa, akun dimana informasi rinci diperlukan untuk SPT atau skedul lain yang termasuk dalam laporan keuangan. Misalnya akun beban hukum dan audit, beban perjalanan dan beban entertain, beban sumbangan, pendpatan dan beban lain-lain, serta akun yang berisi transaksi dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa.
»»  Baca Lebih Lanjut...

Posting Kami